
Selesai menyiapkan makan malam, Liyan segera memanggil yang lainnya untuk menikmati masakannya yang tengah dibantu oleh Yena.
"Liy, kamu serius nih, kalau kamu akan pulang ke kota dalam waktu dekat ini?" tanya Yena yang terasa keberatan untuk eberaberpisah dengannya, lantaran sudah seperti saudara sendiri.
Apalagi sudah beberapa tahun lamanya, tentunya banyak kenangan kebersamaan suka maupun duka. Juga, terasa berat untuk berpisah dengan Savan, yang sudah dianggapnya sebagai keponakannya.
Liyan duduk sejenak di dapur.
"Iya, Yen. Aku harus kembali ke kota setelah selesai mengurus surat pindah untuk Savan. Juga, aku akan mengurus perceraian ku dengan Kak Devan. Aku tidak ingin mengecewakan Savan, yaitu untuk memenuhi permintaannya." Jawab Liyan terasa berat.
"Kamu yakin mau berpisah dengan Aditya? dia sangat mencintaimu, Liy. Maaf, aku tidak bermaksud membuat mu marah. Aku hanya- em- tidak jadi. Aku akan mendukung keputusan kamu, semoga bahagia bersama pilihan mu." Ucap Yena sedikit ada rasa takut jika ucapannya tidak enak untuk didengar.
"Tidak apa-apa. Aditya bukan anak kecil, dia akan tahu yang akan menjadi pilihanku. Juga, aku sudah mengatakan sesuatu padanya sejak aku diketahui hamil. Oh ya, kamu ajak Aditya dan Vando untuk makan malam, aku mau panggil Ibu sama Savan." Jawab Liyan dan mengalihkan pembicaraannya.
__ADS_1
"Aku gak mau, Liy. Kamu aja yang panggil mereka, aku yang manggil Ibu sama Savan, dah sana panggil calon suami kamu, juga sekalian Aditya." Ucap Yena menolak, dan langsung pergi untuk memanggil ibunya, sekalian Savan.
Liyan yang tidak ada lagi pilihan, terpaksa memanggil Aditya dan juga Vando.
"Lagi ngobrol ya? maaf, sudah ganggu. Aku dan Yena baru saja selesai masak, dan sekarang sudah waktunya untuk makan malam, mari."
Vando dan Aditya sama-sama mengangguk, yakni tanda mengiyakan.
"Iya, nanti kita segera masuk rumah." Sahut Aditya yang lebih dulu, Vando sendiri memilih diam.
Karena tidak ingin terbawa suasana dan salah paham, Vando segera menepis pikiran buruknya. Kemudian, ia dan Aditya masuk kedalam rumah.
Saat makan malam sudah tersaji di atas meja makan, Vando dan Aditya duduk berhadapan. Kemudian, Ibu Arum dan Yena duduk bersebelahan, yakni bersebelahan dengan Aditya. Sedangkan Liyan sendiri sedang menggantikan baju anaknya karena kotor saat makan cemilan.
__ADS_1
Setelah itu, Liyan dan Savan keluar dari kamar.
Saat mau ke ruang makan, Savan menarik tangan ibundanya.
"Bunda, ayo duduk." Ajak Savan sambil menarik ibundanya agar duduk di sebelah Vando.
Tentu saja, posisi mereka berdua berada di hadapan Aditya, sangat jelas untuk diperhatikan.
"Jangan malu-malu ataupun canggung, ayo kita makan, Nak Vando. Anggap saja rumah sendiri. Bukankah tinggal beberapa hari lagi, bahwa kalian akan pulang ke kota. Jadi, jangan sia-siakan makan malamnya di rumah Ibu. Meski hanya sederhana, tapi penuh kesan. Sebenarnya gak ingin berpisah dengan kalian, tapi Ibu gak punya hak untuk memaksa kalian untuk tinggal di kampung sini. Perjalanan hidup kalian masih panjang, dan cita-cita kalian harus digapai. Juga, harapan kalian harus diwujudkan. Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian, semoga bahagia." Ucap Ibu Arum pemilik rumah.
Liyan menunduk, terasa berat juga untuk berpisah pikirnya.
"Ah sudah lah, ngobrolnya nanti lagi. Lebih baik sekarang kita makan dulu, nanti lanjut lagi ngobrolnya." Sambung ibu Arum untuk mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Lebih lagi ada Aditya, tentu saja tidak ingin membuatnya bersedih karena harus berpisah dengan perempuan yang dicintainya.