
Semua tim termasuk beberapa anggota polisi tengah mencari korban yang ada di laut. Zavan dan kedua orang tuanya yang tengah panik dengan kabar yang diterima, segera berangkat ke tempat tujuan.
Begitu juga dengan Aditya maupun Devan, mereka berdua sama-sama shock mendengar kabar yang sangat mengejutkan.
Aditya yang begitu menyayangi Savan, dirinya begitu terpukul ketika mengetahui bahwa Savan telah terseret ombak.
Pikiran yang tidak karuan, Aditya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tidak peduli baginya dengan arus jalan yang cukup padat dengan kendaraan yang lalu lalang dengan arah yang saling berlawanan.
Begitu juga dengan Devan, sama halnya ikut panik dan khawatir jika terjadi sesuatu pada Savan dan Tantenya. Mau bagaimanapun, Devan sangat menyayangi Tantenya layaknya seperti orang tua kandungnya sendiri. Dengan kecepatan yang tinggi, Devan melajukan kendaraannya.
Tidak lama kemudian, Devan maupun Aditya sampai ditempat tujuan. Mereka berdua datang bersamaan, dan disusul oleh kedua orang tuanya Liyan.
Aditya maupun Devan, mereka berdua bergegas turun dari mobil dan berlari menuju kerumunan untuk menemui beberapa anggota polisi yang sedang berjaga-jaga, juga memantau banyak tim yang sedang melakukan pencarian.
Zavan yang sudah datang, pun langsung berlari menuju kerumunan.
"Pak Polisi, dimana, dimana orang tua korban, Pak Polisi?"
Aditya maupun Devan, sama-sama panik.
"Dimana adik saya, Pak Polisi?" tanya Zavan yang baru saja datang.
"Tenang, tenang dulu. Korban sedang dalam pencarian. Untuk kedua orang tua korban, mereka sudah dilarikan ke rumah sakit, takutnya shock dan sulit untuk menahan kemauannya yang tetap memaksa diri untuk mencari korban hanya bermodal berenang. Yang dikhawatirkan, bukannya menyelamatkan korban, justru ikut menjadi korban.
"Devan, kamu ke rumah sakit ya. Biar aku sama Aditya yang akan ikut mencari Savan, dan Neneknya." Ucap Zavan kepada Devan.
"Baiklah. Semoga Savan dan Tante masih dapat diselamatkan." Jawab Devan.
Kemudian, Devan pergi ke rumah sakit yang ditunjukkan oleh Pak Polisi. Sedang Aditya bersama Zavan, mereka ikut mencari.
Devan yang khawatir dengan kondisinya Liyan, segera pergi. Sampainya di rumah sakit, Devan mencari keberadaan Liyan dan Vando di rawat.
"Yena, dimana Liyan sama Vando?" tanya Devan saat melihat Yena tengah duduk sendirian di depan ruang rawat pasien.
"Liyan lagi didalam, kalau Vando ada di ruangan sebelah. Mereka belum sadarkan diri. Savan sama Tante gimana? udah ketemu?"
Devan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Belum. Lagi dalam pencarian. Oh iya, aku boleh masuk, 'kan?"
"Boleh, silakan." Jawab Yena.
Devan yang khawatir dengan kondisinya Liyan, segera masuk dan melihat keadaannya. Dilihatnya wajah perempuan yang pernah dicintainya, kini terbaring di atas ranjang pasien dengan beban yang sedang dipikulnya.
Dengan lembut, Devan mengusap keningnya hingga kepuncak kepalanya.
"Kasihan sekali dengan nasibmu ini, Liyan. Seharusnya kamu bahagia hari ini, tapi kamu harus menerima ujian berat ini sebagai ujian awal pernikahan mu. Semoga Savan dan Tante segera ditemukan dengan selamat, dan kamu dapat tersenyum bahagia." Gumamnya sambil memandangi wajah Liyan yang terlihat bersedih.
Takut terjadi kesalahpahaman, Devan segera keluar. Nahas, Liyan tersadar dari pingsannya.
"Savan, Savan anakku. Savan, Savan!"
Liyan langsung bangkit dari posisi tidurnya, terlihat seperti bermimpi dengan Savan.
"Liyan, tenangkan pikiran kamu, Liy. Savan dan Tante pasti akan ketemu, percayalah denganku." Ucap Devan yang langsung duduk di sebelahnya.
Ingin memeluk dan memberi ketenangan kepada mantan istrinya, dirinya tidak mungkin untuk melakukannya. Mau bagaimanapun, Liyan bukan lagi istrinya, melainkan istri saudara sepupunya.
Liyan yang memang sudah terbiasa bermanja-manja dengan Devan, dengan reflek langsung bersandar di dada bidangnya.
"Liyan, aku harus menemui Vando. Aku harus melihat keadaannya."
"Tidak perlu!"
DEG! keduanya mendadak seperti orang jantungan.
"Oh! jadi gini caranya, mengambil kesempatan didalam kesempitan."
Devan langsung bangkit dari posisi duduknya. Sedangkan Yena segera mendekati Liyan, pastinya takut terjadi apa-apa yang tidak diinginkan.
"Vando, jangan salah paham dulu. Aku bisa jelaskan semuanya padamu."
"Aku gak perlu penjelasan darimu. Sudah jelas, kau mau merebut istriku." Ucap Vando yang tidak terima.
Kemudian, Vando menarik paksa tangannya Liyan dan mengajaknya pergi untuk kembali ke pantai. Liyan sendiri yang tubuhnya lemah tidak berdaya karena belum stabil jalan pikirnya, hanya bisa nurut.
__ADS_1
"Vando! berhenti. Jangan menyeret Liyan, dia sedang lemah kondisinya." Teriak Devan sambil mengejar Vando.
Yena yang tidak ingin ikut campur, hanya ikut mengejarnya saja, tapi tidak berani untuk ikut bicara.
Saat jarak udah dekat, Devan menahan Liyan, yakni melepaskan tangan Vando yang tengah menarik paksa istrinya.
Beberapa orang yang memang dimintai untuk menunggu Vando, kini mencoba untuk menghentikan aksinya yang mau membawa istrinya pergi.
Kondisi Liyan yang sudah melemah, pun kembali jatuh pingsan. Devan langsung menahan tubuhnya. Kemudian, membawanya ke ruang rawat pasien, dan menyuruh Yena untuk memanggilkan Dokter.
Vando sama sekali tidak peduli dengan kondisi istrinya, justru memilih pergi ke pantai untuk mencari tahu kabar soal putranya dan ibunya.
Tetap saja, ada yang mengawal Vando, takutnya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Devan yang begitu khawatir terhadap mantan istrinya, tengah panik saat menunggu hasil pemeriksaan.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Devan khawatir.
"Keadaannya lumayan mendingan, tapi harus dijaga baik-baik. Jangan sampai lalai, ataupun mengabaikan. Temani dia, dan jangan diajak bicara dengan kata-kata yang dapat memancing emosinya." Jawab Sang Dokter.
"Baik, Dok."
Saat itu, kedua orang tuanya Liyan, pun datang untuk melihat kondisi putrinya.
"Liyan, kamu kenapa, Nak?"
"Maaf, Tante. Jangan mengganggu Liyan dulu. Biarkan Liyan istirahat. Barusan dia jatuh pingsan yang kedua kalinya, kasihan kalau sampai diganggu waktu istirahatnya." Jawab Devan.
"Vando dimana? terus, gimana keadaannya Savan sama Tante kamu, Dev? mereka sudah ditemukan atau belum, Dev?" tanya ibunya Liyan yang tengah memberondong banyak pertanyaan.
"Aku dan Vando sempat berdebat, Vando salah paham denganku, hanya gara-gara Liyan bersandar di dadaku. Aku mencoba mau melepaskan, tapi keburu Vando yang melihatnya. Untuk Savan dan Tante, belum ada kabar lagi, Tante." Jawab Devan setengah menunduk.
"Ya udah, sekarang kamu antar Paman ke pantai. Biar Liyan ditemani ibunya, dan juga ada Yena." Ucap Tuan Boni menimpali.
Devan yang juga khawatir dengan keselamatan Savan dan Tantenya, pun menyetujuinya.
Di tempat lain, tepatnya di pantai, banyak orang-orang yang tengah heboh melihat lokasi kejadian karena belum juga ditemukan korbannya
__ADS_1
.
Vando yang baru saja datang, dirinya berlari menuju banyaknya kerumunan, yang pasti diselimuti dengan perasaan khawatir dan takut kehilangan. Tidak peduli meski harus berteriak sekalipun, Vando terus memanggil Savan maupun ibunya.