
Waktu pun sudah sore, semua kerjaan sudah dibereskan meski masih ada yang belum selesai diperbaiki.
"Aku pulang duluan ya, selamat bersenang-senang buat kalian yang mau makan makan. Nanti malam aku harus pergi soalnya, maaf gak bisa ikut kumpul-kumpul bareng kalian. Lain kali akan aku uusahakan untuk kumpul bareng kalian. Ya udah ya, aku pulang." Ucap Devan yang tengah berpamitan untuk pulang.
"Ya Dev, hati-hati. Selamat bersenang-senang buat kamu juga, yang akan bertemu dengan mantan istri dan juga calon istri, lengkap sudah pokoknya ya." Jawab Topi setengah meledek.
"Apaan lah, mantan istri ya calon istri. Jangan gile Bro. Ya udah ya, aku pulang duluan." Kata Devan.
"Hati-hati Bro. Jangan lupa buruan dinikahi." Ucap Jino dan Doni bersamaan.
"Ya! tenang saja." Jawab Devan dan bergegas pergi.
Karena tidak ingin membuat kecewa dan menunggu lama, Devan segera pulang ke rumah kosannya. Sampai di rumah kos, Devan langsung membersihkannya diri agar badan tidak kotor. Rasa capek dan ingin istirahat seolah diabaikan karena tidak ingin membuat Liyan menunggu.
Tidak memakan waktu lama, akhirnya Devan selesai juga mandinya. Badan yang sudah terasa wangi dan juga segar, untuk sementara ia merebahkan tubuhnya di kasur lantai sambil menyalakan ponselnya untuk melihat ada pesan masuk atau enggaknya.
Melihat layar ponselnya yang tidak ada pesan masuk maupun panggilan masuk, rupanya dikagetkan dengan suara ketukan pintu.
"Bentar." Sahut Devan sambil bangkit dari posisinya, dan segera membuka pintunya.
"Permisi, Tuan. Maaf, saya diminta oleh Tuan Boni untuk menjemput Tuan." Ucapnya yang langsung pada pokok intinya.
"Sebentar dulu ya, Pak. Saya mau ambil jaket dulu." Jawab Devan yang sudah siap untuk berangkat.
"Baik, Tuan. Silakan." Ucapnya sambil menunggu di depan rumah kos.
Devan yang sudah siap dengan penampilannya sederhana, tidak membuat nyalinya menciut. Justru si Devan merasa percaya diri dan tidak ada yang dilebih-lebihkan.
Selama perjalanan menuju kediaman keluarga Aritama, Devan memperhatikan jalanan sambil melamun sesuatu.
__ADS_1
'Aku tidak pernah menyangka jika nasib yang sedang aku jalani ini bukanlah mimpi. Yang aku tahu saat ini hanyalah bisa tidur nyenyak itu sudah sangat cukup. Aku berharap Liyan tidak akan mengecewakan ku lagi.' Batin Devan sembari memperhatikan banyaknya pengendara yang lalu lalang di jalanan.
Sedari tadi yang terus melamun, tidak terasa sudah sampai di halaman keluarga mantan istrinya. Kemudian Devan segera keluar dari mobil.
Saat sudah turun dari mobil, Devan benar-benar masih mengingat semuanya tentang hubungannya bersama Liyan. Bahkan saat dirinya mengembalikan Liyan ke orang tuanya karena rasa sakit hati soal istrinya dulu tidak mau melayaninya, melainkan berucap dengan kalimat yang sangat menyakitkan.
Kenangan buruk untuknya telah mengajarkan dirinya menjadikan lebih baik lagi dalam menyikapi masalah. Perasaan cinta tidak membuatnya goyah, karena merasa yakin jika suatu hari nanti akan mendapatkan kebahagiaan walau sulit untuk dijalaninya.
"Mari Tuan, sudah ditunggu." Ucap Pak supir, Devan mengangguk dan masuk ke rumah.
Sampainya di ruang keluarga, Devan melihat sudah pada rapi dengan penampilannya masing-masing.
"Permisi Tuan, selamat malam. Maafkan saya yang sudah membuat menunggu." Ucap Devan menyapa.
"Malam juga, ayo kita langsung berangkat saja kalau gitu. Soalnya takut kemalaman, jadinya langsung berangkat saja." Jawab Tuan Boni dan langsung mengajak untuk berangkat pergi ke restoran.
"Ini, kunci mobilnya. Kalian naik satu mobil berdua. Biar aku sama Mama dan Papa. Jangan menolak, ini kuncinya." Ucap Zavan yang langsung menyodorkan kunci mobil miliknya.
"Memangnya kalian mau aku ganggu? hem. Sok jual mahal kamu, dah ini diambil dan kalian satu mobil berdua. Gak ada pak supir, sengaja aku minta sama kamu yang nyetir, biar kalian ada banyak waktu untuk berduaan. Dah, jangan sungkan. Nih ambil kunci mobilnya." Ucap Zavan.
"Iya Dev, ambil saja kunci mobilnya. Agar kalau mau mengobrol berdua gak canggung, karena gak orang lain bersama kalian. Dah diambil kunci mobilnya, biar Zavan satu mobil bareng kami." Timpal Tuan Boni ikut bicara.
"Ya Nak, ambil saja kuncinya." Ucap istrinya Tuan Boni ikut menimpali.
Sekilas si Devan menoleh ke arah Liyan untuk mendapat persetujuan meski hanya lewat kode.
Devan yang tidak mungkin bisa menolak, akhirnya menerima kunci mobil dari Zavan setelah mendapat kode dari Liyan.
Dalam perjalanan, keduanya menikmati padatnya kendaraan yang lalu lalang menikmati malam minggu.
__ADS_1
"Kemarin aku sudah menerima akta cerai." Ucap Liyan sambil menatap lurus ke depan.
Kemudian, Liyan menoleh ke arah Devan yang sedang menyetir. Saat itu juga Devan ikutan menoleh dan saling menatap satu sama lain.
Karena takut kenapa-napa, Devan kembali fokus dengan setir mobilnya dengan menatap lurus ke depan.
Karena pembicaraan yang cukup serius, Devan menepikan mobilnya. Setelah mobil berhenti, Devan mengganti posisi duduknya sedikit menyerong. Ditatapnya dengan serius, Devan menatap lekat kepada Liyan.
"Mau kamu gimana? apakah kamu benar-benar sudah bersedia menikah denganku?" tanya Devan pada pokok inti pembahasan.
Liyan tersenyum dan mengangguk.
"Kamu beneran serius menerimaku yang tidak mempunyai apa-apa ini? pikirkan lagi, karena tidak cuma aku yang menginginkan untuk menikah denganmu."
Sejenak Liyan terdiam, ia mencoba untuk mencernanya.
"Aku serius menerima Kakak dengan kondisi apapun. Aku bersedia menjadi istrinya Kak Devan tanpa peduli status sosial maupun yang lainnya." Jawab Liyan.
"Kamu serius? aku ini tak punya apa-apa untuk penuhi kemewahan yang sering kamu dapatkan dari kedua orang tuamu, kakak kamu, maupun dari sosok Devan yang pernah kamu kenal dulu. Aku hanya pekerja titik nol, aku tidak mempunyai sesuatu yang lebih." Ucap Devan tidak yang ditutupi.
Liyan yang mendengar ucapan dari Devan, langsung meraih tangannya. Kemudian, Liyan tersenyum.
"Aku siap menjalani hidup bareng Kak Devan dari titik nol. Aku hanya ingin menikah dengan Kakak, bukan dengan yang lain." Jawab Liyan dengan jujur.
Devan tersenyum mendengarnya, dan dicium keningnya dengan lembut.
"Aku akan segera menikahi mu dalam waktu dekat ini, tapi tetap menunggu restu dan persetujuan dari keluargamu. Mau bagaimanapun, kita harus meminta restu kepada mereka." Ucap Devan, Liyan pun mengangguk.
"Iya Kak. Aku akan bersabar, dan tidak akan buru-buru." Jawab Liyan dan tersenyum.
__ADS_1
"Ya udah kalau gitu, kita lanjutkan lagi perjalanan kita. Takutnya kita sudah ditunggu. Aku janji, aku tidak akan mengecewakan mu." Ucap Devan yang akhirnya dapat bernapas lega, lantaran pernikahannya benar-benar murni saling menginginkan, tidak dalam paksaan.
Karena tidak ingin ditunggu lama, Devan menambah kecepatan laju kendaraan agar segera sampai ke tempat tujuan.