
Aditya sendiri dibuatnya bingung saat ibu bidan menatap pada dirinya.
"Apakah kamu suaminya pasien?" tanya ibu bidan kepada Aditya.
Tentu saja, Aditya maupun Yena sama-sama kaget.
"Iya, Bu. Dia suaminya." Jawab Yena yang langsung mengiyakan.
Adit langsung menepuk punggung miliknya Yena dengan spontan.
"Yena. Apa-apaan sih kamu." Ucap Aditya sedikit gugup ketika harus berhadapan dengan ibu bidan.
"Mari ikut kami ke ruangan, untuk mbaknya di mohon untuk menunggu di luar." Ajak ibu bidan, tak lupa berpesan kepada Yena.
"Iya, Bu Bidan." Jawab Yena dengan anggukan.
Sedangkan Aditya di dorong oleh Yena untuk ikut masuk ke dalam. Bagai menelan buah simalakama, yang entah apa yang akan terjadi di dalam ruang pemeriksaan, pikirnya Adit.
"Kalau boleh tahu, pasien kenapa ya, Bu Bidan?" tanya Adit yang menyimpan rasa penasaran.
Sedangkan Liyan sendiri masih lemas, kesadarannya belum stabil. Alhasil, Bu Bidan meminta Aditya yang diketahui suaminya, diajak masuk kedalam ruangan pemeriksaan.
"Kamu ini gimana toh, orang sama istrinya sendiri kok canggung gitu. Jangan malu malu sama. Selamat ya, istri kamu telah hamil. Usianya jalan enam minggu." Jawab Bu Bidan memberi ucapan selamat kepada Aditya.
Liyan maupun Aditya, pun sama-sama terkejut mendengarnya.
"Apa! ha-hamil?"
Liyan sangat terkejut mendengarnya, sungguh bagai tersambar petir di siang bolong.
Aditya tidak tahu harus berkata apa. Perempuan yang sudah mencuri hatinya, tiba-tiba dikejutkan dengan kebenaran, yakni telah hamil lima minggu. Tentu saja, tubuhnya mendadak lemas.
__ADS_1
Liyan sendiri diam seribu bahasa, sungguh bagai mimpi buruk baginya.
"Kok kalian berdua diam diaman, kenapa? seharusnya kalian berdua itu senang."
"Eh iya, Bu. Kami berdua terbawa suasana, soalnya sudah sekian lama kami menunggu kehadiran calon sang buah hati." Jawab Aditya yang akhirnya terpaksa berbohong dan bermain drama di depan Ibu Bidan.
"Ya, Bu Bidan, kami berasa mimpi. Terima kasih atas kabar baiknya ya, Bu." Ucap Liyan ikut angkat bicara.
"Sama-sama, dijaga kesehatannya. Jangan lupa juga untuk terus periksa kandungan. Juga, jangan jaga pola makan. Minum susu yang rutin, dan vitamin, serta buah-buahan, juga sayurannya. Masih banyak lagi, tinggal diri sendiri bagaimana cara mengatur pola makannya."
"Ya, Bu Bidan. Sebelumnya terimakasih banyak atas penanganannya." Ucap Liyan.
Setelah itu, Liyan dibantu Aditya keluar dari ruangan pemeriksaan.
"Liyan, gimana keadaan kamu, baik-baik aja, 'kan?" tanya Yena yang begitu khawatir kepada Liyan.
Baru saja keluar, langsung mendapat pertanyaan dari Yena.
Selama dalam perjalanan pulang, Liyan maupun Aditya belum mengatakannya dengan jujur, Liyan sendiri masih banyak alasan untuk menjawab beberapa pertanyaan dari Yena.
Tidak memakan waktu lama, akhirnya sampai juga di depan rumah.
Bu Arum yang tengah menyapu halaman, tiba-tiba dikejutkan datangnya mobil perusahaan masuk ke halaman rumahnya Bu Arum.
Dengan penuh hati-hati, Yena bersama Aditya membantu Liyan turun dari mobil. Ibu Arum yang melihatnya, pun bergegas untuk melihatnya.
"Loh, ada apa ini? kenapa dengan Nak Liyan?" tanya ibu Arum yang dibuatnya kaget ketika Liyan tengah dibantu berjalan sampai ke dalam rumah.
"Tidak apa-apa, Bu. Saya hanya kecapean saja." Jawab Liyan yang penuh alasan.
Takut, itu sudah pasti. Jangan kepada ibu Arum, kepada Yena saja sama sekali belum memberitahukannya. Hanya kepada Aditya lah yang tahu atas kebenarannya.
__ADS_1
Karena harus kembali ke tempat kerja, dan juga mengembalikan mobil, Yena bersama Aditya langsung berangkat agar tidak kehilangan waktu kerja.
Liyan sendiri yang tengah bersandar di kepala tempat tidur, masih kepikiran dengan kondisinya yang tidak tahunya hamil.
Saat itu juga, Liyan mengingat kenangan dimalam yang tidak seharusnya dilakukan oleh Liyan maupun Vando. Sungguh merasa jijik ketika harus mengingatnya.
Rasa kecewa dan sakit hati, ternyata masih dirasakan oleh Liyan.
Liyan memegangi perutnya, benar-benar merasa jijik ketika harus mengingat kenangannya bersama Vando.
Liyan terus memukul perutnya karena seperti menolak kehadiran si jabang bayi. Namun, aksinya dapat di ketahui oleh Ibu Arum.
"Nak Liyan. Nak Liyan, kamu kenapa? kenapa kamu memukul perutmu itu, Nak?"
Bu Arum mencoba melerai dan menghentikan aksi Liyan yang tengah menyakiti perutnya sendiri.
Ibu Arum yang melihat aksi Liyan, pun langsung memeluknya. Liyan sendiri menangis sesenggukan.
"Nak Liyan, kamu kenapa? ceritakan sama Ibu, ada apa dengan kamu? apakah ada orang yang berniat mencelakai kamu? katakan sama Ibu, siapa orangnya."
Liyan masih menangis sesenggukan. Terasa berat jika harus mengatakannya dengan jujur. Lebih lagi sesuatu yang sangat menjijikkan, membuat Liyan enggan untuk berkata jujur.
"Ayo lah, Nak. Ceritakan sama Ibu, ada apa sebenarnya dengan diri kamu, Nak? apakah Yena sudah menyakiti mu, atau Aditya yang sudah bersikap kasar padamu?"
Liyan masih diam, tak kuasa untuk berterus terang. Namun, mau sampai kapan untuk menyembunyikan rahasia, semua bakal terkuak dengan sendirinya.
"Liyan hamil, Bu." Jawab Liyan yang akhirnya mengakuinya.
Sungguh, Ibu Arum bagai tersengat listrik dengan tegangan tinggi. Ibu Arum langsung melepaskan pelukannya, dan kini menatap wajah Liyan yang masih terlihat pucat.
"Kamu hamil? dengan siapa, Nak? apakah Aditya yang melakukannya?"
__ADS_1
Tanpa berpikir, Ibu Arum langsung mengarah pada Aditya. Liyan menggelengkan kepalanya.