Usai Pernikahan

Usai Pernikahan
Menerima pesan nasehat


__ADS_3

Di rumah kediaman keluarga Permana, Aditya baru saja sampai di rumah orang tuanya. Semua asisten rumah menyambut kepulangan Aditya dengan hangat. Sudah beberapa bulan lamanya, Aditya tidak pernah pulang ke kota. Rencana yang pernah diharapkan untuk pulang bersama Liyan dan Savan, rupanya kini dengan harapan palsu.


"Selamat datang, anakku." Sapa sang ayah ketika menyambut putranya pulang ke rumah.


"Terima kasih, Pa. Bagaimana kabar Papa, baik-baik saja, 'kan?"


"Kabar Papa seperti yang kamu lihat. Papa baik-baik saja, kamu sendiri bagaimana kabarnya?"


"Baik, Pa. Maaf, jika Aku gagal membawa calon menantu untuk Papa." Jawab Aditya dengan lesu, terlihat jelas jika dirinya tidak bersemangat.


"Tidak apa-apa, kedatangan kamu saja ke rumah ini saja sudah cukup. Apalagi untuk menetap, Papa sangat senang. Soal jodoh, kamu tidak perlu khawatir, nanti Papa carikan jodoh yang tepat buat kamu." Ucap sang ayah.


"Tidak perlu mencarikan jodoh buatku. Biarlah semua akan aku jalani sebagai mana mestinya air itu mengalir. Aku akan fokus dengan pekerjaan, juga menikmati kebersamaan dengan Papa." Kata Aditya.


Sang ayah pun tersenyum, meski ada rasa sedih ketika mendapati putranya tidak bersemangat.


"Sudah hampir sore, kamu pasti capek setelah menempuh perjalanan jauh. Lebih baik kamu bersihkan badan kamu, dan istirahat. Kalau kamu belum makan, nanti Papa akan meminta asisten rumah buat nyiapin makanan buat kamu." Kata sang ayah.


"Gak usah, Pa. Aku belum lapar, aku mau mandi, terus istirahat."


"Ya udah kalau itu maunya kamu. Ingat, kesehatan itu penting. Jangan mengabaikan walau hanya sekedar makan, yaitu mengisi perut. Sudah sana kalau mandi, Papa tinggal dulu." Ucap sang ayah.


Aditya yang tidak hanya capek badan, dirinya juga capek pikiran. Tidak ingin semakin penat memikirkan sesuatu yang membuat kesehatannya menurun, Aditya segera masuk ke kamarnya.


Di tempat lain, Vando bersama Liyan dan putranya, kini kembali melanjutkan perjalanannya.


"Aku mau pulang ke rumah orang tuaku. Savan pulangnya ikut aku, gak apa-apa, 'kan?"


Vando yang terasa berat untuk berpisah, terasa berat baginya mengizinkan Liyan bersama Savan pulang tidak satu rumah. Mau bagaimanapun, keduanya belum menikah. Sedangkan Liyan sendiri masih dalam proses perceraian dengan Devan.


Sampainya di rumah orang tuanya Liyan, mereka bertiga segera turun. Savan begitu takjub saat melihat bangunan rumah yang begitu besar dan juga megah. Bangunannya sudah seperti istana menurut Savan.

__ADS_1


"Bunda, ini rumah apa istana yang di film itu, Bun."


Savan sambil menunjuk pada rumah kakek dan neneknya.


Vando langsung membungkukkan badannya.


"Ini rumahnya kakek dan neneknya Savan. Juga, yang akan menjadi tempat tinggalnya Savan untuk sementara. Nanti Ayah akan ajak Savan tinggal di rumahnya Ayah, gimana, mau 'kan?"


"Apakah rumahnya ayah juga besar?" tanya Savan dengan polos.


Vando mengangguk. "Benar, sayang. Nanti yang akan menjadi rumahnya Savan untuk selamanya."


"Kalian sudah pulang, syukurlah. Mama sama Papa sangat bahagia, dan akhirnya kalian pun pulang dengan selamat. Savan, cucunya Nenek, sini, sayang." Ucap istrinya Tuan Boni, dan langsung memeluk Savan.


Belum juga puas memeluk, Tuan Boni langsung menyambar cucunya dan menggendong Savan.


"Cucunya Kakek, sudah besar rupanya. Kakek sangat rindu sama kamu, kini akhirnya pulang ke rumah Kakek." Ucap Tuan Boni yang begitu gemas dengan cucunya.


"Ayo, masuk ke rumah. Kalian pasti capek setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh."


"Terima kasih banyak, Tuan. Maaf, saya harus pulang. Liyan belum sepenuhnya menjadi istri saya. Jadi, sampai di sini saya mengantar Liyan dan Savan. Besok saya akan datang kemari untuk menjemput Liyan, saya akan memperkenalkannya dengan Mama saya di rumah." Jawab Vando yang memilih untuk pulang.


Tuan Boni mengangguk, lantaran tidak ingin memaksakannya. Liyan sendiri diam, tidak tahu harus bicara apa.


"Baiklah, kalau itu yang kamu mau. Aku tidak akan menghalangi hubungan kalian berdua. Kalau kalian ingin mengobrol, silakan. Ya udah kalau gitu, Papa dan Mama masuk dulu." Ucap Tuan Boni dan masuk ke rumah bersama istrinya.


Kini, tinggal Vando dan Liyan. Keduanya sama-sama diam, belum ada yang memulai bicara.


"Terima kasih banyak ya, udah mengantarkan aku sampai rumah." Ucap Liyan yang akhirnya membuka suara.


"Kamu tidak perlu berterimakasih denganku, karena sudah menjadi tanggung jawab ku. Aku janji, setelah semua urusan selesai, aku akan segera menikahi mu, dan membahagiakan kamu dan Savan. Juga, bertanggungjawab jawab sepenuhnya atas dirimu dan Savan putra kita. Ya udah ya, aku pamit pulang. Jaga diri kamu baik-baik. Sampaikan pesanku sama Savan, besok aku kembali ke rumah ini lagi untuk jemput kalian. Sampai jumpa, sampai bertemu lagi besok." Jawab Vando yang tetap masih berdiri di hadapannya Liyan.

__ADS_1


"Kok belum pergi? katanya mau pulang."


Vando tersenyum, dan tak lupa menunjukkan jarinya ke arah pipinya.


"Stempelnya mana?"


Liyan terkekeh ketika Vando meminta cium dibagian pipi kanannya.


"Malu ah, dilihat orang nanti. Tuh, ada tukang kebun, malu akunya." Kata Liyan malu malu.


"Enggak apa-apa, bentar lagi kita nikah." Ucap Vando.


Liyan yang tidak punya pilihan lain, pun akhirnya mengiyakan.


"Heih! tidak boleh. Tahan dulu. Kalian harus menikah dulu, bikin kakak kamu ini iri saja. Hus, hus, sana masuk kedalam rumah. Jangan pamer kemesraan di depan orang jomblo, oke. Sudah sana masuk ke rumah."


Sang kakak yang melihat dua insan yang hampir saja pamer kemesraan, Zavan selaku kakaknya Liyan, pun langsung mengusir adiknya dengan mengibaskan tangannya.


Liyan yang tidak punya pilihan, pun bergegas masuk kedalam rumah. Sedangkan Vando serasa tidak mendapat keberuntungan karena ulah calon kakak iparnya.


"Sekarang giliran kamu, buruan cepetan pulang. Besok kalau udah nikah, kamu bisa puasin kemesraan kamu di dalam kamar sama Liyan. Jadi, mulai sekarang kamu dan Liyan harus dijaga ketat, oke."


Vando tersenyum mendengar pesan dari calo kakak iparnya.


"Baik, Kakak ipar. Kalau begitu aku mau pulang, permisi." Jawab Vando yang kedengaran formal.


Zavan sendiri tertawa kecil mendengarnya.


"Enak aja mau pamer di depan tetua jomblo. Oh! tidak bisa. Siapa yang berani pamer, maka harus dikerjain." Gumam Zavan saat melihat Vando sudah tidak lagi terlihat bayangannya.


Setelah Vando pergi dan pulang ke rumah, Zavan segera masuk dan menemui keponakannya. Sedangkan Vando sendiri tidak bisa memaksa, dan tetap bersabar menunggu hingga waktunya tiba.

__ADS_1


Selama perjalanan menuju ke rumahnya, Vando membayangkan Liyan. Terasa sudah tidak sabar, dan ingin secepatnya menjadi suaminya. Namun, proses perceraian tidak semudah dalam menunggu antrian di kasir, harus bersabar dan sabar menunggu hingga benar-benar gol. Tentu saja butuh waktu yang lumayan lama, dan pastinya harus bersabar.


__ADS_2