Usai Pernikahan

Usai Pernikahan
Tidak sabar untuk bertemu


__ADS_3

Liyan langsung mendongak saat melihat sang ayah yang baru saja datang.


"Papa."


Liyan langsung bangkit dari posisinya. Kemudian, Liyan langsung menunduk.


Tuan Boni mendekati putrinya.


"Maafkan Papa, Nak. Papa sudah menghukum mu begitu berat. Juga, telah mengasingkan kamu ke kampung. Bukan niatnya Papa untuk mensengsarakan kamu, tapi sebuah pelajaran untukmu. Agar kamu lebih berhati hati menjaga diri, dan ketika mengenali seseorang." Ucap Tuan Boni kepada putrinya.


Liyan yang mendengarnya, pun masih tertunduk. Saat itu juga, ibunya datang mendekati dan memeluk putri kesayangannya.


"Maafkan Mama, sayang. Tidak berniat untuk mengabaikan mu, hanya saja, Mama bisa apa? kamu baik-baik saja 'kan, sayang? Mama sangat merindukan kamu. Bertahun tahun Mama hanya bisa menahan rindu, hanya lewat rekaman video dari Ibu Arum, tidak ada yang lain untuk mengobati rasa rindunya Mama sama kamu." Ucap ibunya yang tengah memeluk putrinya.


Liyan langsung menangis sesenggukan, air matanya mengalir deras. Liyan dapat memahami sosok ayahnya yang tidak pernah goyah dalam memberi hukuman. Juga, Liyan tidak memarahi ibunya ketika bertemu.


Kemudian, sang ibu melepaskan pelukannya.


"Maafkan Mama ya, sayang. Maafkan Mama yang tidak bisa berbuat apa-apa untukmu." Ucap sang ibu sambil menatap wajah putrinya yang terlihat tidak bersemangat.


Liyan mengangguk.


"Maafkan Liyan juga ya, Ma. Liyan sudah membuat masalah dan juga kecewa. Maafkan Liyan yang sudah menyakiti banyak orang." Ucap Liyan penuh sesal.

__ADS_1


Kemudian, tiba-tiba Savan datang mendekati ibundanya.


"Bunda, maafin Savan ya." Ucap Savan yang langsung meminta maaf.


Liyan segera memeluknya, juga meneteskan air matanya dan menangis sesenggukan.


"Maafkan Bubun ya, sayang. Bunda udah jahat sama Savan, Bunda janji, Bunda akan melakukan apapun untuk Savan." Jawab Liyan yang tengah memeluk putra kesayangannya.


Savan melepaskan pelukannya.


"Savan ingin bertemu Ayah, Bunda." Ucap Savan dengan permintaannya.


Liyan mengangguk, yakni tanda mengiyakan permintaan dari putranya.


"Maafkan aku, Dit." Ucap Liyan yang hendak melangkah bersama putranya.


Aditya mengangguk dengan disaksikannya oleh banyaknya orang di sekelilingnya, termasuk ada Devan.


"Apakah kamu butuh teman untuk menemui Vando?" tanya Devan dengan cara yang halus.


Liyan menggelengkan kepalanya.


"Sudah ada Savan putraku, dan aku tidak butuh siapa-siapa untuk bertemu dengan ayah dari anakku. Terima kasih." Jawab Liyan dan bergegas untuk menemui Vando, ayah dari Savan.

__ADS_1


Devan yang tidak bisa memaksakan kehendaknya, pun berusaha untuk merelakannya. Meski pernah marah besar ketika mengetahui kebenaran, kini merasa menyesalinya.


Begitu juga dengan Aditya, perasaannya pun hancur ketika Savan dan Liyan dipertemukan dengan Vando. Cemburu sudah pasti, namun tak bisa berbuat apa-apa. Hanya belajar rela, meski hatinya terluka. Ingin memperjuangkan cintanya, hasilnya bertepuk sebelah tangan.


Mencoba merelakan, meski terabaikan. Jalan satunya tetap memberinya doa yang terbaik untuk perempuan yang dicintainya, meski cintanya tak terbalaskan.


Liyan yang sudah di depan pintu ruang rawat pasien, detak jantungnya berdegup tidak karuan. Perasaannya pun berubah-ubah tak menentu.


"Bunda, kok berhenti? gak masuk?" tanya Savan mengagetkan.


Liyan menoleh ke arah putranya, dan tersenyum tipis agar Savan tidak berkomentar lagi.


"Savan harus janji dulu sama Bunda, gimana?"


Savan langsung menunjukkan jari kelingking miliknya.


"Janji." Kata Savan dan tersenyum lebar.


"Baiklah. Kalau gitu, Savan jangan membuat Ayah kecewa ya. Apapun kesalahan Ayah, apapun perlakuan ayah sama Savan, jangan membuat ayah bersedih, gimana?"


"Iya, Bunda. Savan janji, Savan tidak akan mengecewakan ayah dan Bunda." Jawab Savan memenuhi janjinya.


"Ya udah, ayo kita masuk dan temui ayahnya Savan." Ajak Liyan kepada putranya.

__ADS_1


Savan begitu senang saat ibundanya mengajaknya untuk bertemu dengan ayah kandungnya.


__ADS_2