
Liyan yang kondisinya semakin drop, benar-benar sangat terpuruk nasibnya. Suami yang dianggapnya akan setia dan bisa menjadi teman hidupnya hingga menua, rupanya salah menilai. Justru itu, Vando begitu banyak memberinya luka hingga dirinya harus kehilangan putra satu-satunya yang menjadi bagian nyawanya. Kini, putra kesayangannya telah berpulang. Sungguh sangat menyakitkan ketika harus kehilangan putra kesayangannya.
Devan yang tidak satu mobil, rasanya ingin menemani dan menghibur mantan istrinya. Namun, dirinya siapanya Liyan? hanya mantan suaminya.
"Aku berharap kamu baik-baik saja, Liyan. Andai saja waktu bisa diputar, aku tidak akan membiarkan kamu seperti ini." Gumamnya sambil menyetir mobilnya.
Dilain posisi, Aditya sama halnya tengah kepikiran Liyan, lelaki yang juga masih menaruh hati kepada Liyan.
Ingatannya kembali tertuju saat Liyan menolak untuk dinikahi. Sama seperti Devan, menyesali karena bukan dirinya yang bertahan dan menjadi pasangan untuk Liyan, melainkan Vando yang diperjuangkannya.
Sampainya di rumah, Aditya terlihat lesu dan tidak bersemangat. Tidak butuh tempat tidur untuk istirahat, Aditya langsung menjatuhkan tubuhnya di atas sofa sambil merentangkan kedua tangannya, lantaran pikirannya yang terasa penat.
"Baru pulang kamu, Nak? gimana kondisi teman kamu itu, apakah baik-baik saja?" tanya sang ayah yang tengah mendapati putranya sudah tiduran di atas sofa.
Aditya yang kesulitan untuk mengatur napasnya, langsung bangkit dari posisinya, dan duduk menghadap ayahnya.
"Iya, Pa, aku baru aja pulang. Soalnya tadi sibuk banget. Dari kemarin melakukan pencarian, dan pagi-pagi tadi baru ketemu, tapi sudah tidak tertolong lagi. Untuk kondisinya Liyan, dia sangat shock, dan ada masalah sedikit dengan suaminya. Liyan dituduh pembawa sial, maksudnya dituduh kalau Liyan yang salah atas kematian putranya dan ibunya Vando." Jawab Aditya sambil menguap karena ngantuk.
"Kasihan sekali teman kamu itu, suaminya benar benar tidak berprikemanusiaan sama sekali sama istrinya sendiri. Sebenarnya tadi Papa udah dengar beritanya di televisi. Dan rencana mau datang dan ikut berbelasungkawa, tapi ada tamu. Jadi, Papa gak jadi pergi. Oh iya, kamu udah makan?"
"Belum, Pa. Masih belum kepingin. Nanti aja makannya. Ya udah ya, Pa, aku mau ke kamar dulu. Aku mau mandi, badan aku gerah soalnya." Jawab Aditya yang lagi tidak ingin mengobrol sama ayahnya, dikarenakan mata ngantuk dan ingin istirahat.
__ADS_1
Di kediaman keluarga Aritama, Liyan di dalam kamar terlihat begitu murung. Yena sebagai teman dekat dan sudah dianggapnya saudara, mencoba untuk menghibur, namun tetap saja si Liyan tidak mau menanggapi.
"Liy, apa kamu mau seperti ini terus? Savan sudah pergi dengan tenang, jangan menyiksa diri kamu. Kalau kamu begini terus, Savan pasti bersedih melihatmu yang seperti ini, Liy." Ucap Yena yang berusaha mengingatkan.
"Aku benci dengan Vando, Yen. Dia begitu kejam menuduh ku. Oke, aku terima jika dia mau menceraikan ku, tapi bukan untuk menuduh aku, Yen. Aku udah hancur kehilangan Savan, lantas kenapa aku yang harus dituduh seperti itu." Jawab Liyan yang masih terasa dongkol dengan Vando, yakni atas tuduhan soal kematian ibunya Vando dan Savan.
Yena langsung memeluk Liyan, menangkan pikirannya.
"Kamu yang sabar ya, mungkin Vando bukan jodoh yang terbaik buat kamu. Lebih baik kamu tenangkan pikiran kamu. Kalau kamu terus-terusan larut dalam kesedihan, kasihan Savan, pasti sedih melihat ibunya yang bersedih. Kamu harus kuat untuk menjalaninya, dan kamu gak sendirian, masih banyak yang peduli sama kamu." Ucap Yena menyemangati.
Liyan mengangguk, dan Yena melepaskan pelukannya.
"Kamu makan dulu, ya. Dari kemarin kamu gak makan, badan kamu pasti lemas. Kalau kamu menyiksa diri, sama saja kamu kalah dengan Vando. Aku suapi ya, mumpung lagi anget masakannya. Nanti keburu dingin malah hambar." Ucapnya.
Mendapat jawaban dari Liyan, akhirnya Yena dapat bernapas lega. Yang sedari tadi mencoba untuk membujuk, Liyan tidak lagi menolak. Juga, obrolannya tidak membuat Liyan merasa kesal.
Setelah makan, dan juga sudah banyak mengobrol, Yena tidak lupa memberinya obat penenang, setidaknya agar tidurnya tidak bolak-balik terbangun karena pikirannya yang tidak tenang.
Malam yang hampir larut, Yena yang sudah tidak bisa menjaga kesadarannya, pun tidur di sebelah Liyan. Menemaninya tidur seperti yang diminta oleh orang tuanya agar tidak kesepian, dan jika terbangun, ada Yena yang menemaninya.
Paginya, cuaca yang cerah, Liyan yang terbangun dari tidurnya, hampa hatinya, tidak lagi ada sosok Savan, sunyi hari-harinya.
__ADS_1
"Savan, kamu lagi apa, sayang? Bunda kangen, Bunda ingin bertemu Savan." Ucapnya yang baru saja bangun dari tidurnya, Liyan teringat dengan putranya.
Yena yang bangunnya kesiangan, pun langsung tersadar saat Liya bangun dari tidurnya.
"Liyan, kamu sudah bangun? maaf, aku kesiangan. Kamu menangis lagi? Liyan, Savan sudah pergi dengan tenang, kamu harus relakan dia. Aku tahu ini berat untukmu, tapi kita bisa apa? kita yang diberi umur, kita yang memberinya doa, Liy. Kita juga bakal menyusul, tapi menunggu waktunya. Kamu jangan seperti ini terus, Liy. Nantinya kamu gak punya semangat hidup. Yang ada kamu akan menyiksa diri kamu sendiri." Ucap Yena yang tidak bosan untuk memberi nasehat kecil kepada Liyan.
"Aku ngerasa hidupku ini berat sekali, hidupku sudah hancur, aku kehilangan kebahagiaanku. Aku menyesal, aku yang mudah terbuai, dan lupa diri." Jawab Liyan sambil menangis.
Yena meraih tangannya, dan menggenggamnya dengan erat.
"Kamu yang sabar ya, Liy. Kamu gak sendirian, kamu masih ada aku, dan juga orang tua kamu, kakak kamu." Ucap Yena meyakinkannya.
Liyan menatap lurus ke depan, pandangannya kosong, semua harapannya pun sirna. Tidak ada lagi keceriaan putra kesayangannya, sunyi sepi, seperti suasana hatinya. Entah sampai kapan Liyan dapat menerimanya? kenyataan yang sebenarnya memang pahit, dan juga menyakitkan.
Sudah ditinggalkan putranya untuk selamanya, harus menerima tuduhan keji dari Vando, dan ditambah diusir, dan juga diceraikan. Lengkap sudah penderitaan seorang Liyan dalam waktu sekejap.
Liyan bisa apa? semua sudah terjadi, dan tidak mungkin untuk diperbaiki. Sakit dan kecewa, kini tengah menjadi beban hidupnya. Masih mending diceraikan, asal tidak berpisah dengan putranya. Tapi, ini lebih sakit rasanya.
'Benar kata Yena, aku gak boleh lemah. Aku harus kuat demi Savan, dia hartaku yang paling berharga. Savan, baik-baik saja ya, sayang. Bunda akan terus mendoakan mu, semoga kamu berada di Syurga-Nya. Mungkin benar, sudah menjadi takdirmu, dan takdir Bunda yang seperti ini.' Batin Liyan yang berusaha menyemangati diri sendiri.
Kini, hidupnya kembali dari nol, mengulangi dari awal kehidupan baru. Tidak ada yang dicintai, dan tidak ada yang mencintai. Semua telah pupus bersama harapan yang selama ini dinantikan. Hidup bahagia bersama keluarga kecilnya, rupanya tidak berpihak padanya.
__ADS_1
Liyan yang terasa sesak untuk bernapas, sebisa mungkin untuk tetap bisa hidup meski rapuh.