Usai Pernikahan

Usai Pernikahan
Kebersamaan


__ADS_3

Di rumah Ibu Arum. Liyan yang baru saja selesai membereskan kamar tidur yang ditempati Vando, segera membawa pakaian kotor untuk dicuci.


"Gak usah, Liy. Biar aku yang cuci bajuku. Kamu gak usah repot-repot nyuci pakaianku." Ucap Vando yang tidak ingin merepotkan.


"Tidak apa-apa, aku bisa melakukannya. Lagi pula cuma satu stel doang, gak banyak. Sini, biar aku yang cuci." Jawab Liyan yang langsung menyambar pakaian kotor miliknya Vando.


Tidak bisa menahannya, Vando akhirnya menyerah.


"Baiklah. Kalau kamu masih tetap memaksa, aku tidak akan menolak. Kalau kamu capek, ngomong saja sama aku. Nanti aku bantuin kamu mencuci baju." Ucap Vando.


Liyan mengangguk dan tersenyum. Namun, tiba-tiba ia ingat dengan kondisi Aditya yang masih lemah. Tentu saja membutuhkan istirahat yang cukup.


"Maaf. Aku ingin berbicara sebentar saja denganmu." Ucap Liyan sedikit ada rasa takut.


"Iya, kenapa?"


"Aku nyuci bajunya Aditya, gimana? dia sakit, Yena lagi nyiapin sarapan pagi."


Vando yang mendengar pertanyaan dari Liyan, hatinya kembali terbakar oleh api cemburu.


"Biar aku yang mencuci bajunya Aditya. Lebih baik kamu cuci baju kamu sendiri, kalau kamu keberatan, biar aku sekalian yang cuci bajuku." Jawab Vando kembali cemburu.


"Gak perlu, kamu cuci saja bajunya Aditya. Maaf, sudah membuatmu kesal, dan juga membuat mu cemburu. Ya udah ya, aku mau ke belakang." Ucap Liyan, dan ia bergegas untuk mencuci baju.


"Iya, Liy. Aku memang cemburu. Gak cuma itu, aku juga takut kehilangan kamu. Aku takut gagal menikah seperti yang pernah aku alami. Makanya itu, aku ingin kita segera menikah." Gumam Vando yang takut kehilangan orang yang dicintainya.


Cukup sudah ia pernah merasakan sakit hati dan kecewa, Vando tidak ingin mengalami hal yang sama, yakni kedua kalinya.


Karena tidak ada kegiatannya, Vando masuk ke kamar Aditya untuk mengambil baju kotor.


"Permisi. Maaf, sudah mengganggu." Ucap Vando saat masuk ke kamar Aditya.


"Ada apa?" tanya Aditya.


"Mau ambil baju kotor milikmu. Mau aku cuci, dimana baju kotornya?"


"Gak perlu. Nanti aku juga sembuh. Terima kasih sebelumnya. Kamu boleh keluar, karena aku sedang tidak ingin diganggu." Ucap Aditya mengusir.


Bukannya pergi, justru Vando mendekatinya.


"Kamu kenapa, marah denganku? oh, pasti soal Liyan."

__ADS_1


"Sudah aku bilang, aku sedang tidak ingin diganggu. Aku ingin istirahat. Jadi, keluar dari kamarku sekarang juga."


"Baik. Aku akan keluar dari kamar mu ini, juga sekalian aku dan Liyan, juga Savan, kami bertiga akan meninggalkan kampung ini. Jadi, kamu mempunyai cukup banyak untuk istirahat, juga melupakan Liyan." Ucap Vando, dan langsung pergi dari hadapannya Aditya.


"Kau! lihat saja Vando, Liyan akan menjadi milikku."


Dengan kekesalannya, Aditya tidak terima atas apa yang diucapkan oleh Vando.


Sedangkan Vando sendiri memilih untuk pergi ke belakang, yakni menemani Liyan mencuci baju.


"Ayah." Panggil Savan pada Vando.


Saat itu juga, Vando langsung menoleh ke belakang. Detak jantungnya berdegup saat mendengar Savan memanggil dirinya.


Savan langsung memutarbalikkan badannya, dan mendekati putranya.


"Jagoan Ayah udah bangun rupanya. Gimana semalam, nyenyak tidurnya."


Savan mengangguk.


"Bunda dimana, Ayah?" tanya Savan sambil celingukan.


"Bunda lagi cuci baju. Savan gak cuci muka dulu nih? tuh, lihat, belum cuci muka, 'kan?"


"Sekalian mandi ya, biar badannya terasa segar. Ayo, Ayah temani Savan mandi." Ucap Vando terasa sedikit kaku, lantaran dirinya belum terbiasa bersama putranya.


"Asik... mandinya bareng Ayah."


Dengan girang, Savan terlihat bahagia. Tidak seperti sebelumnya, setiap bangun tidur, yang dicari sosok ayahnya. Meski Aditya telah memberi perhatian penuh kepada Savan, tetap saja terasa berbeda, karena yang dirindukan Savan adalah seorang ayah kandungnya sendiri.


Vando segera mengambil handuk, dan mengajak putranya untuk mandi.


"Aunty lagi ngapain?" tanya Savan yang sudah berdiri di sebelah Yena.


"Lagi membuat kue bolen sama bubur kacang ijo. Savan belum mandi ya? bau."


"Savan kan, baru bangun. Aunty juga belum mandi tuh, baju yang semalam masih Aunty pake." Balas Savan sambil menutup hidungnya, yakni sengaja meledek Yena.


Yena yang selalu berdebat dengan Savan yang sudah seperti dengan keponakannya sendiri, pun tak kalah dari Savan sambil berkacak pinggang.


"Sudah, sudah. Kamu ini bukan anak kecil lagi, masa mau berantem sama Savan. Udah buruan kamu selesaikan dulu masak buburnya. Kasihan Aditya, mungkin sudah menunggu, dan juga waktunya untuk minum obat."

__ADS_1


"Aunty, Aunty."


"Apa?"


"Kasihan, kasihan, kena marah sama Nenek. Weeeeek." Ledek Savan sambil goyang pinggul ketika meledek Yena.


"Savan! awas kamu ya."


"Sudah. Sama keponakan sendiri juga." Ucap Ibu Arum.


Savan langsung berlari ke kamar mandi, yakni menghindari kejaran dari Yena.


Vando mendekati ibu Arum sama Yena.


"Maafin Savan ya, jika bersikap tidak sopan." Ucap Vando merasa tidak enak hati ketika putranya membuat ulah yang kurang sopan, pikirnya.


"Tidak apa-apa, gak masalah. Savan sama aku memang begitu, sudah menjadi kebiasaan kita berdua. Aku menyayanginya, seperti keponakan aku sendiri. Tidak perlu sungkan, Savan dan Liyan sudah aku anggap bagian keluargaku." Jawab Yena meyakinkan Vando.


"Terima kasih banyak sudah menjadikan Liyan dan Savan bagian keluarga kalian." Ucap Vando.


"Kamu tidak perlu sungkan, kamu juga kami anggap bagian keluarga kami. Jadi, kamu gak perlu merasa tidak enak hati." Timpal ibu Arum.


Vando tersenyum.


"Terima kasih. Kalau begitu saya mau ke kamar mandi, bantu Savan mandi, permisi."


Ibu Arum mengangguk. Kemudian, Vando segera ke belakang. Rupanya ia melihat Liyan sedang mencuci baju, Vando menghampirinya.


"Lagi cuci baju ya, perlu bantuan?"


Liyan kaget dibuatnya, ia langsung menoleh.


"Kamu, ngagetin saja. Bentar lagi aku selesai kok. Jadi gak perlu dibantuin."


"Makasih ya. Setelah di kota nanti, aku gak akan membiarkan kamu kecapean. Oh ya, Savan mana? kok gak kedengaran ada di kamar mandi."


"Itu, lihat. Savan lagi mandi di belakang, sambil berendam di ruang bebas. Katanya biar bisa lihat langit, dan udaranya alami."


"Ayah! ke sini. Savan lagi mandi, ayo Ayah, kita mandi bareng. Bunda! ayo ikutan bermain." Teriak Savan yang ada di luar.


Liyan yang mendengar teriakan dari Savan, pun menggelengkan kepalanya. Saat itu juga, Vando langsung menarik tangannya Liyan, dan mengajaknya ke belakang rumah untuk bermain sama putranya.

__ADS_1


"Ayah, Bunda, ayo." Ajak Savan sambil menepuk air di kolam miliknya Savan untuk bermain.


Vando langsung menoleh ke arah Liyan, seolah meminta jawaban untuk putranya. Kemudian, Vando juga memberi kode dengan senyumnya, dan kode dari kedua matanya.


__ADS_2