
Saat Devan sudah keluar, Liyan bingung harus bicara apa. Gugup, salah tingkah, itu pasti.
"Kamu kenapa, Liy? apa kamu masih ingin bertahan dengan pernikahan kamu? jawab saja dengan jujur. Atau mungkin saja lelaki yang bernama Aditya itu yang sebenarnya kamu sukai, iya kah?"
Liyan yang mendapat pertanyaan dari Vando, menggelengkan kepalanya. Tidak tahu harus menjawabnya apa, Liyan benar-benar dilema ketika di hadapkan oleh tiga lelaki sekaligus, pilihan yang sulit karena tidak hanya memikirkan egonya, namun ada anak yang membutuhkan perhatian dan juga pengakuan, pikirnya.
"Aku tidak ingin mempertahankan pernikahan ku dengannya, karena memang aku sudah menolak dari awal. Juga, aku sudah ada Savan dan kamu. Jadi, aku tidak memikirkan Kak Devan ataupun Aditya."
"Yakin kamu mau menerima ku?" tanya Vando penasaran, meski dirinya ada rasa curiga akan perasaan dari Liyan.
Namun, sebisa mungkin untuk berpikir positif dan tidak berprasangka buruk, pikirnya.
Liyan mengangguk.
__ADS_1
"Iya. Aku akan menerima mu." Jawab Liyan sedikit canggung dan terasa kaku saat berbicara dengan Vando.
Vando meraih tangan miliknya Liyan, dan mengusapnya dengan lembut.
"Terima kasih, Liy. Aku janji, aku akan membahagiakan kamu dan Savan. Juga, aku tidak akan menyia-nyiakan kalian berdua." Ucap Vando dan mencium punggung tangannya.
Liyan sendiri tersenyum tipis, terasa canggung dan malu.
"Ekhem. Yang lagi kasmaran, cie..." Ledek Zavan yang baru saja masuk bersama kedua orang tuanya, dan juga Aditya yang tentu saja mengagetkan mereka berdua.
Sekian lama tinggal bersama tanpa adanya status, Aditya selalu bersabar untuk diterima cintanya. Namun apa yang didapatkannya? kekecewaan dan patah hati.
Ibu Arum yang tidak tega melihat nasib yang diterima oleh Aditya, pun masuk kedalam dan mengajaknya untuk keluar. Sedangkan yang lainnya tengah menemui Vando dan Liyan.
__ADS_1
"Bude, ada apa?" tanya Aditya saat sudah keluar dari ruang rawat pasien.
"Lupakan Liyan, Nak. Mungkin memang benar, kalau kamu dan Liyan tidaklah berjodoh. Liyan sudah memilih ayah dari Savan, bukan? kamu yang sabar ya, Nak. Percayalah sama Bude, di luaran sana masih ada banyak wanita yang menjadi pilihan kamu."
Aditya tertunduk dan membuang napasnya dengan kasar.
"Aku tidak tahu, Bude. Sepertinya sulit untuk melupakan wanita yang sudah aku cintai. Aku tahu kalau Liyan bakal memilih Vando karena Savan. Tapi, apa aku salah jika aku ingin bertahan dengan perasaanku, Bude?"
"Salah. Salah besar kalau mereka saling mencintai satu sama lain. Akan menjadi benar kalau Liyan menderita dengan pernikahannya. Tapi, resiko juga besar untukmu. Jadi, pikirkan baik-baik. Kamu tidak hanya bersaing dengan ayah biologisnya Savan, tetapi lelaki satunya yang statusnya masih suami Nak Liyan."
"Aku mau menetap di kota, Bude. Aku akan meneruskan karirnya Papa. Juga, agar aku bisa mengawasi Liyan. Apapun caranya, aku tidak ingin jauh dari Liyan, Bude. Entah kenapa, kalau Liyan akan menjadi milikku."
"Kamu yakin kalau Liyan akan menjadi milikmu? kalau akhirnya kamu kecewa, bagaimana? Bude tidak ingin kamu kecewa dan hidupmu hanya untuk hal yang akan menyakitimu, Dit."
__ADS_1
"Bude tenang saja. Bude tidak perlu khawatir, Aditya tidak akan melakukan hal bo_doh di luar nalar." Kata Aditya yang tetap bersikukuh untuk mendapatkan Liyan, meski harus berakhir dengan kekecewaan.