
Karena harus membereskan rumah kos-kosannya, Devan akhirnya membuat janji untuk datang ke rumah mantan istrinya setelah semuanya beres.
Karena banyak debu dan harus dibersihkan, akhirnya selesai juga semuanya. Ruangan yang cukup sempit, ternyata sudah disulap sedemikian rupa oleh Devan, hingga semua terlihat rajin.
"Akhirnya aku bisa tidur dengan nyenyak nanti malam." Gumamnya saat semua sudah terlihat rapi dan juga bersih.
Waktu yang hampir gelap, Devan segera membersihkan diri, bahwa dirinya teringat jika sudah membuat janji dengan mantan istrinya untuk bertemu.
Buru-buru karena takut terlambat dan membuat Liyan menunggu lama, selesai juga mandinya. Kemudian, Devan mengenakan bajunya.
Dengan penampilannya yang sederhana, Devan mulai percayalah diri untuk menghadapi semua kenyataan. Tidak peduli sebanyak hinaan apapun, dirinya akan tetap tegar menghadapi. Nasehat nasehat kecil dari tantenya, selalu diingat dan ditanamkan di kehidupan sehari-hari oleh Devan.
Meski tidak adanya kasih sayang dari kedua orang tuanya, Devan mendapat kasih sayang yang sempit dari mendiang tantenya. Meski harus diusir oleh saudara sepupunya sendiri, Devan tidak peduli.
"Aku tahu ini berat, tapi aku juga gak tahu nasib baik akan berpihak kepada siapa." Ucapnya dengan lirih, dan memeriksa kedua kantong di celananya.
"Astaga, uangku apa cukup untuk naik ojek sampai ke rumahnya Tuan Boni." Gumamnya lagi saat teringat jika dirinya hanya membawa sedikit uang, lantaran semua hak telah berpindah ke hak milik saudara sepupunya.
Namun, dirinya baru keinget tengah menyimpan beberapa uang di dalam tasnya. Meski tidak banyak, setidaknya bisa untuk bertahan selama belum gajian.
Devan yang tidak ingin mengecewakan mantan istrinya, pun segera pergi dan menepati janji.
Selama perjalanan menggunakan ojek sepeda motor, Devan menikmati suasana di malam hari di jalanan kota dengan naik ojek.
Sampainya di depan pintu gerbang, Devan memanggil pak satpam untuk bertamu. Karena sudah paham dengan sosok Devan, tidak membuat curiga kepada satpam rumah.
"Silakan masuk, Tuan." Ucapnya dengan sopan.
"Makasih banyak, Pak." Jawab Devan dan bergegas masuk dan menemui mantan istrinya.
Ada rasa malu, ada juga rasa senang. Juga, rasa sedih karena tidak bisa memberi perhatian seperti biasanya. Tentu saja karena dirinya merasa jatuh miskin.
'Mungkin malam ini sekalian pamit, kalau aku harus menjauhi Liyan. Tuan Boni pasti tidak akan mengizinkan aku dekat dengan Liyan, karena aku jatuh miskin.' Batinnya yang terlihat murung dan tidak bersemangat.
"Silakan masuk, Tuan. Nona sudah menunggu." Ucapnya menyambut Devan dengan santun.
Devan mengangguk, dan masuk ke dalam rumah. Sesuai petunjuk arah oleh asisten rumah, akhirnya Devan sudah menuju ke ruang keluarga.
__ADS_1
"Selamat malam. Maaf, sudah mengganggu. Terima kasih juga atas undangannya untuk datang ke rumah." Ucap Devan dengan gaya bicara yang terlihat begitu formal.
Tuan Boni selaku ayah mertuanya dulu, pun bangkit dari posisi duduknya, dan mendekati Devan yang masih berdiri. Sedangkan yang lainnya masih duduk di tempatnya.
"Kami semua sudah tahu beritanya, dan kamu tidak perlu merasa minder."
"Maaf, Tuan. Saya belum bisa menjelaskan semuanya, mungkin gak ada guna juga jika saya jelaskan. Saya sudah menerimanya dengan lapang. Anggap saja kalau saya ini telah berhutang budi, lantaran sudah mendapatkan kasih sayang dari Tante Sevira. Saya tidak mau memperbesar masalah." Jawab Devan setengah menundukkan pandangannya.
"Sudah waktunya makan malam, kita makan bareng. Sudah lama 'kan, kamu gak makan bareng seperti dulu. Ayo, kita makan dulu." Ajak Tuan Boni yang tidak ingin merusak suasana hatinya, dan takutnya akan kehilangan selera makan.
"Kamu ini kenapa, Dev? masa' jadi cowok lemah gitu. Jangan karena kamu berhutang budi, kamu gak mau menyelesaikan masalah kamu ini. Sudahlah, ayo kita makan dulu."
Devan sama sekali tidak menanggapi, karena lagi tidak ingin membahas soal dirinya dengan Vando. Sedangkan Liyan kini yang sudah ada perubahan, dan tidak begitu murung seperti hari hari sebelumnya.
Saat sudah duduk di ruang makan, Devan tengah menikmati makan malam bersama keluarga Aritama. Posisi tempat duduknya justru tidak bersebelahan dengan mantan istrinya, melainkan saling menghadap satu sama lain.
Devan yang merasa tidak mempunyai apa-apa lagi, dirinya bisa apa? pikirnya. Jangankan untuk menghiburnya, menghibur diri sendiri saja tidak bisa. Selain tidak bisa, Devan tidak mempunyai modal untuk memanjakan mantan istrinya.
"Dev, di makan. Malah melamun kamu ini, ayo makan dulu. Habis ini nanti kita lanjutin lagi ngobrolnya." Ucap Zavan, Devan sendiri hanya tersenyum tipis.
Liyan yang memperhatikan mantan suaminya tidak bersemangat dan terlihat tidak berselera makan, melihatnya merasa kasihan.
'Kasihan Kak Devan, pasti sangat terpukul dengan kenyataan pahitnya yang telah dicemarkan nama baik orang tuanya. Sakit hati, itu sudah pasti.' Batin Liyan sambil memperhatikan, juga sambil mengunyah makanan.
Liyan juga teringat saat dirinya mendapat perhatian dari mantan suaminya yang begitu sabar menghadapi dirinya. Takut ketahuan disangka melamun, Liyan segera menghabiskan makanannya yang ada di piring.
Tidak terasa juga, semua sudah selesai makan. Setelah itu, Tuan Boni maupun yang lainnya bergegas untuk pindah tempat untuk mengobrol dengan leluasa.
"Terima kasih atas makan malamnya, Tut-"
"Kamu itu udah pernah menikahi Liyan, dan menjadi bagian keluarga Gevindra, panggil saja Papa, dan panggil Mamanya Liyan jangan Tante. Gak baik, panggil Mama maupun Papa."
"Tapi, saya bukan lagi menantu di keluarga Gavindra, Tut-"
"Papa." Sahut Tuan Boni.
Devan tersenyum malu mendengarnya.
__ADS_1
"Iya, Pa." Jawab Devan dengan malu.
"Malam ini kamu nginap saja dulu. Lagi pula udah malam, dah mau jam sepuluh malam, mendingan nginap di rumah Papa." Ucap Tuan Boni.
Devan yang tidak bisa menolak, pun akhirnya mengiyakan.
"Iya, Nak, kamu nginap aja dulu. Sudah lama 'kan, kamu gak tidur di rumah ini? ya udah, kami mau istirahat, kamu istirahat bareng Zavan. Kamu pasti capek, gak cuman badan, juga pikiran kamu butuh istirahat. Jadi, istirahat lah." Timpal istrinya Tuan Boni.
"Iya, Kak, benar yang dikatakan Mama. Mendingan Kak Devan istirahat, sudah malam juga, dan waktunya untuk istirahat." Ucap Liyan yang juga ikutan menimpali.
Devan yang mendapat bujukan dari mantan istrinya, terasa adem hatinya. Meski ada perasaan sedikit malu karena kini dirinya lah yang mendapat semangat dari mantan istrinya.
"Terima kasih banyak, Liy. Kamu juga istirahat, sudah malam. Ngomong ngomong dari tadi aku gak lihat Yena, dimana dia?" jawab Devan yang tiba-tiba tidak mendapati Yena.
"Tadi pas kamu pulang itu, Aditya langsung menjemput Yena." Sahut Tuan Boni menjawab pertanyaan dari Devan.
"Oh. Aku kira kemana, soalnya gak kelihatan dari tadi. Gak tahunya udah pulang ke rumahnya Aditya." Ucap Devan.
"Sebenarnya Yena menolak, tapi Aditya memaksa. Jadi, mau tidak mau, Yena menuruti ajakan dari Aditya. Soalnya harus masuk kerja ke kantornya Aditya." Kata Zavan yang ikut menimpali.
"Oh iya, aku baru ingat. Waktu itu si Yena mau masuk kerja ke perusahaan keluarga Gavindra, tempatku kerja. Mungkin karena situasi sedang gak baik-baik saja, Yena ditarik pulang ke rumahnya. Jugaan, Yena saudara sepupunya Aditya." Ucap Devan sambil mengingat waktu kesepakatan bersama Aditya.
Tapi, kini justru seperti musuh, dan tidak mau saling kenal.
"Ya udah ya, Kak, aku mau ke kamar, aku mau istirahat." Ucap Liyan berpamitan, Devan mengiyakan.
"Iya, silakan." Jawab Devan.
Liyan yang tidak ingin mengganggu pikiran mantan suaminya yang lagi banyak masalah, memilih untuk menghindar, dan tidur lebih awal.
Kini, tinggallah Devan yang tengah ditemani Zavan, mereka berdua berteman sudah dari jaman sekolah, dan sudah seperti saudara sendiri. Meski kondisi Devan sedang terpuruk, tidak membuat keluarga Aritama mengabaikan sosok Devan.
"Rencana kamu selanjutnya apa, Dev? setelah Vando merampas semuanya?" tanya Zavan membuka obrolan sambil duduk bersantai.
"Aku kurang tahu, Zav. Untuk saat ini pikiran aku lagi kacau. Aku ingin menenangkan pikiran aku dulu." Jawab Devan tidak lagi bersemangat.
Zavan menepuk punggungnya, yakni memberi semangat kepada Devan.
__ADS_1