
Dengan hati-hati, Liyan membuka pintunya. Kemudian, ia masuk ke dalam ruang rawat pasien bersama putranya.
Terlihat jelas jika Vando tengah berbaring lemas dengan kondisi fisiknya yang memprihatinkan. Liyan tidak ytega melihatnya, apa lagi mengalami insiden kecelakaan demi menyelamatkan nyawanya, juga nyawa putranya.
Liyan yang tengah tertunduk sedih saat berada di dekat Vando, terasa berat untuk bicara. Namun, mau bagaimanapun, Vando adalah ayah kandungnya Savan.
Tidak ingin terhanyut dalam suasana, Liyan meraih tangan milik putranya, dan menyatukan tangan mereka saling bertumpu.
Kemudian, Liyan menatap wajah ibundanya.
"Sayang, dia ini ayah kandungnya Savan. Sosok ayah yang Savan rindukan. Sekarang Bunda sudah menepati janji, yaitu mempertemukan Savan dengan ayah. Maafkan Bunda ya, karena sudah membuat ayahnya Savan terluka. Savan mau 'kan, memaafkan Bunda." Ucap Liyan kepada putranya.
Savan mengangguk, dan menoleh ke ayahnya yang tengah berbaring dan dipasang dengan selang infus.
"Ayah, ini Savan. Ayah bangun dong, Savan pingin ngobrol sama Ayah. Savan kangen banget sama Ayah. Sekarang Savan sudah tidak dihina lagi. Savan punya ayah, Savan bukan akan jalanan. Savan sayang ayah." Ucap Savan sambil mengusap punggung tangan milik ayahnya.
__ADS_1
Tidak terduga, rupanya ada respon dari Vando. Jari jemarinya dapat bergerak dan perlahan-lahan kedua matanya membuka.
Liyan yang melihat Vando tersadar dari pingsannya, ia segera menekan tombol untuk memanggil dokter. Saat itu juga, dokter pun datang dan kembali menangani pasien.
Vando mulai merespon saat Savan memanggilnya dengan sebutan ayah, seolah ada keterikatan batin antara anak dan ayahnya.
Dokter memeriksanya lagi, dan terdapat senyum tipis dari kedua sudut bibirnya dokter.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Liyan penasaran.
"Baik, Dok. Terima kasih banyak." Ucap Liyan.
Setelah itu, dokter pun pamit untuk kembali menangani pasien yang lainnya. Sedangkan Liyan akhirnya dapat bernapas lega, karena Vando tidak mengalami hal buruk seperti yang dikhawatirkannya.
Vando yang sudah tersadar dari pingsannya, ia mencoba mengamati disekelilingnya. Tentunya dapat tersenyum bahagia saat Savan dan Liyan berada di dekatnya.
__ADS_1
"Ayah." Panggil Savan dengan senyum yang lebar sambil menatap Vando.
"Jagoan Ayah, rupanya sudah besar. Pantas saja, kamu gak asing bagi Ayah saat kita bertemu." Ucap Vando dan mengusap kepalanya dengan lembut.
Kemudian, Vando mendongak dan menatap wajah Liyan, perempuan yang sudah mencuri hatinya, dan juga membuatnya jatuh cinta, hingga lupa sampai terhanyut dalam asrama.
"Liyan, maafkan aku ya. Aku benar-benar minta maaf atas kesalahan yang pernah aku perbuat. Aku juga siap jika harus menerima hukuman dari kamu. Jujur, aku masih mencintaimu, dan masih berharap, kamu akan menjadi milikku. Tapi, aku sadar diri, mungkin aku tak layak memilikimu, tapi izinkan aku untuk memiliki Savan, meski dengan jarak yang jauh." Ucap Vando.
Liyan yang mendengar pengakuan dari Vando, teringat kembali saat dirinya ma_bok asmara, hingga melakukan sesuatu yang terlarang.
"Aku nurut apa kata Savan, hidupku sepenuhnya milik Savan, kebahagiaannya adalah kebahagiaan ku juga." Jawab Liyan.
Entah mencontoh adegan dari mana, tiba-tiba Savan menyatukan kedua tangan milik kedua orang tuanya.
"Savan ingin Ayah sama Bunda bahagia bersama Savan." Ucap Savan memegangi tangan kedua orang tuanya dengan erat.
__ADS_1
Liyan dan Vando sambil menatap satu sama lain. Malu dan juga merasa canggung itu sudah pasti. Apalagi sudah sekian lama tidak bertemu, pastinya sama-sama merindukan.