
Masih di rumah keluarga Aritama, Liyan mengamati isi dalam ruangan sekitar. Dilihatnya tidak ada yang berubah, semua masih sama.
"Hei, ngelamun aja, kamu ini. Keponakan aku mana? gak kelihatan."
"Kakak. Ngagetin aja kerjaannya. Savan lagi tidur, mungkin kecapean karena perjalanan jauh."
"Iya juga ya, mungkin yang kamu bilang barusan itu benar, kalau Savan kecapean. Padahal Kakak ingin ngajak Savan bermain, dan mengajaknya jalan-jalan. Tapi ya sudah lah, mungkin Savan kecapean. Ah iya, udah waktunya makan malam, yuh kita makan malam dulu. Nanti akan Kakak temani kamu, biar gak jenuh, dan gak sendirian." Ucap Zavan.
"Hem. Tumben, Kakakku gak banyak jail nih. Udah tobat nih ceritanya? cie...."
"Sudahi dulu ngobrolnya. Ayo, kita makan malam dulu. Nanti ngobrolnya dilanjut lagi, yuh." Timpal sang ibu yang tiba-tiba mengagetkan kedua anaknya.
"Iya, Ma, iya." Jawab keduanya bersamaan.
Kemudian, mereka berdua segera ke ruang makan. Sedangkan Tuan Boni yang baru saja keluar dari kamar, beliau mendekati istrinya.
"Gak kerasa ya, Ma. Anak-anak kita pada besar, mereka sudah dewasa. Bahkan, kita sudah mempunyai cucu, meski dengan cara yang salah. Andai saja Liyan tidak menuruti egonya, pasti tidak akan ada masalah yang seperti sekarang ini. Dengan muka tebal, dan tak tahu malu, kita harus menerima konsekuensinya." Ucap Tuan Boni yang menyayangkan pernikahan putrinya harus kandas begitu saja.
"Semua sudah terlanjur, juga sudah berlalu. Kita tidak bisa memaksakan sesuatu dengan kehendak kita. Mungkin memang seperti ini jalan hidupnya Liyan. Sebenarnya Mama juga keberatan, tapi semua ini demi kebahagiaan cucu kita. Jangan sampai kita menyakiti hatinya, karena luka yang diterima cukup menyakitkan oleh sosok Savan yang tidak tahu apa-apa mengenai kesalahan dari kedua orang tuanya." Jawab sang istri.
Tuan Boni meski merestui, terkadang ada rasa sedih, dan juga terasa berat untuk merelakan putrinya menikah dengan ayah biologisnya Savan.
Namun, apa boleh buat. Demi kebahagiaan cucunya, Tuan Boni berusaha untuk memberi Savan kebahagiaan.
"Sudah lah, gak perlu kita membahasnya lagi. Hari pernikahan putri kita masih lama. Lebih baik kita fokus dengan Savan, memberi perhatian padanya, dan juga kasih sayang." Ucap Tuan Boni yang tidak ingin terus menerus membahas masalah yang sudah berlalu.
Ibunya Liyan mengiyakan, dan segera ke ruang makan. Kemudian, satu keluarga tengah menikmati makan malamnya bersama.
__ADS_1
Dilain tempat, Aditya yang baru selesai makan malam, memilih duduk santai di teras samping rumah. Ia berniat untuk menghilangkan kejenuhannya, yakni agar tidak terhanyut oleh rasa sedihnya dan rasa sakit hati karena sebentar lagi dirinya akan ditinggal menikah oleh perempuan yang sangat dicintainya.
"Kamu kenapa, Nak? kelihatannya dari tadi kamu masih murung. Apakah ada masalah? ceritakan sama Papa, siapa tahu Papa bisa membantumu. Jangan kamu pedam sendiri jika lagi ada masalah. Ada Papa yang siap mendengarkan keluh kesah mu. Apa jangan-jangan kamu sedang memikirkan seorang perempuan?"
Aditya langsung menoleh ke samping. Ia menggelengkan kepalanya, berbohong demi menutupi kesedihannya.
"Papa sudah tahu, kalau kamu patah hati karena perempuan yang bernama Liyan, 'kan? putri dari keluarga Aritama? jujur saja sama Papa. Kamu tidak perlu membohongi Papa, karena Papa sudah mengetahuinya dari dulu, kamu mencintai perempuan yang bernama Liyan." Ucap sang ayah.
"Pasti Bude Arum yang menceritakan semuanya sama Papa. Siapa lagi kalau bukan Bude Arum, atau gak si Yena." Jawab Aditya menebak.
"Percayalah sama Papa, jodoh gak akan kemana. Tapi, jaga perilaku dan sikapmu, dan jangan tunjukkan kemarahan mu ketika kamu sakit hati. Bersikaplah sewajarnya, lebih baik biasa-biasa saja." Ucap sang ayah memberi nasehat kecil.
Aditya hanya mengangguk, ia mengerti apa yang baru saja disampaikan oleh ayahnya.
"Iya, Pa. Aku ngerti yang Papa maksudkan. Papa tidak perlu khawatir. Aku tidak akan melakukan hal bodoh hanya menunjukkan perasaan cemburuku. Papa tenang saja, semua akan baik-baik saja. Ya udah ya, Pa. Aku mau keluar buat jalan-jalan. Sepertinya udaranya segar, lumayan bisa ngilangin jenuh." Jawab Aditya, dan sekalian pamit untuk keluar.
Aditya mengangguk, dan segera pergi.
Sambil melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang, Aditya menikmati suasana dimalam hari. Dengan sepeda motornya, Aditya teringat dengan masa masa kebersamaan di kampung bersama Liyan. Kini, rupanya telah menjadi sebuah kenangan yang sulit untuk diulang kembali.
Saat sampai di jembatan penghubung jalan, Aditya berhenti, dan menepikan motornya. Kemudian, ia memandangi arus deras dibawah jembatan.
"Woi! mau cari mati, ya!" bentak dari seorang perempuan yang langsung menarik jaket yang dikenakan oleh Aditya.
Seketika, keduanya melotot satu sama lain.
"Liyan."
__ADS_1
"Aditya."
Keduanya saling menyebutkan nama satu sama lain.
"Kamu sudah gila ya, main bun_uh diri."
Aditya langsung memeluk tubuh Liyan dengan erat. Terasa berat untuk melepaskan, apa lagi untuk berpisah, pikir Aditya yang masih dengan posisinya memeluk tubuh Liyan.
Karena tidak ingin terbawa oleh perasaannya, Aditya langsung melepaskan pelukannya.
"Dih! sapa juga yang mau bu_nuh diri. Sok tahu kamu ini. Kek gak ada cara lain selain bun_uh diri. Memangnya apa kurangnya diriku sampai-sampai sebodoh itu. Eh, kamu ngapain ada disini? Savan mana?"
"Gak ada Savan, dia gak ikut. Adanya aku, Zavan."
Aditya langsung menoleh ke sumber suara.
"Oh. Memangnya kalian dari mana, dan mau kemana?" tanya Aditya basa-basi.
"Aku menemani Liyan jalan-jalan, katanya jenuh didalam rumah. Ya udah, aku mengajaknya jalan-jalan. Kamu sendiri ngapain di jembatan ini? gak lagi mau bu_nuh diri, 'kan?"
"Ya enggak lah. Memangnya bu_nuh diri kenapa? pacar aja kaga punya. Kecuali nih ya, aku punya pacar, dan aku sangat mencintainya, terus di tinggal nikah. Nah, karena frustrasi, bisa aja bu_nuh diri. Tapi ya gak mungkin juga lah bu_nuh diri, terlalu bodoh kalau sampai aku melakukan hal itu. Aku tuh disini cuma mau nyari angin aja, gak ada niat yang lain." Jawab Aditya setengah menyinggung akan perasaannya yang selalu ditolak oleh perempuan yang ada di hadapannya.
Liyan yang merasa tersindir, ia memilih diam. Tidak tahu harus bicara apa.
"Makanya kalau suka sama cewek tuh, ya langsung tem_bak. Kalau pakai lama, pakai nunggu momen, ya sama aja itu bohong, yang ada diembat cowok lain."
"Benar, iya, benar. Andai waktu bisa diputar, mungkin iya, aku akan lebih dulu. Tapi sayangnya, jatah pertemuanku yang terlambat." Jawab Aditya yang tanpa sadar jika ucapannya tertuju pada Liyan.
__ADS_1
Dengan yakin, kalau Zavan sudah bisa mengetahui jawabannya, yakni si Aditya memang jatuh cinta kepada adiknya.