
Badan terasa pegal-pegal di pagi harinya, Devan memilih untuk membersihkan diri agar badan terasa enakan. Setelah itu, Devan teringat jika hari itu juga, dirinya segera bersiap-siap selagi hari libur kerja.
Karena tidak ingin membuang-buang waktu luangnya, Devan menyiapkan segala hal penting lainnya untuk ia bawa ke rumah baru yang akan ditempatinya.
Selesai berkemas, Devan segera keluar dari kamarnya. Saat itu juga, Liyan yang hendak menuruni anak tangga, rupanya berpapasan dengan Devan yang juga menuruni anak tangga.
Saat melihat Devan terlihat rapi dengan penampilannya, juga seperti menjinjing tasnya, pun menyimpan rasa penasaran.
"Kamu duluan kalau mau turun." Ucap Devan.
"Kak Devan mau kemana?" tanya Liyan yang akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
"Aku mau pindah rumah, soalnya gak mungkin juga aku tinggal satu rumah bersama orang yang sudah berkeluarga, takutnya akan membawa fitnah. Jadi, aku putuskan untuk angkat kaki dari rumah ini. Ya udah kalau kamu mau turun, silakan." Jawab Devan tidak ada hal yang ditutupinya.
Liyan yang mendengar penjelasan dari mantan suaminya, ia pun menjadi teringat akan masa lalunya bersama mantan suaminya.
"Aku minta maaf." Ucapnya yang tidak bisa berkata-kata lagi.
"Semoga kamu bahagia dengan pilihan kamu." Jawab Devan.
"Terima kasih. Buat Kak Devan juga, semoga temukan kebahagiaan bersama perempuan yang mau menerima apa adanya. Sampai jumpa. Permisi, aku duluan." Ucap Liyan segera turun.
Vando yang tengah memperhatikan istrinya tengah berbicara dengan saudara sepupunya, ada rasa cemburu didalam hatinya.
Devan yang mendengar ucapan dari mantan istrinya, seakan perpisahan untuk selamanya. Sambil memejamkan kedua matanya sejenak, berharap semua akan baik-baik saja. Devan menghembuskan napasnya perlahan, terasa berat untuk menerima kenyataan yang begitu pahit.
'Kamu pasti bisa, Devan. Lupakan, dan lanjutkan perjalanan hidupmu meski harus sendirian.' Batinnya mencoba untuk menyemangati diri sendiri.
__ADS_1
Saat semua barang bawaannya sudah siap untuk dimasukkan di bagasi mobil, Devan mengamati sekitaran rumah yang selama ini menjabat tempat tinggalnya. Kenangan yang begitu banyak ia lewati, kini menjadi jalan perpisahan.
Ibunya Vando yang baru saja keluar dari kamar, dan mengetahui jika keponakannya mau pindah rumah, mencari keberadaan Devan.
Ketika mengetahui asisten rumah tengah disibukkan dengan barang-barang yang mau dibawa pindah ke rumah baru, Ibunya Vando segera keluar untuk mengeceknya.
"Devan. Kamu udah beres-beres kah?"
Devan langsung menoleh saat mendengar Tantenya memanggilnya.
"Iya, Tante. Aku sudah niatkan kalau hari ini aku mau pindah rumah. Aku pingin suasana baru, Tante. Maaf ya, Tante, aku gak bisa ajak Tante untuk tinggal bersama. Tenang aja, rumahku terbuka lebar untuk Tante. Juga, aku bakal sering menemui Tante di rumah ini." Jawab Devan berusaha untuk tetap terlihat baik-baik saja, dan tidak menunjukkan jika dirinya tengah rapuh.
Ibunya Vando langsung memeluknya dengan erat, air matanya pun lolos begitu saja. Perpisahan sudah melebihi dengan anak kandungnya sendiri. Gimana tidak bersedih, sejak bayi, Devan diasuh oleh Tantenya, dan diberi perhatian yang cukup. Tidak untuk Vando, justru Vando tidak mendapatkan kasih sayang sejak bayi karena terpisah dengan ibu kandungnya.
Devan yang tidak ingin Tantenya bersedih, ia melepaskan pelukannya.
"Tante, aku gak pergi jauh. Tante gak perlu menangis, kita masih bisa bertemu." Ucap Devan berusaha untuk tidak membuat Tantenya bersedih dan khawatir.
'Kak Devan sangat beruntung, mendapatkan kasih sayang dari Mama yang begitu besar. Meski sekarang aku juga mendapat perhatian, tetapi lebih sempurna Kak Devan. Tapi, perasaan Kak Devan hancur karena ku.' Batin Vando saat memperhatikan kedekatan ibunya dengan saudara sepupunya.
Devan yang melihat Vando tengah berdiri di ambang pintu, ia mendekatinya. Kemudian, ia menarik lengannya.
"Vando. Aku titip Tante ya, jaga Tante. Kalau kamu membutuhkan sesuatu untuk Tante, kamu bisa hubungi aku. Hari ini aku harus pergi dari rumah, aku mau mencari suasana baru. Soal pekerjaan di kantor, aku akan tetap bertanggung jawab. Kita hanya pisah rumah, dan kita tetap keluarga. Jaga Tante dengan baik, karna aku hanya punya Tante sebagai pengganti orang tuaku." Ucap Devan terasa sesak untuk menahan air matanya agar tidak lolos begitu saja.
Vando langsung memeluk saudara sepupunya, dan menepuk punggungnya pelan.
"Aku akan tepati permintaan mu, Kak Devan. Aku akan jaga Mama dengan sepenuhnya, aku akan bertanggungjawab atas semuanya. Aku do'akan, semoga Kak Devan sukses, dan temukan bahagia di luaran sana." Jawab Vando, dan melepaskan pelukannya.
__ADS_1
Saat pelukannya di lepas, arah pandangan Devan tertuju pada Liyan yang tengah berdiri didepan pintu. Mau bagaimanapun, kini Liyan menjadi bagian saudaranya, Devan mendekati.
"Aku pamit ya, jaga diri kamu baik-baik. Satu lagi, jadi istri yang dapat menyenangkan hati suaminya. Jika kamu ada masalah, jangan pernah lari dari masalah. Tapi, hadapi masalah dengan baik-baik. Itu aja pesanku, dalam buat Savan. Sampai jumpa, bye."
"Iya, Kak. Aku akan ingat pesan darimu. Maafkan aku yang dulu pernah kekanak-kanakan. Makasih nasehatnya. Aku do'akan, semoga Kak Devan segera temukan kebahagiaan bersama perempuan yang akan menjadi pilihan Kakak nanti. Maafkan segala kesalahan ku dimasa lalu. Aku janji, aku akan merubah sifat buruk ku. Juga, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang kedua kalinya." Jawab Liyan merasa malu ketika dihadapkan dengan mantan suaminya.
Devan pun berusaha tersenyum, meski rasanya terasa getir.
"Ya udah ya, aku pamit. Jaga diri kamu baik-baik." Ucap Devan berpamitan.
Setelah itu, Devan berpamitan kepada Vando dan Tantenya.
"Tante, Vando, aku pamit ya. Sampai bertemu lagi, bye." Ucap Devan berpamitan.
"Gak sarapan dulu?"
"Gak, Tante. Nanti sarapannya beli dipinggir jalan." Jawab Devan.
"Hati-hati diperjalanan. Kalau Tante ada waktu, nanti akan main ke rumah mu." Ucap Tantenya, Devan mengangguk dan mencium punggung tangannya.
Setelah berpamitan, Devan bergegas pergi meninggalkan rumah yang pernah menjadi tempat tinggalnya. Ibunya Vando benar-benar terasa kehilangan saat keponakannya pamit pergi untuk pindah rumah. Kenangan yang pernah singgah bersama, kini telah menjadi kenangan semata.
Vando yang tidak ingin ibunya terhanyut dalam kesedihan karena berpisah dengan keponakannya, mengajaknya untuk masuk kedalam rumah.
"Ma, ayo kita masuk. Kita sarapan dulu." Ajak Vando kepada ibunya.
"Iya, Ma. Kita sarapan dulu." Timpal Liyan ikut mengajak ibu mertuanya.
__ADS_1
Saat sudah masuk rumah, terasa sepi dan seperti hilang separuh nyawa dalam rumah, pikir ibunya Vando sambil mengamati isi dalam rumah.
Suasana yang terasa sepi, kini telah diganti dengan hadirnya Savan yang baru saja bangun dari tidurnya.