
Sudah lewat beberapa minggu, Liyan kehilangan putranya untuk selama-lamanya. Di rumah kedua orang tuanya lah, Liyan tinggal bersama keluarga.
Sejak Liyan diceraikan suaminya karena tuduhan atas kematian anak dan ibunya, tidak ada lagi kabarnya. Juga Yena, kini dirinya masih tinggal di rumah orang tuanya Liyan untuk menjadi teman selama kondisi Liyan masih belum benar-benar stabil.
"Liy, ada Devan ingin bertemu kamu. Dia udah menunggu kamu di ruang tamu." Ucap Yena mengagetkan Liyan yang terlihat tengah memikirkan sesuatu sambil melamun.
"Iya, bentar lagi aku turun." Jawab Liyan dengan lesu.
"Jangan sedih terus dong, Liy. Kamu harus semangat. Sudah mau satu bulan loh. Kamu harus sayang sama fisik kamu. Kalau kamu terus-terusan nyiksa diri, gimana kamu bisa semangat. Kamu bilang, kamu harus semangat untuk Savan, tapi mana?"
"Mana aku bisa, Yen. Savan bagian separuh nyawa ku, dia mendadak hilang untuk selama-lamanya. Aku benar-benar merasa kehilangan, Yen."
"Aku tahu, tapi 'kan, kamu gak harus gini terus. Kamu harus rubah cara berpikir kamu. Kalau kamu masih seperti ini, sama saja kamu gak sayang sama diri kamu sendiri. Terus, apa gunanya orang-orang di sekeliling kamu memberi semangat dan dukungan buat kamu. Juga, sudah memberi nasehat sama kamu, kalau ternyata di abaikan. Kita semua sayang sama kamu Liy, semua juga bakal kembali, tapi waktu dan caranya berbeda. Aku harus berapa kali sih, Liy. Agar kamu itu sadar, berubah." Ucap Yena yang kini mulai tegas dengan Liyan, dirinya tidak ingin jika Liyan akan terus mengurung diri didalam kamar.
"Maafkan aku, Liy. Kalau aku udah banyak merepotkan orang-orang di sekeliling ku." Jawab Liyan tertunduk sedih.
Yena langsung memeluknya.
"Kita semua gak ada yang direpotkan, hanya merasa tidak berguna memberi semangat, tapi kamunya mengabaikan. Kita semua tuh, sayang sama kamu, Liy." Ucap Yena yang berusaha meyakinkan Liyan.
Liyan yang terasa sesak saat dipeluk, melepaskan pelukannya.
"Baik. Aku akan berubah. Terima kasih, sudah bersedia menjadi teman baikku."
"Nah, gitu dong. Ayo keluar, kamu temui Devan. Jangan merasa punya bersalah ataupun apa. Kamu ulangi perjalanan hidupmu dari nol, semoga kamu temukan kebahagiaan mu setelah ini." Ucap Yena menyemangati.
Liyan berusaha tersenyum, meski terasa berat. Karena tidak ingin membuat Devan menunggu, Liyan segera menemui mantan suaminya.
"Kak Devan. Maaf, sudah membuat Kakak menunggu lama." Ucap Liyan saat sudah berdiri dihadapan mantan suami.
Devan tersenyum saat Liyan sudah mau bicara dengan dirinya.
"Aku mau ajak kamu jalan-jalan, gimana, kamu mau?"
"Em- tapi, Yena gimana?"
__ADS_1
"Yena ikut, nanti sama Kakak." Sahut Zavan yang tiba-tiba datang.
"Oh. Terus, memangnya mau jalan-jalan ke mana?"
"Kamu maunya kemana? ke taman anggrek, atau ke Mall buat belanja. Kamu kan, suka belanja." Jawab Devan.
"Terserah Kak Devan saja, aku gak akan nolak. Asalkan jangan ke pantai, aku gak mau." Ucap Liyan yang begitu trauma dengan pantai.
Devan mendekatinya. Kemudian, dia meraih tangannya.
"Aku tidak akan mengajakmu ke tempat yang tidak kamu suka, aku akan mencarikan tempat yang bisa membuatmu senang. Ya udah, kamu bersiap-siap." Jawab Devan.
"Aku ganti baju dulu." Ucap Liyan dan kembali ke kamar bersama Yena.
Kini tinggallah Zavan dan Devan yang tengah menunggu Liyan dan Yena.
"Makasih ya, Dev. Kamu udah mau menghibur adikku. Aku tahu, Liyan pernah berbuat salah padamu, mungkin rasa sakit mu itu masih membekas, tapi kamu tidak mempunyai dendam, dan kamu masih peduli, juga perhatian. Andai saja Liyan tidak mudah terprovokasi, mungkin sudah bahagia bersamamu. Tapi, rupanya serumit ini kisah asmara mu." Ucap Zavan.
"Aku hanya ingin menebus kesalahan ku yang pernah bersikap kasar padanya. Aku menyesal karena tidak menyelesaikan masalahku dengan kepala dingin. Karena perbuatan ku, Liyan harus diasingkan." Jawab Devan teringat akan masa lalunya setelah pernikahan.
"Tapi-"
"Kenapa?"
"Ada Aditya yang juga mencintai Liyan. Aku tidak menjamin kalau Liyan mau menerima ku lagi." Jawab Devan dengan lesu.
"Sudahlah, tak perlu dijadikan beban pikiran kamu. Jalani hidup ini sebagai mana takdir yang menentukan. Kalau memang kamu berjodoh, kamu akan disatukan lagi dalam hubungan pernikahan." Ucap Zavan mencoba untuk meyakinkannya.
Saat itu juga, Liyan bersama Yena baru saja menuruni anak tangga.
"Aku sama Yena udah siap. Tapi-"
"Ada apa, Liy?" tanya Zavan.
"Janji, jangan ke pantai."
__ADS_1
"Iya, janji." Sahut Devan.
Setelah semuanya sudah siap, mereka berempat segera melakukan perjalanan untuk mengajak Liyan jalan-jalan ke suatu tempat yang sudah ditentukan oleh Devan. Tempat mana lagi kalau bukan tempat yang sering dijadikan tempat liburannya bersama dulu. Tempat yang penuh kenangan di masa-masa lalunya.
Yena yang tengah duduk didekatnya Zavan, sedangkan Liyan duduk bersebelahan dengan Devan. Secara pandangan, mereka sama-sama serasi, tetapi soal jodoh, sulit untuk ditebak.
Liyan yang tengah melamun sambil melihat jalanan yang dilewati, ingatannya kembali dengan masa-masa bersama Savan putranya. Gurauan dan tawanya begitu jelas terngiang dalam pikirannya. Tanpa disadari, Liyan meneteskan air matanya, dan membasahi kedua pipinya.
Devan yang tengah melihat jika Liyan menangis, meraih dagunya dan diarahkan wajahnya hingga keduanya saling menatap satu sama lain.
"Menangislah, kalau itu yang membuat mu lega. Jangan kamu pendam sendiri, aku yang siap menjadi sandaran mu." Ucap Devan, dan tak lupa untuk mengusap air matanya.
Liyan kembali menoleh dan melihat jalanan sambil memikirkan sesuatu. Devan yang mengerti akan kondisi mantan istrinya, meraih tangannya dan menggenggamnya.
Kemudian, Devan memejamkan kedua matanya.
'Mau sampai kapan kamu akan terus-terusan seperti ini, Liy? aku merindukan kamu yang ceria seperti dulu. Kamu yang selalu bersikap manja padaku. Juga, celotehan mu yang selalu aku dengarkan. Tapi kini, kamu hanya bicara seperlunya. Bahkan, seolah kamu berat untuk bicara.' Batin Devan yang begitu merindukan sosok Liyan seperti dulu, seperti yang dikenal.
Tidak terasa, mobil pun telah berhenti di tempat tujuan. Devan yang masih dengan mata terpejam, sampai tidak menyadari jika sudah sampai di tempat tujuan.
"Kita sampai, Liy, Dev, ayo turun. Loh loh, kalian tidur? ekhem."
Devan maupun Liyan sama sama kaget saat Zavan membangunkannya. Saat itu juga, keduanya baru menyadari jika masih berpegangan tangan. Karena malu dan takut seperti orang kasmaran, langsung dilepaskan.
"Sudah sampai ya, aku kira belum."
"Maunya kamu mah, tidur terus gitu, hem. Kasihan kitanya yang jadi obat nyamuknya, iya gak, Liy?"
"Apanya?"
"Kamu mah masih korslet, jadi gak nyambung." Kata Zavan sengaja mengajak adik perempuannya untuk bersenda gurau.
"Dih, Kak Zavan mah gitu." Ucap Liyan dibuat ketus, sang kakak maupun Devan pun tertawa kecil saat melihat mimik wajah Liyan yang terlihat sedikit menghibur, dan setidaknya masa lalu dapat diulang kembali, yakni kebersamaan.
"Ya udah ya udah, ayo kita turun. Dah sampai nih di taman anggrek." Ucap Devan, seketika Liyan teringat masa-masa kebersamaan dengan mantan suaminya.
__ADS_1