
Hanya beberapa langkah saja, rumah Ibu Arum sudah terlihat. Sedangkan Savan tengah berada di gendongan Vando.
Aditya sendiri tidak mempermasalahkannya, lantaran sudah mengenali Vando.
"Mana rumah kamu, Savan?" tanya Vando sambil berjalan, juga menggendong Savan layaknya anak sendiri.
Ingatannya kembali dengan Liyan, dan juga memikirkannya.
"Itu, Paman. Depan rumahnya ada pohon mangganya." Jawab Savan sambil menunjuk.
Vando mengangguk sambil berjalan, dan sampai juga di depan rumahnya ibu Arum. Kemudian, Vando segera menurunkan Savan dari gendongannya.
Saat itu juga, Ibu Arum segera keluar karena mendengar suara ada orang yang datang.
"Nenek...!" teriak Savan yang langsung mendekati Ibu Arum.
"Savan, akhirnya kamu sudah pulang dengan selamat, Nak. Bundanya Savan sangat khawatir sama kamu, Nak." Ucap Ibu Arum yang tengah memeluknya dengan erat.
"Savan pulangnya bareng Paman ganteng, Nek. Itu, Paman gantengnya." Jawab Savan dan menoleh ke belakang, juga menunjuk dengan jari telunjuknya.
"Savan. Savan putraku." Gumamnya yang tengah mendengar ada suara yang cukup ramai di depan rumah, ia berusaha bangkit dan melihatnya, lantaran khawatir dengan putranya yang belum juga pulang.
"Savan! Savan." Panggil Liyan dari dalam kamar.
Savan yang mendengar namanya dipanggil, langsung bergegas menemui ibundanya.
"Bunda! Bubun...!" teriak Savan memanggil ibunya.
Saat itu juga, Liyan langsung memeluk putranya. Sedangkan Aditya dan Vando masih di depan rumah, dan Aditya dan Ibu Arum mengajaknya masuk kedalam.
"Bunda, Savan dapat hadiah baru dari Paman ganteng. Itu Paman gantengnya." Ucap Savan menunjukkan hadiah yang dibelikan oleh Vando. Juga, menunjuk ke arah luar rumah.
__ADS_1
Tanpa menoleh sama sekali, Liyan langsung merebut mainan dan membuangnya keluar hingga mengenai Vando.
BUG!
Vando sangat terkejut saat hendak melangkah, namun tiba-tiba ada melemparkan sesuatu pada dirinya, ternyata mainan yang ia beli untuk Savan.
Liyan begitu kesal menatap putranya.
"Kamu ini lebih penting dengan mainan dari orang, dari pada sama Bunda kamu ini yang khawatir, ha!" Bentak Liyan bercampur emosi dan juga khawatir pastinya.
Saat itu juga, Aditya dan Vando, Ibu Arum langsung mendekatinya.
"Maaf. Saya yang salah. Jangan marahin Savan, dia tidak bersalah, tetapi marah lah dengan saya saja." Ucap Vando merasa bersalah saat kedengaran kalau Savan dimarahi ibunya, dan langsung meminta maaf sambil berlari untuk masuk ke dalam rumah.
Liyan yang sudah emosi duluan, langsung memutarbalikkan badan.
Seketika, keduanya melotot satu sama lain karena sangat terkejut ketika kembali dipertemukan setelah sekian lamanya sudah beberapa tahun.
"Vav-Vando."
Berasa tak berdaya ketika dipertemukan kembali. Aditya maupun Ibu Arum, juga Yena yang baru saja pulang, pun dibuatnya kaget ketika Vando dan Liyan gak tahunya sama-sama mengenalinya.
Dengan reflek, Liyan langsung memeluk putranya, terasa takut jika Savan direbut oleh Vando.
Vando yang seperti mimpi, langsung mendekati. Tanpa peduli, ia langsung memeluknya.
"Liyan. Akhirnya aku menemukanmu. Aku sangat merindukanmu, Liyan." Ucap Vando sambil memeluknya dengan erat.
Sedangkan Aditya dan Ibu Arum, juga Yena, mereka bertiga juga melotot saat mendengar ucapan dari Vando.
"Lep-lepaskan. Aku tidak bisa bernapas." Pinta Liyan berusaha untuk berlepas diri dari Vando.
__ADS_1
Vando sendiri langsung melepasnya.
"Pergi! pergi sekarang juga dari hadapanku. Aku muak melihatmu. Pergi, aku benci kamu. Cepat! kamu pergi." Bentak Liyan kepada Vando, juga langsung menangis sesenggukan.
Ibu Arum langsung memeluknya untuk memberi ketenangan. Juga, Aditya menarik tangan Savan agar tidak menjadi sasaran.
"Ada apa ini? siapa kamu?" tanya Ibu Arum kepada Vando.
"Pergi! pergi sekarang juga."
Liyan kembali memaki, dan mengusir Vando.
"Liy, aku Vando. Aku mencarimu dari awal kita bertemu terakhir kalinya. Aku mau bertanggung jawab atas perbuatan ku padamu. Tapi, ayah mu tidak mau memaafkan aku. Juga, memintaku untuk tidak mencarimu. Tetap saja, aku tidak menemukan keberadaan kamu, Liy." Ucap Vando berbicara apa adanya.
"Bohong! kamu pembohong. Aku gak percaya sama kamu, pergi! sekarang juga."
Liyan masih terus membentak, dan tidak mempercayai omongan dari Vando. Meski dia terkadang merindukannya. Namun, ketika dipertemukan, justru rasa benci yang muncul dalam pikirannya.
Malas berdebat, Liyan langsung menyambar tangannya Savan. Kemudian, Liyan memilih mengajaknya pergi dengan cepat.
"Liy! Liyan! tunggu, kamu mau pergi kemana?!"
Aditya bersama Vando dan Yena, kini tengah mengejar Liyan yang membawa Savan pergi.
"Bunda, Savan capek. Bunda, kita mau kemana?"
Savan terus merengek hingga tidak terasa sudah sampai di jalan raya.
"Liyan! Liy! berhenti!" teriak Vando sambil berlari.
Liyan yang fisiknya masih lemah, tidak peduli jika harus tertatih-tatih jalannya dengan napas yang terasa sesak.
__ADS_1