
Setiap harinya dijalani seperti hari hari biasa, yakni dengan kesibukannya masing-masing, dan terus seperti itu dan sama seperti hari hari yang dilewatinya.
Pagi hari, tiba-tiba Liyan mendadak tidak enak badan. Suhu badannya cukup tinggi, dan tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasanya.
"Kamu demam? aku antar kamu berobat ya, hari ini kamu gak usah berangkat kerja. Biar Yena yang akan antar Savan ke sekolah." Ucap Aditya.
"Ya Nak Liyan, biar diantar Aditya ke dokter. Jangan abaikan kesehatan kamu. Kasihan Savan kalau melihat ibunya sakit." Timpal ibu Arum mengingatkan.
"Iya, Bu." Jawab Liyan yang akhirnya mengiyakan.
"Bunda, Bubun sakit ya? nanti setelah pulang sekolah, nanti Savan pijitin Bunda. Savan berangkat sekolah dulu ya, Bun." Ucap Savan dan mencium pipi kedua ibunya.
Liyan mencoba untuk tersenyum demi putra kesayangannya. Setelah itu, Savan berangkat ke sekolah diantar Yena. Sedangkan Liyan sendiri bersiap-siap untuk berangkat berobat.
Dengan penuh perhatian, Aditya memperlakukan Liyan seperti layaknya istrinya sendiri.
Saat sedang mengantri nomor urut, Liyan mendadak kedinginan. Aditya yang tidak ingin terjadi sesuatu pada Liyan, segera memeluknya.
"Lepasin, Dit. Kita bukan suami istri, malu dilihat orang." Ucap Liyan yang berusaha untuk berlepas diri dari pelukannya Aditya.
"Buang rasa malumu itu, abaikan saja. Juga, tidak perlu kamu hiraukan jika ada memergoki kita. Kesehatan kamu jauh lebih penting daripada harus menanggapi omongan omongan orang lain." Jawab Aditya yang tetap memeluk Liyan.
__ADS_1
Karena badan terasa dingin, Liyan tidak bisa berbuat apa-apa selain terpaksa.
Tidak terasa juga, akhirnya gilirannya Liyan untuk masuk ke ruang pemeriksaan. Setelah semuanya sudah dicek dan dilakukan pemeriksaan atas sakitnya, Liyan diminta untuk menebus obat. Tentu saja, semua biaya ditanggung oleh Aditya.
"Aku jadi gak enak, Dit. Perasaan aku merepotkan kamu terus. Enggak soal Savan, juga aku sendiri. Makasih banyak ya, Dit. Juga, minta maaf karena terus-terusan selalu ngerepotin kamu. Nanti akan aku ganti setelah aku gajian." Ucap Liyan merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, kita kan harus saling tolong menolong satu sama lain. Yang terpenting hasil kerjaku bermanfaat untuk orang yang membutuhkan, juga tidak akan aku minta lagi. Asal kebutuhan kamu tercukupi, itu sudah lebih dari cukup buatku." Jawab Aditya sambil berjalan beriring, hingga tidak sadar sudah sampai di parkiran.
"Kamu mau beli apa? siapa tahu kamu ingin beli makanan yang panas, yang seger, buah maksudnya."
"Aku lagi gak pingin apa-apa, buah aja cukup. Tapi belinya jangan pakai yang kamu, aku bawa uang kok."
"Perasaan kamu sering banget bolos kerja deh. Tapi, kenapa gak pernah dapat teguran ya? oh iya, pegawai lama, lebih senior dariku. Sampai lupa akunya."
"Hem. Aku udah minta izin, juga gaji ku yang dipotong. Jadi, gak masalah buat ku. Yang terpenting, aku gak kerja ada manfaatnya." Kata Aditya yang kini sudah duduk di jok motor.
"Ya deh, iya, suhunya."
"Mulai nih ya, mulai." Ucap Aditya sambil mengajak Liyan untuk bersenda gurau.
Liyan yang tadinya terlihat lesu, kini mulai terlihat sumringah meski fisiknya belum sehat total.
__ADS_1
Cukup memakan waktu beberapa menit dalam perjalanan karena harus membeli buah terlebih dulu, akhirnya sampai juga di depan rumah.
Liyan segera masuk kedalam, dan meminum obatnya. Kemudian setelah itu, Liyan memilih untuk istirahat. Sedangkan Aditya yang tidak berangkat kerja, memilih membantu ibu Arum untuk membersihkan halaman belakang.
"Gimana dengan Nak Liyan, Dit? apakah sudah minum obatnya?" tanya ibu Arum disela-sela tengah menyapu dedaunan dibawah pohon mangga.
"Keadaan Liyan masih lemah, Bude. Sepertinya dia kecapean, juga banyak pikiran keknya, Bude. Soalnya dari kemarin-kemarin itu, dia banyak melamun. Juga, dia seperti merindukan keluarganya." Jawab Aditya dengan apa yang diketahui.
Ibu Arum duduk di dekat pohon kelapa, Aditya pun ikut duduk.
"Mungkin sudah waktunya untuk kamu mengantarkan pulang Nak Liyan dan Savan ke kota. Juga, mau sampai kapan kamu akan terus seperti ini, Nak Adit? Kamu sudah dewasa, tidak perlu menutupi identitas kamu. Sudah saatnya juga, kamu memberi keputusan untuk diri kamu sendiri." Ucap Ibu Arum memberi nasehat kecil kepada Aditya.
"Tapi, Bude. Aku tidak mempunyai keberanian. Mungkin masa kelam ku dimasa kecil membuatku trauma, hingga sulit untuk menunjukkan jati diri." Jawab Aditya tidak bersemangat.
"Kamu dan Nak Liyan mempunyai masalah yang berbeda. Mungkin saja, kamu dipertemukan dengan Liyan, memang untuk ditakdirkan bersama. Kalaupun Nak Liyan memilih ayah dari Savan, itu haknya. Kamu tidak perlu memaksakan untuk menjadi milikmu." Ucap ibu Arum menasehatinya.
"Iya, Bude. Aku ngerti kemana arah yang Bude bicarakan, aku akan mencobanya. Terima kasih ya, Bude, sudah mau dijadikan tempat tinggal untukku. Semoga kebaikan Bude selalu mendapat keberkahan." Jawab Aditya berusaha untuk tetap terlihat tenang.
"Ya sudah, sekarang kamu bantu Bude untuk membuang sampah dedaunan. Mumpung lagi panas, jadi tidak lengket di tanah." Ucap Ibu Arum.
Aditya mengiyakan, dan membantu ibu Arum untuk membuang sampah dedaunan yang cukup banyak, karena pohon buahnya tidak hanya satu batang, melainkan ada beberapa batang pohon beraneka macam-macam buah-buahan.
__ADS_1