
Waktu pun telah berlalu, semua sudah diselesaikan dengan sebaik mungkin, termasuk untuk mengurus surat pindah ke kota.
Savan terlihat begitu murung ketika harus berpisah dengan keluarga ibu Arum. Juga, begitu berat untuk meninggalkan kampung yang sudah menjadikannya tempat ternyaman.
Berpisah dengan orang-orang yang sudah menyayanginya, membuat Savan hanya duduk didepan rumah dengan murung.
"Jagoan ayah kenapa? kok gak bersemangat gitu. Kata Bunda, Zavan ingin pergi ke kota. Terus, kenapa jadi lesu begini, sayang?"
Savan masih menunduk, terasa berat buat menoleh. Vando langsung merangkul putranya.
"Savan gak mau berpisah ya, sama Nenek Arum, aunty Yena, dan-"
"Paman Aditya." Sambung Savan yang langsung menyambar ucapan ayahnya yang sempat menggantung.
"Kan, kemarin itu udah bilang sama Savan. Kalau Paman Aditya bakal pergi ke kota, buat nemui Savan. Masa' Savan udah lupa." Ucap Vando mencoba untuk menyakinkan putranya.
"Tara ..... Paman udah siap. Lets go! Paman bakal ikut Savan pergi ke kota, gimana dengan penampilannya Paman, apakah sudah oke?"
Aditya yang sudah sehat dan bersemangat, kini akhirnya ikut pergi ke kota. Bukan sengaja ikut hanya sekedar mengantarkan Savan sampai di kota, melainkan untuk pindah tempat kerja. Sesuai rencananya untuk meneruskan sang ayah karena sudah waktunya untuk istirahat, Aditya akan menetap di kota.
Vando langsung bangkit dari posisinya, termasuk Savan yang langsung berdiri dan memeluk Aditya. Meski Savan sangat mengharapkan ayah kandung, kedekatan Savan bersama Aditya tidak bisa dielakkan.
"Paman serius nih, mau ikut Savan ke kota? terus, Aunty sama Nenek gimana?" tanya Savan, dan arah pandangannya tertuju pada Yena dan ibu Arum.
"Aunty mau jadi pekerja keras di kampung, buat membahagiakan Nenek. Jadi, Savan pulang bareng Ayah dan Bunda, juga ada Paman Aditya, ya. Tenang, nanti Aunty sama Nenek bakal ke kota buat ngobatin kangen sama Savan, gimana?"
Savan memasang muka cemberutnya, ia sengaja menunjukkan kekesalannya karena ibu Arum dan Yena tidak ikut ke kota, pikir Savan sambil berkacak pinggang. Juga, terlihat gemas saat bibirnya dikerucutkan.
Bukannya sedih, justru semuanya tertawa ketika melihat Savan yang begitu menggemaskan. Saat itu juga, Aditya langsung mengangkat tubuh Savan ke atas.
"Paman! takut. Paman turunin." Teriak Savan sedikit ketakutan karena ulah dari Aditya.
__ADS_1
Aditya langsung mengiyakan.
"Go! kita akan ke kota. Ye! ke kota. Paman akan ikut Savan."
Dengan bersemangat, Aditya menggandeng Savan dan segera mengajaknya pergi ke kota.
'Bakal akan ada persaingan berat buatku. Aku rasa kalau Aditya bukan orang sembarangan, terlihat jelas kualitasnya. Jadi semakin penasaran aku dengannya. Kalau bukan orang yang tajir melintir, gak mungkin juga dengan berani ikut ke kota.' Batin Vando yang lupa jika dirinya pernah mengadakan pertemuan dalam acara kerja sama.
Seketika, Vando baru menyadarinya, jika Aditya adalah orang penting dengan rumornya di kota.
'Astaga. Aku baru ingat, bukankah dia itu ahli waris dari seorang duda yang hanya memiliki anak semata wayang. Sedangkan dari istri kedua sama sekali tidak mempunyai anak. Tentu saja, dia lah pemilik saham paling besar.' Batin Vando yang baru menyadarinya.
Meski Vando juga orang yang kaya yang tidak jauh beda derajatnya dengan orang tuanya Liyan, tetap saja ia pernah dibenci karena kesalahannya sendiri.
Vando yang tengah memperhatikan kedekatan Aditya dengan Savan, masih membuatnya cemburu. Dilain sisi, Liyan menjadi penyemangat untuknya.
"Jangan sedih gitu lah. Lagi pula, Aditya hanya sebentar di kota. Jadi, buang saja pikiran negatif kamu." Ucap Liyan yang belum mengetahui atas kebenarannya soal Aditya, lantaran karena dirinya tidak berangkat dengan alasan sakit.
"Van. Kamu itu karena berpikirnya kemana-mana. Jadinya ya gini, kamu jadi over." Ucap Liyan.
Vando langsung memegangi kedua lengannya, dan menatap Liyan dengan seksama.
"Bagaimana aku gak over, kalau aku harus menyaksikan Aditya memberi perhatian penuh kepadamu, juga kepada Savan. Aku sadar diri, aku tidak ada kedekatan sama sekali dengan mu, juga dengan Savan. Aku sadar, sikapku ada sedikit kaku. Aku menyadarinya, Liy."
"Aku ngerti posisi kamu. Semua butuh waktu, dan juga kebiasaan. Aku yakin kalau kamu sudah satu rumah denganku dan juga Savan, kamu bakal mendapatkan waktu bersama putramu. Buang egomu, dan emosi kamu di kurangi, mungkin akan menjadi lebih tenang, dan juga tidak mudah terbawa emosi. Savan butuh kamu, tapi bukan dengan sikap mu yang arogan untuk ditunjukkan di hadapan putramu sendiri." Ucap Liyan mencoba untuk mengingatkannya.
Ibu Arum yang mendengarnya, pun mendekati mereka berdua.
"Yang kamu dengar dari omongan Nak Liyan itu memang benar, Nak Vando. Kamu harus lebih banyak waktu dengan Savan nantinya. Jangan pentingkan egomu, atau kehendak mu. Tapi, cobalah untuk bersikap tenang, namun dapat mengambil hati putramu." Timpal Ibu Arum ikut memberi nasehat kecil kepada Vando.
"Ya, Bu. Makasih sudah mengingatkan. Saya hanya takut saja, jika Liyan akan memilih Aditya, juga Savan. Hingga pada akhirnya saya gagal memiliki mereka berdua." Jawab Vando.
__ADS_1
"Yang terpenting kalian berdua saling percaya, dan juga saling menjaga perasaan satu sama lain. Ibu hanya bisa memberi doa yang terbaik untuk kalian berdua, semoga bahagia nantinya." Ucap Ibu Arum.
Liyan dan Vando sama-sama mengangguk.
"Iya, Bu. Terima kasih banyak atas diizinkannya kami tinggal di rumah Ibu. Juga, sudah memberi perhatian penuh kepada Liyan dan Savan. Maafkan kami yang belum bisa membalas kebaikan Ibu, juga Yena. Semoga Ibu Arum dan Yena, selalu diberi kesehatan. Jika merindukan Savan, hubungi nomor kami, nanti kami akan menjemput Ibu dan Yena ke kota. Rumah kami terbuka lebar untuk Ibu dan juga Yena." Jawab Vando.
Ibu Arum tersenyum.
"Ya, nanti akan ibu kasih kabar kalau kami ingin bertemu dengan Savan." Ucap Ibu Arum.
"Kalau Ibu Arum dan Yena berkenan, kami tidak keberatan tinggal bersama kami." Jawab Vando.
"Tidak perlu. Ibu dan Yena akan tetap tinggal di kampung. Kami berdua lebih nyaman dengan keadaan yang sekarang ini. Tapi, jika Yena ingin pergi ke kota, Ibu juga tidak akan melarang." Ucap Ibu Arum.
Yena yang mendengarnya, pun seolah mendapatkan izin untuk mengadu nasib ke kota, pikirnya.
"Ibu beneran nih, mau ngizinin Yena ke kota? maksudnya tuh, bukan sekarang, tapi entah kapannya."
"Iya, Ibu izin. Apa yang menjadi pilihan mu, jika itu baik, ibu akan mendukung mu." Jawab ibunya dan tersenyum.
Yena dengan semangat dan girangnya, langsung memeluk ibunya sudah seperti menang lotre.
"Kita sudah ditunggu, ayo kita pamit, takutnya nanti jalanan macet." Ucap Vando yang tidak ingin waktunya terbuang sia-sia.
"Bu, Liyan pamit ya, Bu. Jaga diri Ibu baik-baik. Kalau Ibu ingin bertemu Savan, hubungi Liyan ya, Bu. Nanti akan kami jemput. Maafkan Liyan yang sudah banyak merepotkan Ibu dan Yena. Liyan tidak akan pernah melupakan Ibu dan juga Yena. Kalian berdua adalah bagian keluarga kami. Maafkan Liyan yang belum sempat membalas budi kepada Ibu, Liyan sayang Ibu." Ucap Liyan berpamitan, dan langsung memeluknya dengan erat.
"Jaga diri kamu baik-baik ya, Nak. Ibu juga sayang sama kamu, juga Savan. Kalian berdua sudah Ibu anggap anak dan cucu Ibu. Bahagia selalu untuk mu bersama keluarga kecilmu nanti. Salam buat kedua orang tua kamu." Jawab Ibu Arum sambil mengusap punggung miliknya Liyan.
Setelah itu, Liyan berpamitan dengan Yena. Keduanya benar-benar terasa berat untuk berpisah. Keduanya sudah seperti kakak-beradik.
"Jaga diri kamu baik-baik ya, Yen. Telepon aku kalau kamu ingin ke kota. Nanti akan ada yang jemput kamu. Tapi, kalau bisa sama Ibu. Ya udah ya, aku pamit. Sampai jumpa, sampai bertemu lagi. Bye." Ucap Liyan berpamitan. Keduanya menangis, lantaran terasa berat untuk berpisah.
__ADS_1
Kemudian, Aditya bersama Savan ikut berpamitan.