
Selesai makan malam bersama, Liyan bersama Yena tengah membereskan ruang makan dan juga dapur.
Aditya yang sudah menjadi kebiasaannya membantu Liyan di dapur, pun bergegas ke dapur. Sedangkan Vando tengah bersama putranya main dengan mainan yang Savan punya.
Tidak peduli dengan siapapun, Aditya mendekati Liyan seperti yang sudah menjadi kebiasaannya.
"Sini, biar aku bantu." Ucap Aditya sambil meraih piring dan gelas maupun yang lainnya yang sudah dicuci bersih oleh Liyan.
"Gak usah, biar aku aja. Jugaan ada Yena, aku pun bisa melakukannya." Jawab Liyan menolak.
Aditya yang terbayang-bayang jika Liyan pergi, terasa berat untuk berpisah. Saat itu juga, Aditya meraih tangan Liyan.
"Liy, kamu serius mau pulang ke kota?" tanya Aditya sambil memegangi tangannya.
Liyan yang tidak ingin ketahuan Vando da menambah masalah, langsung melepaskan tangannya.
"Maaf, Dit, aku harus beres-beres, terus aku mau mandi, badanku gerah, soalnya tadi sore belum sempat mandi. Maaf, silakan keluar dari dapur." Jawab Liyan yang tidak ingin ada salah paham dan menambah masalah, pikirnya.
Aditya menatapnya seolah tidak ingin mengalihkan penglihatannya dari Liyan, perempuan yang sudah membuatnya jatuh cinta, juga tidak ingin melepaskan perasaannya.
__ADS_1
Vando sendiri masih bermain bersama Savan, dan terlihat jelas jika mereka berdua sangat dekat. Mungkin karena ada ikatan darah, mereka mudah untuk mengenal, dan keduanya terlihat bahagia.
Liyan yang tengah memperhatikan Savan bersama Vando, pun tersenyum melihat putranya terlihat tengah bahagia bersama ayah kandungnya.
Saat itu juga, Savan menoleh tanpa sengaja, dan melihat ibundanya yang hendak masuk ke kamar. Dengan cepat, Savan langsung mengejar bundanya.
"Bunda, berhenti."
Savan langsung merentangkan kedua tangannya sengaja untuk menghalangi ibundanya.
"Savan. Kenapa, sayang?" tanya Liyan yang langsung berjongkok.
"Savan pingin ditemani Bunda sama Ayah. Ayo Bunda, temani Savan main robot." Ajak Savan sambil menarik tangan bundanya.
Dipojok ruangan, ada Aditya yang selalu memperhatikannya, juga terlihat seperti sedang mengawasi. Rasa cemburunya semakin besar, tidak ingin rasanya jika Liyan menjadi istri orang lain. Namun, apa yang bisa ia lakukan? Aditya hanya bisa menerimanya kekecewaan dan sakit hati ketika harus ditolak cintanya.
"Bunda belum mandi, sayang. Nih dicium, bau asem 'kan?"
Karena penasaran, Savan mencium ibunya. Dengan sengaja untuk membuat bundanya tertawa, Savan langsung menunjukkan ekspresinya.
__ADS_1
"Ih Bunda, bau asem. Bunda belum mandi sih, baunya." Kata Savan sambil mundur beberapa langkah dari jarak ibundanya.
Vando langsung menahannya, tentu saja si Savan tidak bisa lagi untuk mundur.
"Stop. Sambil menunggu Bunda mandi, mendingan Savan main dulu sama Ayah, gimana? Bunda 'kan, belum mandi, bau asem tadi 'kan? Ya udah, Savan sama Ayah dulu ya, ayok." Ucap Vando kepada putranya untuk membujuk.
"Tuh dengerin kata Ayah, Savan main dulu sama Ayah, ya. Nanti kalau Bunda udah mandi, kita main bareng, gimana?"
"Paman boleh ikut, 'kan?" sahut Aditya dari jarak yang tidak begitu jauh.
Vando dan juga Liyan langsung menoleh ke sumber suara, Savan pun ikut menoleh.
"Hore .... Paman Aditya ikut, pasti nanti rame."
Savan langsung berteriak dengan riang saat mendengar sahutan dari Aditya.
"Aunty Yena juga mau ikutan main ah, boleh ya, boleh dong."
Savan langsung memasang muka cemberut saat Yena datang dan ikutan menimpali. Dengan gayanya, Savan langsung berkacak pinggang kepada Yena.
__ADS_1
Semua yang ada didalam rumah, pun tertawa melihat ekspresi Savan yang terlihat menggemaskan.