
Devan masih berdiam mematung saat sudah berada di depan gedung. Kenangan masa lalunya kini mengingatkannya dengan mantan istrinya, perempuan yang sudah ia nikahi. Namun, pernikahannya hancur hanya dalam sekejap. Awal pernikahan yang diharap akan mendatangkan kebahagiaan, namun patah hati yang ia terima.
"Hei. Jadi ngucapin selamat gak nih, Bro."
Aditya pun menepuk punggungnya Devan, berharap akan tersadar dari lamunannya. Devan mengangguk, dan bergegas masuk kedalam gedung yang cukup mewah dekorasinya.
Sambil berjalan, kedua matanya mengamati isi dalam ruangan tersebut. Tertulis nama kedua pengantin, juga foto mereka berdua yang terlihat begitu serasi.
Meski dengan perasaan sakit hati karena Liyan lebih memilih Vando, dirinya berusaha untuk tetap tegar. Begitu juga dengan Aditya, dirinya yang juga mempunyai banyak kenangan bersama Liyan, terasa berat baginya untuk melihat perempuan yang dicintainya bersanding dengan lelaki lain.
Kedua lelaki yang tengah patah hati karena ditinggal menikah, sama-sama terasa sesak dadanya untuk bernapas.
Tidaki ingin terlihat bersedih, Aditya maupun Devan, mereka berdua berusaha untuk tetap terlihat biasa-biasa saja. Zavan selaku kakaknya Liyan yang mengetahui jika Devan dan Aditya mencintai adiknya, pun langsung menghampiri dan menghibur mereka.
"Sudah datang kalian, ayo ikut aku. Mendingan kalian makan dulu, atau minum dulu, atau gak, kita ngobrol aja dulu, gimana? soal ngucapin selamat mah, gampang. Nanti kalau sudah mau pulang, kalian temui Liyan dan Vando. Dah lah, ayo ikut aku." Ucap Zavan yang langsung menarik lengan mereka berdua.
"Eeeee tunggu tunggu, Gak usah lebay. Aku masih bisa jalan sendiri. Lebay banget sih, kamu itu. Gak perlu pegang tanganku, kamu kira kita ini anak kecil yang bakal nangis kejer, gitu. Hem."
Zavan justru tertawa kecil ketika mendengar ucapan dari Devan.
"Ya, bisa jadi. Dah lah, ayo kita ke sana." Ajak Zavan dan meminta pelayan untuk mengambilkan minuman.
Aditya yang lagi males mengobrol, ia celingukan dan ingin segera pulang.
"Aku duluan ya, aku mau menemui Liyan. Aku ada janji sama orang tuaku, jadi gak bisa lama-lama. Kalian lanjutin aja ngobrolnya, sampai ketemu lagi, permisi." Ucap Aditya pamitan.
Zavan yang tidak bisa mencegah, pun mengiyakan. Devan sendiri memilih diam, dan malas untuk menanggapinya. Setelah Aditya pergi, kini tinggal Devan bersama Zavan tengah mengobrol sambil menikmati minumannya.
__ADS_1
Aditya yang hendak naik ke panggung pelaminan, begitu hancur perasaannya. Melihat perempuan yang tengah bersanding dengan lelaki lain, seolah tidak ada lagi harapan untuknya mendapatkan perempuan yang dicintainya. Meski terasa sakit, Aditya berusaha untuk tetap terlihat tenang dan baik-baik saja.
"Selamat ya, atas pernikahan kalian. Semoga bahagia." Ucap Aditya memberi ucapan selamat kepada Liyan dan Vando.
"Terima kasih banyak atas ucapan serta doanya. Semoga kamu segera menyusul." Jawab Vando.
"Sama-sama, bahagia selalu untuk kalian berdua." Ucapnya yang kini tertuju pada Liyan.
"Makasih. Semoga segera menyusul." Jawab Liyan kedengaran begitu formal.
Aditya yang tidak ingin lama-lama, ia segera pamit, dan pergi meninggalkan acara resepsi pernikahan Liyan dan Vando.
"Paman ...!" teriak Savan yang langsung naik ke atas panggung pelaminan, dan memeluk Aditya begitu erat.
Aditya yang begitu lama tidak pernah bertemu, rindunya terobati. Savan sudah dianggapnya anak sendiri, kedekatan mereka berdua tidak kalah jauh antara anak dan ayah kandung sendiri.
"Savan pingin ikut Paman. Ayah, Bunda, Savan ikut Paman Aditya, ya?" pinta Savan merengek sambil memohon.
Aditya langsung memutarbalikkan badannya, dan kini tengah berdiri di sebelahnya Savan.
"Savan, hari ini adalah hari bahagianya Bunda dan Ayah, seharusnya Savan temani ayah dan Bunda. Ketemu sama Paman, besok lagi, gimana? Paman janji, besok Paman yang jemput Savan. Bagaimana, mau 'kan?"
Liyan yang mendengarnya, pun langsung berjongkok di hadapannya Savan.
"Savan denger, 'kan. Kalau besok Paman Aditya mau jemput Savan. Jadi, Savan sabar dulu. Hari ini 'kan, hari pernikahannya Bunda sama Ayah. Jadi, Savan mau ya, temani Ayah sama Bunda dulu." Ucap Liyan berusaha untuk membujuk putranya.
Vando juga ikutan berjongkok.
__ADS_1
"Gimana, Savan mau ikut Paman Aditya atau temani Ayah sama Bunda?"
"Savan harus nurut sama Paman, besok saja, ya." Ucap Aditya membujuk.
Savan yang begitu nurut dan patuh dengan apa yang selalu dinasehati oleh Aditya, pun mengiyakan.
"Paman janji, gak bohong." Jawab Savan dibuat cemberut.
Aditya langsung berjongkok, dan memegangi kedua lengannya, dan mengangguk tanda meyakinkan Savan agar mau mempercayainya.
"Paman janji, dan tidak bohong. Asal kedua orang tuanya Savan mengizinkan, Paman pasti akan jemput Savan. Jadi, Savan gak perlu khawatir, karena Paman tidak akan pernah mengingkari janji. Ya udah ya, Paman harus pulang. Besok Paman jemput Savan, oke. Tos dulu kita." Ucap Aditya berusaha untuk menyakinkan Savan.
Setelah Savan menyetujui, Aditya pamit pulang. Kini, Savan kembali ditemani oleh asisten rumah. Sedangkan Liyan sama Vando kembali sibuk menyalami orang-orang yang memberinya ucapan selamat.
Devan yang melihat pemandangan yang begitu haru antara Savan dan Aditya, justru merasa iri saat Aditya sudah mencuri perhatian dari Savan. Namun, semua itu tidak dapat dipungkiri, karena Savan tinggal di kampung dari masih bayi baru lahir.
"Beruntung sekali Aditya, meski tidak mendapatkan cinta dari Liyan, tapi sudah mendapatkan cinta dari anaknya. Lah diriku, yang mencintainya lebih dulu daripada mereka, harus menerima kenyataan pahit seperti ini. Mungkinkah aku sedang dipermainkan oleh nasib burukku?"
Gumam Devan yang begitu hancur perasaannya. Seolah hidupnya tiada artinya.
"Kamu yang sabar ya, semua yang sudah terjadi, pasti akan ada sisi baiknya buat kamu. Buanglah prasangka buruk mu itu, soal dirimu yang menganggap dirimu bernasib buruk. Percayalah denganku, kamu akan segera temukan kebahagiaan mu nantinya." Ucap Zavan berusaha untuk menyemangati Devan yang tengah patah hati karena adik perempuannya.
Devan yang tidak ingin berlama-lama di acara resepsi pernikahan mantan istri, segera naik dan memberi ucapan selamat kepada kedua pengantin, terutama kepada Liyan mantan istrinya dulu yang pernah kabur saat hari pernikahan ditentukan. Meski sempat menikah, tetapi mahkota miliknya Liyan telah direnggut oleh ayah biologisnya Savan.
Sakit hati yang dikhianati, rasanya begitu sakit. Devan yang hendak naik ke atas panggung pelaminan, dirinya berusaha untuk tetap tegar dan menunjukkan dengan sikap yang biasa-biasa saja, seolah tidak ada masalah apapun sebelumnya.
Liyan sendiri yang melihat Devan naik ke panggung pelaminan, rasanya seperti diingatkan dengan masa lalu yang pernah menikah dengannya. Duduk di atas pelaminan, kini terulang kembali, namun bukan dengan Devan, melainkan suami keduanya.
__ADS_1