Usai Pernikahan

Usai Pernikahan
Sebuah permintaan


__ADS_3

Masih di kediaman keluarga Gavindra, Liyan tengah mengobrol bareng dengan calon ibu mertuanya. Sedangkan Vando menemani Savan bermain di halaman rumah.


"Bagaimana kehidupan kamu bersama Savan di kampung, Nak? pasti kalian berdua begitu menderita hidup di kampung. Maafkan Vando ya, Nak. Gara-gara perbuatan Vando yang tidak bertanggung jawab dari awal, membuat hidupmu hancur. Juga, pernikahan kamu dengan Devan menjadi berantakan. Ibu tahu, ini berat untukmu." Ucap calon ibu mertua.


"Kehidupan di kampung justru lebih tenang dan damai, Bu. Soal kesalahan kami dimasa lalu, kami menjadikannya pelajaran. Semoga kedepannya menjadi lebih baik lagi." Jawab Liyan yang begitu hati-hati ketika berbicara dengan calon ibu mertuanya.


"Oh ya, kapan hari pernikahan kalian akan ditentukan? Devan bilang, sudah mengurus perceraian kamu dengannya. Bolehkah Ibu bertanya sesuatu padamu, Nak?"


"Iya, Bu, boleh." Jawab Liyan.


"Apakah kamu benar-benar serius menjalain hubungan dengan Vando? Ibu hanya takut, jika kamu ada lelaki lain yang kamu cintai di belakang kami. Bukannya ingin berprasangka buruk, Ibu hanya tidak ingin itu terjadi. Ibu minta maaf, jika ucapan Ibu barusan telah melukai perasaan kamu." Ucap calon ibu mertua.


Neyla yang mendapat pertanyaan dari calon ibu mertuanya, pun seperti kehilangan kosa kata untuk berbicara.


"Liyan serius, Bu. Liyan dengan serius menjalin hubungan dengan Vando." Jawab Liyan meyakinkan.


"Syukurlah, Ibu jauh lebih tenang setelah mendengar ucapan darimu. Ibu doakan, semoga kebahagiaan menyertaimu dan juga Vando." Ucap ibunya, Liyan tersenyum mendengarnya.


"Ekhem. Lagi serius keknya." Ucap Vando yang langsung duduk disebelahnya Liyan.


Kemudian, Vando meraih tangan Liyan, dan menggenggamnya.


"Ma, aku mau minta doa restunya, yaitu restu pernikahan kami berdua. Apakah Mama akan merestui hubungan kami?"


Ibunya tersenyum, dan mengangguk.


"Mama merestui hubungan kalian. Tapi-"


"Tapi kenapa, Ma?" tanya Vando yang dibuat penasaran mengenai ibunya yang menggantung kalimatnya.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa. Mama hanya ingin berpesan sama kalian berdua. Jaga baik-baik hubungan rumah tangga kalian, jangan kecewakan Mama. Cukup masa lalu kalian dijadikan pelajaran, bukan untuk menambah pelajaran. Bukannya Mama tidak merestui kalian. Hanya saja, Liyan pernah cidera soal pernikahan karena pihak ketiga, yaitu kamu Vando. Jadi, jaga baik-baik perempuan yang ada di sebelah kamu. Jangan sampai orang lain tidak terima karena kamu tidak menjaga pernikahan kamu dengan baik." Ucap Ibunya memberi nasehat kepada Liyan, terutama kepada Vando putranya sendiri.


Vando mengerti apa yang dimaksudkan oleh ibunya, siapa lagi kalau bukan saudara sepupunya sendiri yang juga mencintai Liyan. Bukan hanya mencintai, bahkan lebih.


"Iya, Ma. Vando tidak akan mengecewakan Mama, juga Liyan, maupun Savan. Vando janji, akan menjaga dengan baik hubungan pernikahan kami." Jawab Vando yang masih memegangi tangannya Liyan.


Liyan yang mendengar ucapan dari Vando, pun merasa tenang.


BRUG!


"Aw! sialan." Pekik Devan yang tanpa disadari keningnya mengenai yang ada di ruang keluarga.


Dengan reflek, Liyan bangkit dari posisinya dan langsung menghampiri Devan.


"Kamu gak apa-apa kan, Kak?" tanya Liyan yang langsung memeriksa keningnya, sampai lupa jika ada Vando yang sedang bersamanya.


"Lepaskan. Ada calon suami kamu, jangan membuat masalah." Ucap Devan yang langsung menyingkirkan tangannya Liyan.


"Tapi itu, keningnya Kak Devan benjol, lihat tuh." Jawab Liyan yang memang sudah kenal dekat, dan juga pernah menjalin hubungan asmara sudah cukup lama.


"Cuma benjol, gak masalah." Ucap Devan dan mendekati ibunya Vando.


"Oh ya, Tante, kemarin itu aku taruh berkas, dimana ya, Tante?" tanya Devan yang lupa menaruh berkas miliknya.


"Ada di ruang kerjamu. Kemarin itu tante taruh di dalam lemari, coba kamu lihat lagi. Itu kening kamu benjol, diolesi dulu sama obat, biar gak memar itu kening kamu, Dev." Jawab ibunya Vando.


"Iya, Tante. Ya udah ya, Tente, aku mau cari dulu berkasnya." Ucap Devan, sedangkan Vando hanya bisa menyimpan rasa cemburu.


Mau bagaimanapun, posisinya memang serba salah. Dilain sisi calon istrinya, satu sisi saudara sepupu yang memang pernah menjalin hubungan asmara dan pernikahan, kini harus berada dalam status yang membuatnya dilema.

__ADS_1


"Aku mau menemui Savan, dimana dia?"


"Ada di belakang rumah, Savan lagi bermain sama asisten rumah. Oh ya, aku mau mengajak kamu ke suatu tempat, ayo ikut." Jawab Vando, Liyan pun mengiyakan, karena tidak mungkin juga untuk menolak.


Namun sebelumnya, Vando pamit dulu sama ibunya.


"Ma, aku tinggal dulu ya. Aku mau ngobrol berdua bareng Liyan, kami mau bicarakan soal pernikahan." Ucap Vando kepada ibunya.


"Iya, gak apa-apa. Mama juga mau nemani Savan main. Tapi sebelumnya Mama mau lihat Devan dulu, takutnya gak nemu nyari berkasnya. Ya udah kalau kalian mau ngobrol berdua." Jawab ibunya, Vando bersama Liyan pun pindah ke tempat lain.


Sedangkan Devan yang terasa nyeri karena keningnya yang benjol akibat kelalaiannya yang ceroboh saat menguping pembicaraan orang lain, pun hanya bisa menahannya.


"Nyeri, kan? kamu sih, pakai menguping segala. Tuh, sakit kan, jadinya. Sini, biar Tante yang mengompres kening kamu." Ucap ibunya Vando yang tiba-tiba mengagetkan Devan.


Lalu, ibunya Vando duduk di dekatnya dan membantunya mengompres keningnya.


"Tante, ngagetin aja. Ya gak ada niat buat menguping sih. Tadi kan, cuma kebetulan aja, Tante. Aw!"


"Kamu cemburu ya." Ledek tantenya.


"Enggak lah, Tante. Aku udah rela, jika Liyan dan Vando menikah. Justru kalau tidak menikah, kasihan Savan. Pasti sangat membutuhkan vigur seorang ayah, dan juga orang tua yang lengkap. Tante gak perlu membahas lagi. Aku udah melepaskan Liyan, dan bentar lagi juga turun akta cerainya. Setelah itu, mereka berdua segera menikah. Tante tidak lagi kesepian setelah aku meninggalkan rumah ini." Ucap Devan terasa berat untuk pindah rumah.


Namun, dirinya bisa apa? tidak mungkin juga untuk bertahan tinggal satu rumah dengan Vando. Lebih lagi ada perempuan yang ia cintai, dan sekaligus mantan istri, yang pasti sulit jadinya untuk melupakan.


"Kamu yang sabar ya, semoga kamu segera temukan bahagia bersama perempuan yang lebih baik dari Liyan. Tante akan temani kamu sampainya kamu temukan perempuan yang kamu sukai dan kamu pilih. Tante sudah menganggap mu anak Tante sendiri." Ucap ibunya Vando.


"Tante gak perlu repot-repot menemani ku. Lebih baik Tante tinggal satu rumah dengan Vando, Liyan, dan juga Savan. Kalau Tante ikut aku, nanti Tante kesepian, gak ada temannya, karena aku akan sering sibuk di kantor." Jawab Devan.


Ibunya Vando meraih tangannya Devan, dan menatapnya penuh harap.

__ADS_1


"Tapi Tante gak bisa jauh dari kamu, Dev. Dari bayi, kamu selalu bersama Tante. Jadi, jangan menolak ya, jika Tante ingin tinggal bersama kamu." Ucap ibunya Vando.


Devan yang tidak ingin menyakiti perasaan tantenya, pun mengiyakan, meski nantinya akan dipertimbangkan lagi.


__ADS_2