Usai Pernikahan

Usai Pernikahan
Perdebatan


__ADS_3

Sebelum Aditya ikut berangkat pergi ke kota, Ibu Arum menghentikan langkah kakinya.


"Tunggu."


Aditya langsung menoleh, dan memutarbalikkan badannya.


"Ada apa, Bude?" tanya Aditya.


"Jangan menjadi pihak ketiga, ingat pesan dari Bude." Jawab Ibu Arum berpesan.


Meski sudah memberi nasehat untuknya, tetap saja tidak lupa untuk mengingatkannya lagi. Aditya mengangguk, dan pamit untuk berangkat.


Setelah itu, Aditya segera menuju ke mobil, duduk dibelakang bersama Savan. Tidak peduli dengan perasaan cemburunya, bagi Aditya bisa bersama Liyan saja sudah sangat bersyukur, meski terbilang tidak tahu malu.


Sedangkan Liyan sendiri merasa tidak nyaman ketika berada dalam satu mobil bersama Aditya, yakni dikarenakan ada Vando yang tengah duduk di sebelahnya. Vando sendiri pun merasa khawatir ketika Aditya tinggal di kota. Tentu saja akan mudah baginya untuk bertemu dengan Liyan.


Selama menempuh perjalanan, semua hanya menanggapi pertanyaan pertanyaan dari Savan. Bahkan, mereka bertiga seperti sulit untuk membuka obrolan.


"Ayah sama Bunda, juga Paman, kok gak ada yang ngobrol sih. Jadinya sepi deh."


"Kata siapa? Paman mau kok, ngobrol sama bundanya Savan, juga sama ayahnya Savan. Tapi 'kan, nanti berisik. Kasihan sama Bapak supirnya, ya 'kan?"


Savan tersenyum.


"Aw! sakit, Paman. Kebiasaan deh, Paman suka banget cubit pipinya Savan, sakit nih."


Savan langsung menunjukkan muka masamnya yang sengaja dibuat cemberut dengan bibirnya yang mengerucut.


Vando langsung menoleh ke belakang.


"Jangan membuat anak kecil menangis." Ucap Vando memberi peringatan.


"Tenang saja, aku tidak akan membuat Savan menangis. Bahkan, aku akan membuat Savan bahagia. Iya 'kan, Savan? Paman gak pernah membuat Savan menangis?"

__ADS_1


Aditya langsung menoleh ke Savan setelah menjawab ucapan dari Vando.


"Iya, Ayah. Paman Aditya gak pernah membuat Savan menangis. Paman Aditya sayang sama Savan." Jawab Savan dengan polos, tidak mengerti jika orang tuanya tengah saling cemberut dan berusaha merebut ibu dam anak.


Vando yang mendengar jawaban dari putranya, langsung menoleh ke Aditya. Kemudian, menatapnya dengan tajam. Kesal, benci, ingin marah, kini tengah dirasakannya, namun tidak berbuat apa-apa dihadapan putranya, lantaran masih kecil dan takutnya salah beranggapan, pikirnya. Sebisa mungkin untuk tetap bersikap tenang, meski sebenarnya ingin meluapkan segala kekesalannya.


'Awas saja, Adit. Aku tidak akan membiarkan kamu bertemu dengan Savan setelah aku menikah dengan Liyan. Sekarang kamu bisa melakukan apa yang kamu suka, tapi tidak untuk setelah ini.' Batin Vando sambil menatapnya dengan sinis kepada Aditya.


Begitu juga dengan Aditya sendiri, ia pun tersenyum sinis kepada Vando.


'Kamu pikir, kamu yang akan menang. Aku pun bisa merebut Liyan dan Savan, dan aku lah pemenangnya.' Batin Aditya yang juga tidak mau menyerah begitu saja.


Karena sama-sama menyimpan perasaan dongkol dan cemburu, keduanya kini diam dan tidak ada yang bicara sampai tidak terasa sudah masuk ke dalam kapal besar untuk menyebrang.


Tidak tahunya, Savan tertidur dengan pulas di dalam mobil.


"Biar aku aja yang gendong. Kalian duluan aja. Tidak perlu khawatir, Savan aman bersamaku." Ucap Aditya.


"Ayah? aku yang menemaninya dari dalam kandungan, tentu saja akan merasa nyaman bersamaku."


"Cukup!" Bentak Liyan yang merasa pusing ketika mendapati Vando dan Aditya tengah berdebat.


Aditya maupun Vando langsung diam.


"Aku mohon sama kamu Adit, jangan menambah masalah kepada kami. Savan putra kami, biarkan Vando yang memberi perhatian kepada anaknya sendiri. Aku tahu kalau kamu sudah menemani Savan dari kecil, tapi sekarang dia ada seorang ayah. Jadi, biarkan ayahnya mendapat kesempatan untuk lebih dekat lagi dengan anaknya. Aku minta, jaga jarak antara kamu, aku, dan Savan. Maaf." Ucap Liyan yang tidak ingin masalah bertambah besar, pikirnya.


Vando yang mendengar ucapan dari Liyan, hatinya terasa sakit. Bahkan, sakitnya tidak jauh beda dengan putus cinta.


"Baik. Aku akan jaga jarak. Juga, aku tidak akan mengganggu hubungan kalian. Cukup sampai disini pertemuan kita. Jaga diri kamu baik-baik. Terima kasih sudah pernah mau menjadi bagian keluarga di kampung. Aku doakan, semoga kalian bahagia. Bye." Jawab Aditya dengan rasa sakit hati ketika cintanya tidak dapat untuk digapai.


Liyan langsung tertunduk, entah apa yang sedang rasakan, seolah ada yang hilang dari pandangannya. Vando sendiri diam, sama sekali dirinya tidak berucap sepatah katapun.


Aditya yang diminta untuk jaga jarak, pun langsung pamit pergi dari hadapan Liyan dan Vando, dengan Savan masih tidur.

__ADS_1


Vando menoleh ke arah Liyan, terlihat seperti tengah memikirkan sesuatu yang ia tutupi darinya.


"Kamu menyukainya?"


Liyan menggelengkan kepalanya.


"Oh ya, gendong Savan, kita bawa ke ruang istirahat. Juga, biar tidurnya tidak terganggu." Ucap Liyan untuk mengalihkan permasalahan.


Vando mengiyakan, dan bergegas menggendong Savan untuk masuk ke dalam ruangan yang digunakan untuk istirahat selama perjalanan.


Di lain posisi, Aditya memilih berada di bagian atas, yakni untuk menikmati pemandangan yang luas, dan bisa membuang penatnya.


"Aaaaaaaaa!" teriak Aditya yang tengah meluapkan emosinya.


Napasnya terasa panas, juga otaknya terasa mendidih. Membuat Aditya lepas kontrol untuk berteriak sekencangnya. Ingin rasanya memberontak dan meluapkan emosinya kepada Vando, namun dirinya tak kuasa untuk melakukannya. Kesal, emosi, kebencian, amarah, kini telah menjadi satu yang tengah dirasakannya.


Mengalah dan mencoba untuk diam, itu sangat sulit. Aditya hanya bisa menahan kecemburuannya, dan juga marahnya.


Begitu juga dengan Vando, pun merasa kesal ketika Aditya mengikutinya. Padahal, dirinya hanya ingin pulang bersama Liyan dan Savan, namun momen yang sudah ia bayangkan, kini harus bermasalah.


"Ini minum, biar pikiran kamu sedikit tenang." Ucap Liyan menyodorkan sebotol air mineral kepada Vando.


"Terima kasih." Jawabnya dan langsung meminumnya hingga tinggal separuhnya.


"Kamu masih memikirkan yang tadi kah? lupakan. Lebih baik kamu fokus dengan Savan, putramu membutuhkan sosok ayah sepertimu. Jangan sampai kamu mengecewakan Savan, dia akan terluka hatinya. Yang pasti, dia tidak akan percaya lagi denganmu kalau sampai kamu mengecewakannya." Ucap Liyan yang begitu serius menatap Vando.


Vando menggenggam tangannya, dan mengangguk.


"Aku janji, bahwa aku tidak akan mengecewakan Savan, dan juga kamu. Aku akan menebus kesalahan ku yang sudah mengabaikan kamu dan Savan selama ini. Aku mohon sama kamu, jangan lagi ada kata perpisahan diantara kita. Aku tidak akan membiarkan kamu menjadi milik lelaki lain. Tidak akan, aku tidak mengizinkan itu terjadi." Jawab Vando sambil menggenggam erat tangannya Liyan.


"Aku percaya sama kamu, kalau kamu bisa menunjukkannya padaku dan Savan. Sekarang kita fokus dengan tujuan kita, membedakan Savan, dan membahagiakannya. Aku tidak ingin kalau Savan kecewa." Ucapnya.


Kemudian, Vando merangkul Liyan, dan menyandarkan ke dada bidangnya untuk membuatnya nyaman bersama dirinya.

__ADS_1


__ADS_2