
Tidak ingin suasana menjadi memanas karena ada yang cemburu diantara keduanya, Liyan memilih untuk kembali ke kamar.
"Em- aku udah ngantuk, aku ke kamar duluan. Oh ya, nanti jangan lupa kipas anginnya dimatiin. Satu lagi, lampunya juga, karena hidup harus hemat, jangan pemboros. Duluan ya, selamat malam." Ucap Liyan pamit dan memilih untuk kembali ke kamarnya.
"Iya, selamat malam." Jawab keduanya bersamaan.
Vando yang gagal malam berduaan dengan Liyan, merasa kesal dan juga sial. Tapi tidak untuk Aditya, justru dirinya tersenyum senang saat Liyan kembali ke kamarnya karena gagal duduk bersama Vando.
Malas mengobrol dengan Vando yang diketahui akan menikah dengan Liyan, ia memilih ikutan kembali ke kamar.
"Selamat malam juga, Van. Aku pun udah ngantuk, duluan ya." Ucap Aditya.
Vando yang seolah dibuatnya kesal karena ulah Aditya yang sudah merusak suasana hatinya, ingin rasanya melayangkan sebuah tinjuan kepada Aditya. Namun ia tahan, karena tidak ingin membuat kegaduhan, lebih ada anaknya sendiri, pastinya harus menjaga sikapnya.
'Awas saja kamu, Dit. Aku bakal bawa Liyan kembali ke kota, dan aku tidak akan membiarkan kamu untuk bertemu.' Batin Vando yang tidak ingin perempuan yang dicintainya jatuh hati kepada Aditya.
__ADS_1
Merasa kesal, akhirnya Vando mematikan kipas angin dan lampu penerang di ruang tamu, lalu kembali ke kamarnya.
Saat tengah rebahan didalam kamarnya Liyan, tiba-tiba Vando menaruh rasa penasaran dan ingin mengecek isi kamar dari perempuan yang telah melahirkan putranya.
Alih-alih untuk melihat-lihat, Vando mengunci kamarnya terlebih dulu sebelum ada orang yang masuk begitu saja.
Lima tahun lebih sudah, Liyan tinggal di kampung, yakni di rumahnya Ibu Arum. Perempuan janda yang diketahui mempunyai satu anak perempuan, yakni Yena.
Sambil meraba meja yang dan kaca yang biasa untuk bercermin. Tiba-tiba arah pandangannya tertuju dengan laci kecil di hadapannya, pun menyimpan rasa penasaran.
Tidak dibuka membuatnya penasaran, dibuka terkesan tidak sopan. Tetap saja, Vando tidak bisa menahan rasa penasarannya. Dengan sengaja dan tidak peduli jika si pemilik akan marah, Vando tetap membukanya.
Pelan-pelan membukanya, Vando sangat hati-hati karena takut suaranya mengagetkan si empunya.
Saat laci dapat di tarik, Vando meraba isi didalamnya. Rasa penasarannya, pun membuatnya tidak sabar ingin melihat ada apa didalamnya, pikirnya.
__ADS_1
Saat tangannya mencari sesuatu didalam laci, Vando mendapati buku tebal seprti buku khusus catatan tentang pemiliknya. Saat itu juga, Vando mengambilnya.
"Buku diary. Apa ya, isi tulisan didalam buku ini? penasaran. Semoga aku bisa mendapatkan jawaban soal isi dalam buku ini. Tapi, kalau isinya menyakitkan untukku, bagaimana? apakah aku siap untuk membacanya? kalau ternyata nama Aditya yang tertulis di dalam buku ini, bagaimana dengan perasaan ku? Tapi, kalau gak aku lihat dan gak aku baca, mana bisa aku mengetahuinya." Gumam Vando dengan penuh tanda tanya saat ingin membuka buku privasi miliknya Liyan.
Karena tidak ingin dihantui dengan rasa penasaran, Vando membukanya. Selanjutnya Vando mencoba untuk membaca lembaran pertama.
Tidak terasa, bibir Vando terasa kelu saat membaca di bagian lembaran utama. Sungguh tulisan yang menyayat hati, malah nama dia yang disebut dalam awal paragraf.
Terasa sesak saat membacanya. Vando merasa bersalah atas perbuatannya dimasa lalunya.
Namun, tiba-tiba ia kepikiran jika akhir dalam tulisannya berakhir dengan nama Aditya, pikirnya.
Masih takut untuk melanjutkan tulisannya Liyan, Vando mengatur pernapasannya sejenak.
Vando yang tidak ingin otaknya terus kepikiran dan tidak bisa tidur dengan tenang, akhirnya memilih untuk melanjutkan bacaannya. Tidak peduli baginya jika tulisan yang akan ia baca bakal menyakiti perasaannya.
__ADS_1
Benar saja, lembaran berikutnya telah menyebutkan nama Aditya, dan Vando terbakar api cemburu ketika Liyan menuliskan kalimat soal Aditya yang selalu memberi perhatian pada Liyan sejak diketahui hamil.
Rasa teriris sangat menyakitkan bagi Vando saat perempuan yang dicintainya telah mendapatkan perhatian penuh dari Aditya.