Usai Pernikahan

Usai Pernikahan
Menangis


__ADS_3

Didalam butik, Devan menyuruh Yena mengambil beberapa baju. Kemudian, Devan menghampiri seseorang untuk dimintai tolong.


"Mbak, tolong nanti bantu penampilan perempuan yang itu ya, baju yang warna orange. Tolong rapikan penampilannya, jangan sampai enggak." Pinta Devan sama karyawan butik.


"Baik, Tuan." Jawabnya dengan sopan.


"Ya udah, makasih." Ucap Devan.


Kemudian, Devan memilih duduk sambil menunggu Yena, dan ia menghubungi Aditya.


Yena yang tengah bingung memilih pakaian yang akan ia pilih, shock dengan harga yang tertera dibaju.


'Buset dah, ini baju mahal-mahal banget. Kalau di kampung ini duit bisa buat makan beberapa hari. Benar-benar tajir rupanya, setara dengan Aditya kah? laki-laki macam dia, kenapa Liyan tolak? eh iya, tadi kan dia bilang, ada kesalahpahaman soal pihak ketiga. Enggak enggak enggak, jangan sampai aku kepikiran itu orang. Ingat, Yena, tujuan kamu datang ke kota itu hanya ke rumahnya Aditya, bukan yang aneh-aneh.' Batinnya yang tidak fokus saat memilih baju.


"Nona, Nona." Panggil seorang karyawan butik mencoba membuyarkan lamunannya.


"Eh iya, Mbak, maaf." Jawab Yena yang tersadar dari lamunannya.


"Jangan banyak melamun, Nona. Takutnya nanti ada orang yang jahil, atau lainnya. Silakan Nona melanjutkan untuk memilih baju." Ucapnya mengingatkan.


Yena tersenyum malu dibuatnya. Karena tidak ingin membuat Devan menunggu lama, ia pun segera memilih beberapa setel baju. Setelah itu, ia menghampiri Devan yang tengah duduk menunggu dirinya.


"Udah, tinggal bayar." Ucap Yena malu-malu.


"Oh iya, bentar. Kamu tunggu aja disini. Eh, kamu belum ganti baju? ganti aja dulu. Tadi aku berpesan sama salah satu karyawan butik untuk membantu kamu ganti baju. Ayo ikut aku." Jawab Devan dan bergegas menemui salah seorang karyawan butik.


Yena sendiri hanya bisa nurut. Selain gak begitu memikirkan fashion, Yena tidak menyukai yang berlebihan saat berpenampilan.


Devan pun segera menghampiri karyawan butik.


"Mbak, tolong bantu dia ganti baju. Kalau kurang cocok, Mbaknya bisa bantu cariin baju yang pas buat dia." Ucap Devan meminta tolong.


"Baik, Tuan." Jawabnya, dan mengajak Yena untuk dibantu pilihkan pakaian yang cocok dan pas untuk dikenakan.


"Mari, Nona. Mari ikut saya." Ajaknya kepada Yena.


"Iya, Mbak." Jawab Yena dengan senyum yang tipis.

__ADS_1


"Sepertinya Nona sangat pemalu. Apakah Nona baru jadian? maaf, saya sudah lancang." Ledek karyawan butik.


"Bukan, Mbak. Dia bukan siapa-siapa saya, cuma kita pernah bertemu, hanya itu." Jawab Yena tidak ada yang ditutupi.


"Oh. Kirain baru jadian. Tapi kelihatannya Tuan tadi sangat baik kepada Nona, terlihat saat memperlakukan Nona dengan baik."


"Emang dianya orang baik, Mbak." Jawab Yena malu-malu.


"Iya, dia memang sering mendatangi butik ini. Tapi udah lama banget sih. Entah udah berapa tahun lamanya, Tuan tadi udah lama gak pernah datang ke sini."


"Sama pacarnya ya, Mbak? eh, jadi kepo malah. Gak usah dijawab juga gak apa-apa kok, Mbak."


"Saya rasa sih bukan. Soalnya kedekatan mereka itu, seperti kakak beradik." Jawabnya sambil membantu Yena mengenakan pakaiannya, serta di dandanin dikit-dikit.


Yena sendiri fokus dengan cermin yang memantulkan bayangannya sendiri.


"Sempurna. Nona udah kelihatan sangat cantik. Tuan tadi pasti bakal pangling melihat Nona." Ucapnya memuji penampilan Yena.


'Kenapa jadi kek mau kondangan gini penampilan aku, coba. Aih. Kalau Aditya lihat aku penampilan macam gini, ketawa dianya. Duh! gimana ini? aih.' Batin Yena menggerutu dengan penampilannya sendiri.


"Nona, ini baju yang lainnya. Mari, ikut saya untuk menemui Tuan yang bersama Nona tadi." Ucap karyawan butik.


"Iya, Mbak, iya. Maaf, sudah merepotkan Mbaknya." Jawab Yena merasa gak enak hati.


"Tidak apa-apa, Nona. Sudah menjadi tanggungjawab kami, mari." Ucapnya dan mengajak keluar.


Saat sudah berada di dekatnya Devan, detak jantung Yena justru berdegup tidak karuan.


"Tuan, Nona sudah selesai ganti baju. Kalau pelayan kami belum memuaskan, Tuan bisa komplain." Ucap karyawan butik kepada Devan.


Saat itu juga, Devan langsung mendongak. Betapa terkejutnya saat melihat penampilan Yena benar-benar sangat berbeda dengan penampilannya yang tadi saat bersama dirinya.


"Tuan, Nona sudah ganti baju." Ucapnya lagi untuk membuyarkan lamunan Devan.


"Eh iya, Mbak. Maaf, tadi saya lagi fokus- itu tadi lagi main ponsel. Oh iya, ini udah cocok kok. Makasih sebelumnya ya, Mbak. Oh iya, tinggal bayar aja 'kan ya?"


"Iya, Tuan. Tinggal bayar tagihannya saja, mari." Jawabnya.

__ADS_1


Setela itu, Devan bergegas untuk membayar tagihan. Kemudian, Devan mengajak Yena untuk pulang.


Selama perjalanan, justru Yena merasa canggung dengan penampilannya sendiri.


"Terima kasih banyak ya, udah ngajak aku belanja baju. Nanti kalau aku udah kerja, dan dapat gaji, aku akan ganti." Ucap Yena dengan malu.


Devan yang tengah menyetir mobil, sekilas ia menoleh ke arah Yena.


"Kamu gak perlu menggantinya. Bagiku gak masalah memberikanmu baju. Oh iya, soal ngomong kerja. Gimana kalau aku memberi tawaran sama kamu. Aku ada lowongan pekerjaan di perusahaan. Itupun kalau kamu mau dan bersedia. Aku gak maksa, soalnya kamu juga ada Aditya yang juga bisa saja memberimu pekerjaan. Secara dia bukan orang kaleng kaleng." Jawab Devan sambil fokus menyetir.


Arah pandangannya, pun lurus ke depan. Menoleh saja hanya sebentar sebentar.


"Makasih atas tawarannya. Yang kamu bilang ada benarnya. Aku mau tanya dulu sama Aditya. Kalau gak ada lowongan, aku mau kerja sama kamu." Ucap Yena.


"Ya udah, dil ya. Tapi mustahil jika Aditya tidak punya lowongan pekerjaan. Kalaupun tidak ada lowongan pekerjaan, kamu tetap tinggal bersamanya." Kata Devan.


"Ya gak enak jika akunya cuma tidur sama makan terus di rumahnya Aditya, yang ada dikira aku gak mau kerja keras." Ucap Yena.


"Kamu bisa aja." Jawab Devan.


Tidak terasa, rupanya sudah sampai di rumahnya Devan. Saat itu juga, ternyata datangnya bersamaan dengan Aditya.


Yena yang baru aja turun dari mobil, dan melihat Aditya yang juga baru keluar dari mobil, Yena langsung mendekati dan memeluknya dengan erat. Yena menangis sesenggukan di pelukannya Aditya.


Aditya yang penasaran, ia langsung melepaskan pelukannya. Kemudian, ia menatap serius pada Yena.


"Yena, kamu kenapa menangis? ada apa denganmu, Yen?" tanya Aditya penasaran.


Yena masih menangis menatap wajah Aditya, terasa berat untuk mengatakannya dengan jujur. Sungguh, dadanya terasa sesak untuk bernapas.


Kini, tatapan Aditya justru tertuju pada Devan. Tentunya menyimpan penasaran, karena Yena datangnya bersama Devan.


"Biar hatinya tenang dulu. Kalau diizinkan, biar Yena masuk ke rumah dulu." Ucap Devan memberi saran kepada Aditya.


Aditya yang menyadari belum mengajak masuk ke dalam rumah, kini mengajak Yena untuk masuk ke rumah.


"Kita masuk ke rumah dulu. Bicaranya nanti didalam rumah." Ajak Aditya.

__ADS_1


Yena mengangguk, dan masuk ke rumah bersama Devan juga.


__ADS_2