
Sesuai ajakan Vando, satu keluarga bersama Yena tengah bersiap-siap untuk melakukan perjalanan menuju pantai.
Yena yang tengah merasa kehilangan ibu satu-satunya yang menjadi sandaran hidupnya, kini dirinya seperti hidup sebatang kara. Meski ada Aditya yang menjadi bagian keluarganya, tetap saja mempunyai keluarga sendiri.
"Kamu kenapa, Yen?" tanya Liyan yang tengah membuyarkan lamunannya.
Yena terkesiap saat Liyan mengagetkan dirinya. Susah payah untuknya tersenyum.
"Enggak apa-apa, Liy. Oh iya, tadi kamu dari mana? kamu berantem ya sama suami kamu?"
Yena mengalihkan apa yang sedang dia pikirkan, dan memilih untuk mencari pembicaraan yang lainnya.
"Enggak berantem sih. Cuma, tadi ada kesalahpahaman saja, antara Vando sama Aditya. Mulai sekarang aku dilarang untuk bertemu, ataupun menerima Aditya sebagai tamu di rumah ini tanpa seizin suami aku. Juga, aku dilarang bertemu dengan mantan suami aku." Jawab Liyan yang kelihatan lesu dan tidak bersemangat.
"Berarti suami kamu sangat mencintaimu, dan takut kehilangan kamu. Secara kamu itu pernah dekat dengan Aditya, dan satu rumah lagi. Jadi, mungkin aja cemburu akut. Juga, sama kek mantan suami kamu. Soalnya kamu gak cuma dekat saja, tetapi pernah menjalin hubungan asmara dengannya, dan malah sudah menikah." Ucap Yena memberi penjelasan.
"Iya sih, mungkin cemburu akut. Tapi, gak seharusnya melarang untuk bertemu. Kalau pas kebetulan, gimana? atau ada urusan mendadak atau apalah, kita kan gak tahu, Yen. Entah lah, aku akan menjalaninya sebagaimana air itu mengalir." Jawab Liyan dengan lesu.
"Sudah lah, gak perlu kamu pikirkan serumit ini. Jalani saja sebagaimana air itu mengalir, kata kamu. Lebih baik kamu fokus dengan Savan, tidak untuk yang lainnya. Kebahagiaan akan datang dari orang mencari kebahagiaan itu. Jangan menyerah, waktu masih panjang. Ya udah yuk, kita berangkat. Hari ini kamu nikmati liburannya bersama suami kamu." Ucap Yena menyemangati.
Liyan yang sudah akrab dan menganggap Yena bagian keluarganya, mereka berdua berpelukan.
Tidak mau membuang waktunya, Vando mengajak keluarganya untuk bepergian ke pantai.
Dalam perjalanan, yakni menuju pantai yang menjadi tempat tujuan berwisata, didalam bernyanyi sambil menikmati pemandangan yang dilewatinya.
Sampainya di pantai, semua turun dari mobil. Yena bersama ibunya Vando tengah menemani Savan bermain pasir ditepian pantai. Sedangkan Vando bersama istrinya tengah menyusuri pantai untuk menikmati liburannya.
Tidak hanya sekedar mengajak jalan-jalan, Vando juga memberi kejutan kejutan kecil kepada istrinya, keduanya nampak bahagia dengan tawa keceriaan.
"Aku mau bermain sama Mama, Savan, dan Yena, ya. Kamu boleh duduk bersantai. Nanti kita gantian." Ucap Liyan meminta izin.
"Iya, sayang. Ya udah sana kalau mau bermain senang Savan, Mama, juga Yena. Aku duduk dibawah pohon yang ada di sana ya. Ingat, jangan ke tengah tengah, takutnya ada ombak besar. Ingat, taati rambu-rambu di laut." Jawab Vando yang tengah mengizinkan istrinya untuk bermain dengan putranya.
Vando yang lebih memilih duduk bersantai, dirinya menikmati pemandangan di sekitarnya.
Liyan yang sudah tidak sabar untuk bermain ditepian laut, langsung mengagetkan Savan maupun ibu mertuanya, termasuk Yena.
__ADS_1
"Bunda. Ngagetin aja deh. Savan lagi main pasir laut nih Bun." Ucap Savan sambil bermain pasir.
"Gimana kalau kita main di pinggir laut, asik keknya. Yuk, kapan lagi." Ajak Liyan untuk bermain di pinggiran laut.
"Gak bahaya kah? tuh lihat, ombaknya lumayan gede." jawab ibunya untuk mempertimbangkan ajakan dari Liyan.
"Asal jangan menengah sih, gak apa-apa, Ma. Kita cuma di pinggiran saja. Nanti kita bergandengan tangan. Bentar, aku ambil ponsel dulu, nanti kita minta di video." Ucap Liyan memberi solusi.
Karena memang momennya sangat pas, tidak ada yang menolak ajakan Liyan.
Setelah kamera sudah on oleh seseorang yang dimintai tolong, Liyan, Yena, Savan, maupun ibu mertuanya begitu asik menikmati momen kebersamaan.
"Asik ... hore..." teriak Savan dengan riang.
Begitu juga dengan Liyan maupun ibu mertua, juga Yena yang sama-sama menikmati keseruannya.
Karena begitu asiknya saat menikmati keseruannya, ombak yang menggulung tinggi, tak dihiraukan oleh mereka. Begitu asik, hingga lupa dengan keselamatan mereka.
Seketika, ombak besar menghantam punggung mereka berempat. Nahas, tangan yang masih bergandengan, tiba-tiba lepas semua karena reflek hantaman ombak ke punggung mereka.
Ombak yang cukup kuat, pun langsung menyeret kakinya Savan dan ibu mertuanya Liyan. Mereka berdua terjatuh.
"Bunda!"
"Li-yan!"
"Bun-Bunda!"
Anak dan ibu mertua sama-sama berteriak saat ombak menyeret bagai melahap mangsa. Keduanya ke telan ombak yang menggulung hingga terbawa oleh arus.
"Savan! Mama!" Teriak Liyan berusaha mengejar.
Niatnya mau berenang, namun di tahan oleh Yena. Semua pariwisata yang melihat kejadian tersebut berteriak histeris saat melihat korban terseret ombak yang menggulung.
"Savan...!
"Savan...! Mama...!" teriak Liyan bersamaan dengan Yena yang terus memanggil.
__ADS_1
Vando yang melihat ada keramaian di pinggiran pantai, langsung bangkit dari posisinya. Kemudian, ia berlari untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Banyaknya kerumunan, membuat Vando kesulitan untuk mencari keluarganya.
"Ada apa ini? ada apa?" tanya Vando sambil mencari keberadaan keluarganya.
Liyan dan Yena yang sedari tadi memanggil anak dan ibu mertuanya yang terseret ombak, Liyan langsung jatuh pingsan.
Vando yang melihat istrinya jatuh pingsan, langsung berlari untuk mendekati.
"Mana Savan, Mama dimana?" tanya Vando dengan panik.
Yena begitu sulit untuk bicara, bibirnya terasa kelu. Jangankan untuk menjawab, untuk menunjuk ke arah pantai saja kesulitan. Tangannya gemetaran.
"Yena! dimana Savan. Juga, Mama."
Kini, Vando membentak Yena.
"I-i-itu." Jawab Yena dengan gemetaran.
Saat itu juga, Vando baru mengerti kalau Savan dan ibunya terseret oleh ombak.
"Apa!" teriak Vando dan tidak peduli untuk mencari anak dan ibunya.
Nahas, banyak orang yang menahan Vando agar tidak gegabah untuk berenang di lautan.
"Savan..! Mama...! Savan...! Mama...!"
Vando berteriak histeris memanggil anak dan ibunya. Sedangkan Liyan segera ditangani, takutnya kondisinya akan drop.
Yena sendiri terus menangis, dirinya benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Tidak punya cara lain, akhirnya mengambil KTP yang ada di tas miliknya liyan agar polisi mudah untuk mendatangi rumahnya.
Vando yang terus memberontak untuk mencari keberadaan anak dan ibunya agar terselamatkan, beberapa orang menahan akai nekadnya agar tidak menjadi korban juga, lantaran cuaca di laut sedang ekstrim.
"Savan...! Mama...!" teriak Vando yang terus memanggil nama anaknya dan juga ibunya.
Liburan yang disangkanya akan membawa bahagia, justru telah membawa petaka. Seketika, Vando jatuh dan tersungkur, dikarenakan kedua kakinya tidak mampu untuk menopang berat badannya.
__ADS_1
Karena darurat, Vando segera dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk dilakukan pertolongan. Sama halnya dengan Liyan. Tim penolong dan yang lainnya termasuk anggota polisi segera mengerahkan bantuan untuk melakukan pencarian korban.
Sedangkan di kantor, Zavan selaku kakaknya Liyan yang tengah mendapat kabar buruk, sangat sock dan segera menghubungi orang tuanya, termasuk Aditya dan Devan.