
Di dalam ruangan rawat pasien, Liyan serasa tidak nyaman saat berada dalam satu ruangan dengan Devan, juga Vando.
"Maaf, jika aku sudah mengganggu kalian. Aku hanya meminta waktunya sebentar saja." Ucap Devan, Liyan sendiri diam, lantaran bingung harus bicara apa.
"Memangnya sesuatu apa yang ingin kamu bicarakan, Dev?" tanya Vando sambil mengarahkan pandangannya ke Devan dengan tatapan yang begitu serius.
"Soal Liyan yang statusnya masih istriku. Aku belum mengajukan perceraian dengannya, karena suatu jarak dan aku sendiri sama sekali tidak diizinkan untuk menceraikannya. Yang ingin aku tanyakan kepada Liyan tidak lain adalah sebuah pilihan." Jawab Devan, dan menoleh kearah Liyan.
Karena merasa malu dan takut menyakiti diantara keduanya, Liyan memilih menundukkan pandangannya.
Vando sendiri penasaran, jawaban apa yang akan dilontarkan oleh Liyan, pikirnya.
__ADS_1
"Liyan." Panggil Devan dengan suara yang terdengar berat.
Liyan menoleh, dan keduanya saling menatap satu sama lainnya. Vando sendiri menyimpan perasaan cemburu.
"Iya, kenapa?" tanya Liyan sedikit gugup.
"Jawab pertanyaan dariku. Kamu pilih bertahan dengan pernikahan kita, atau memilih hidup dengan Vando, ayah biologis dari putramu? kamu tidak perlu takut, aku akan menerima keputusan mu, apapun itu. Aku menyadari kalau aku pernah bersalah, dan aku meminta maaf karena tetap memaksa kamu untuk menikah denganku."
Vando yang mendengar pertanyaan dari Devan untuk Liyan, pun rasanya tidak ingin mendengarkannya. Tetapi sialnya, justru menjadi saksinya.
Tidak dapat dipungkiri, jika Devan pernah mengisi ruang hatinya. Hanya karena kesalahpahaman, Liyan mudah di provokasi oleh perempuan yang juga menginginkan Devan.
__ADS_1
Karena merasa kecewa dan sakit hati, Liyan memilih kabur dan pergi dari rumah, yakni demi menghindari perjodohan dengan Devan. Siapa sangka jika dirinya dipertemukan dengan Vando, lelaki yang ternyata orang yang dikenal baik oleh orang tuanya sendiri, juga kakaknya. Hingga di waktu saat terjebak hujan, mereka berdua justru melakukan perbuatan terlarang dan kini telah mempunyai anak laki-laki yang sudah besar.
Devan yang mendengarnya, pun dapat memahami kondisi dan keadaan Liyan yang sudah mempunyai anak. Terima tidak terima, Devan berusaha untuk tetap tenang, meski hatinya hancur.
Gimana tidak hancur, perempuan yang dicintainya begitu lamanya, ternyata menjadi milik lelaki lain.
Hubungan yang sudah cukup lama dijalani, rupanya takdir berkata lain, yaitu tidaklah berjodoh. Mau tidak mau, Devan berusaha untuk merelakannya walau sakit.
Saat hatinya terasa sakit, dirinya teringat dengan sosok Aditya, yang juga tidak terpilih untuk menjadi pasangannya. Justru, Vando lah pemenangnya.
Tapi, mungkinkah Liyan ada sesuatu yang disembunyikan? sejak bertemu Vando, Liyan begitu dingin sikapnya. Entah karena canggung, atau tidak ada cinta dihatinya? atau justru rasa itu ada pada Aditya? atau mungkin justru masih bertahan dengan perasaannya yang dulu, yaitu Devan.
__ADS_1
Liyan yang masih menunduk, terasa malu ketika harus mendongak dihadapan dua lelaki yang masih mengharapkannya. Liyan yang sudah memutuskan pilihannya, tetap saja masih merasa malu ketika harus menghadapi Devan.
Devan yang mengerti, pun segera pamit dan keluar dari ruangan tersebut. Sedangkan Vando berusaha untuk tetap tenang, meski berada di situasi yang rumit.