Usai Pernikahan

Usai Pernikahan
Merasa bersalah atas perbuatannya


__ADS_3

Devan menghela napasnya. Kemudian, ia meraih tangan Tantenya.


"Maafkan Devan, Tante. Sepertinya keputusan Devan sudah bulat, yaitu angkat kaki dari rumah. Tante gak perlu ikut aku pindah rumah. Ini rumahnya Tante sama Vando, jangan pindah dari rumah ini. Aku mohon sama Tante, izinkan aku untuk pergi dari rumah ini. Jangan khawatir, aku akan sering datang menemui Tante, dan mengajak Tante jalan-jalan." Ucap Devan tengah memohon.


Ibunya Vando yang terasa berat untuk kehilangan keponakannya, tidak ingin rasanya untuk berpisah. Dari kecil, Devan dirawat sejak bayi layaknya anak kandung sendiri. Bahkan, kasih sayangnya tidak ada yang kurang untuk Devan.


Begitu juga dengan Devan, sebenarnya terasa berat untuk berpisah dengan Tantenya. Namun, dirinya bisa apa? hanya bisa mencari jalan keluar agar bisa menghindari perasaannya.


Ibunya Vando yang tidak bisa memaksa, pun memilih menuruti kemauannya.


"Baiklah, jika memang itu yang menjadi pilihan mu. Tante tidak bisa memaksakan kamu untuk tinggal di rumah ini. Jaga diri kamu baik-baik jika kamu ingin tinggal di tempat lain. Semoga kamu temukan kebahagiaan mu." Jawab Tantenya.


Devan berusaha untuk tetap tenang, meski hatinya terasa hancur ketika kenyataan pahit harus ditelan mentah-mentah. Sakit hati, kecewa, kini dirinya bisa apa? hanya bisa menjalani kehidupannya sebagaimana takdir yang menentukan.


"Tante gak perlu bersedih, toh aku gak pergi jauh. Nanti akan aku sempatkan main ke rumah ini. Tante juga, jaga baik-baik diri Tante. Maafkan aku yang gak bisa mengajak Tante untuk tinggal bersama." Ucap Devan.


"Ya udah, ini sudah malam, Tante mau istirahat. Jaga diri kamu baik-baik. Jangan lupa, kalau mau pindah, pamit sama Tante." Jawab Tantenya.


"Iya, Tante." Ucap Devan dengan anggukan.


Karena badan terasa capek dan udah terasa ngantuk, ibunya Vando segera kembali ke kamar untuk istirahat. Begitu juga dengan Devan, ia pun ke kamarnya untuk bersiap-siap agar paginya tidak terburu-buru.


Saat sudah berada di dalam kamar, sebuah album pernikahan miliknya bersama Liyan, rupanya masih tersimpan rapih di dalam lemari. Dengan perasaannya yang sudah hancur, kini tinggallah hanya sebuah kenangan yang begitu menyakitkan untuknya.

__ADS_1


"Serumit inikah hidupku? tanpa kasih sayang dari orang tua, juga tanpa cinta untukku dari orang yang aku cintai?" gumamnya yang tanpa sadari tengah menitikkan air matanya hingga membasahi album pernikahannya bersama Liyan.


"Aaaaaaaa!" teriak Devan begitu kencang, hancur sudah harapannya bersama impian dan harapan yang ia jaga, namun justru menyakitkan untuknya.


Vando yang kebetulan baru saja keluar dari kamar dan mendengar suara teriakan dari dalam kamar saudara sepupunya karena pintu terbuka, tentu saja dapat ditangkap oleh indra pendengarannya Vando.


"Kak! Kak Devan. Kak Devan kenapa?"


Vando yang khawatir, ia langsung masuk ke kamarnya. Devan sendiri segera mengembalikan album foto miliknya kedalam lemari. Kemudian, ia mengusap air matanya agar tidak terlihat menangis.


"Ngapain kamu masuk ke kamarku. Kaki aku lagi kram, mungkin kolesterolnya naik. Jadi, wajar saja jika aku berteriak. Sudah sana kembali ke kamarmu, gak baik pengantin baru keluar kamar." Sahut Devan yang sama sekali tidak menoleh.


Vando yang penasaran, pun tidak memperdulikannya, ia nekad mendekatinya.


"Kak Devan kenapa? apakah karena pernikahanku?" tanya Vando yang akhirnya membuka obrolan.


"Kamu ngomong apa, Van? gak ada kaitannya dengan pernikahan kamu. Ini nyata kalau kolesterol ku naik, jadinya ya begini, sakit banget area punggungku. Sudah sana balik ke kamarmu. Kasihan istrimu jika kamu biarkan di dalam kamar sendirian. Oh iya, sekalian aku mau pamit. Besok aku mau pindah rumah. Kamu tinggal di rumah ini jaga Tante, aku gak bisa mengajak Tante ikut aku, karena Tante adalah harta paling berharga buat kamu."


Saat itu juga, Vando langsung memeluk Devan tengah merasa bersalah karena sudah menghancurkan kebahagiaan saudara sepupunya sendiri.


"Maafkan aku, Kak. Maafkan aku yang sudah merebut kebahagiaan Kakak. Kalau Kakak ingin marah, luapkan saja emosinya ke aku. Janji, aku tidak akan marah sedikitpun." Ucap Vando menyesalinya.


Devan langsung melepaskan pelukan dari Vando. Kemudian, ia menatapnya dengan serius.

__ADS_1


"Kamu gak bersalah, karena kamu memang gak tahu awal cerita antara aku dan Liyan. Sudahlah, gak perlu kamu membahasnya lagi soal masa laluku. Aku sudah berlapang dada, jika kamu menjadi suaminya Liyan. Aku percaya, jika kamu mampu membahagiakan Liyan istrimu." Jawab Devan berusaha untuk tetap tegar, meski kenyataannya hancur perasaannya.


"Maafkan aku ya, Kak. Aku janji, aku akan bertanggung jawab atas Liyan. Juga, aku akan membahagiakan Liyan." Ucap Vando meminta maaf.


Devan berusaha tersenyum, meski senyumnya terasa getir sekalipun.


"Ya udah, sekarang kamu kembali ke kamar kamu. Sudah malam, sudah waktunya untuk istirahat. Kasihan istri kamu sendirian." Jawab Devan, Vando pun mengiyakan dan segera kembali ke kamarnya.


Kini, Devan tengah sendirian di dalam kamar. Terasa hampa tanpa ada yang menemaninya, dan dijadikan tempat curahan hatinya.


Karena tidak bisa tidur, Devan mengambil gitar dan duduk santai di balkon sambil memainkan gitarnya. Tentu saja alih-alih untuk menghibur diri dari patah hatinya.


Sambil memainkan gitarnya, Devan sambil mengingat kenangan indah bersama perempuan yang sudah menghiasi hari-harinya. Kini seolah tidak ada lagi kenangan yang akan terulang kembali.


Di lain ruangan, Vando yang baru saja masuk ke kamarnya, wajahnya terlihat lesu dan seperti tidak bersemangat.


"Kamu kenapa? kok kelihatannya wajah kamu lesu gitu. Kamu gak dehidrasi, 'kan?" tanya Liyan saat mendapati suaminya hilang semangat.


"Mungkin aku kecapean. Kamu belum tidur? sudah malam ini loh. Katanya perut kamu kram efek datang bulan, kok malah belum tidur."


"Enggak tahu kenapa, aku gak bisa tidur. Mungkin efek hormon, jadi susah buat tidur. Ya udah deh, aku mau maksa diri biar tidur, kasihan juga dengan fisikku kalau sampai aku gak bisa tidur juga. Aku duluan ya."


Vando mengiyakan dan tersenyum, Liyan sendiri bergegas merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dan merubahnya dengan miring sambil memeluk guling.

__ADS_1


Vando yang belum mengantuk, ia memilih duduk bersantai di balkon. Siapa sangka, saat keluar, rupanya ia dapat mendengar dan melihat jika Devan tengah memainkan gitarnya. Juga, terdengar seperti tengah mengingat kembali kenangan dimasa lalunya hanya lewat petikan gitar.


"Maafkan aku, Kak Devan. Tidak seharusnya aku mengambil kebahagiaan mu. Ini salahku, dan aku benar-benar bodoh saat itu. Andai saja aku tahu jika Liyan adalah yang akan menjadi istrimu, tidak mungkin aku akan mengambilnya darimu." Gumamnya penuh penyesalan.


__ADS_2