Usai Pernikahan

Usai Pernikahan
Meminta maaf


__ADS_3

Devan yang tengah duduk di sebelah Liyan, ingin rasanya memeluknya, dan membiarkannya berada tidur di pangkuannya. Namun, dirinya tak mampu melakukannya.


"Bagaimana keadaannya Vando, Ziv? apa kata Dokter?" tanya Devan penuh penyesalan, atas perbuatannya yang begitu gegabah saat meluapkan emosinya.


Kemudian, Devan meraih tangan miliknya Liyan untuk menguatkan hatinya.


Namun, tiba-tiba Savan beranjak dari pangkuan Yena, dan mendekati ibunya.


"Tidak boleh pegang! tangan bunda miliknya Savan. Hanya ayahnya Savan yang boleh, titik." Ucap Savan yang langsung melepaskan tangannya Devan.


"Maafkan Paman. Savan anak yang baik, pasti sangat menyayangi Bundanya. Baiklah, Paman tidak akan mengulangi lagi." Jawab Savan sambil menjewer telinganya sendiri.


"Savan, jangan bicara keras sama orang yang lebih tua. Tetap bicara sopan dan jangan membentak, ya. Ini kakaknya Bundanya Savan, dan di sebelah Bunda ini, Paman Devan namanya, dan yang sedang ditangani dokter-"


Tiba-tiba Liyan tercekat saat ingin mengatakan siapa Vando sebenarnya.


"Paman ganteng, 'kan?"


Liyan menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


"Kok Bunda gak jawab, cuma mengangguk doang."


Liyan yang tidak ingin mengajari anaknya bohong, akhirnya berjongkok di depan putranya. Sakit, namun harus diberitahukannya dengan jujur, sekalipun sangat menyedihkan.


Liyan menangis saat menatap wajah putranya yang begitu polos, sekian lama ingin mengetahui siapa ayah kandungnya, Liyan hanya bisa memberi banyak alasan. Juga, Savan ingin sekali bertemu dan selalu merengek ingin pergi ke kota. Sedangkan Liyan bisa apa? dirinya selalu memberi banyak alasan agar putranya selalu bersabar.

__ADS_1


Kini, saat sudah dipertemukan, justru harus mengalami insiden kecelakaan. Liyan benar-benar menyesalinya, dan tidak seharusnya marah di depan putranya, dan mengajaknya kabur. Sehingga nyawa lah yang harus menjadi taruhan. Antara hidup dan mati, Vando tengah berjuang melawan kondisinya yang tengah ditangani dokter.


"Bunda kenapa menangis?" tanya Savan, dan mengusap air matanya dengan kedua tangannya yang kecil.


Liyan meraih tangan putranya, dan menciumnya.


"Maafkan Bunda ya, sayang. Savan boleh marah, dan juga menghukum Bunda. Paman ganteng yang sedang ditangani dokter, adalah ayah kandungnya Savan. Maafkan Bunda, Savan." Ucap Liyan yang akhirnya mengatakannya dengan jujur, dan tidak ada yang ditutupi sama sekali.


Liyan langsung memeluk putranya dengan erat. Savan melepaskannya.


"Jadi, Paman ganteng itu, ayahnya Savan?"


Liyan mengangguk. Saat itu juga, Savan mendorong kuat kepada ibundanya.


"Bunda jahat! Bunda jahat! gara-gara Bunda, ayahnya Savan ditabrak mobil."


Merasa kecewa karena teringat ibundanya memarahi Vando, dan mengajaknya lari, dan juga menyelamatkan dirinya dan justru Savan yang tertabrak mobil hingga terpental.


Savan bergegas berlari menemui ayahnya yang sedang ditangani oleh dokter karena mengalami luka yang serius.


"Ayah! Ayah...! Ayah...!" teriak Savan dengan isak tangisnya saat mengetahui bahwa ayahnya sedang ditangani dokter.


Liyan langsung mengejarnya dengan kondisi fisiknya yang lemah. Juga, Zivan, Devan, dan Aditya, Yena maupun ibu Arum segera mengejarnya.


"Savan, maafkan Bunda, sayang. Bunda mohon, maafin Bunda." Ucap Liyan sambil menangis dan memeluk Savan.

__ADS_1


Sedangkan Savan sendiri terus memberontak dan melepaskan pelukan ibundanya.


"Liyan, lepaskan, Liyan. Biarkan Savan meluapkan emosinya. Savan masih shock, jangan menambah beban berat untuknya." Ucap Devan mencoba untuk menasehati Liyan.


Saat itu juga, Liyan langsung bangkit dari posisinya, dan menatap tajam kepada Devan, terlihat menahan kekesalan dan kebencian kepadanya. Sedangkan Aditya mencoba untuk menenangkan Savan yang tengah dikuasai emosionalnya.


Liyan menatapnya semakin tajam.


"Ini semua karena mu, Kak Devan. Sudah aku katakan, aku tidak mau menikah denganmu, tapi kamu memaksaku. Lihat! puas sekarang. Puas! sekarang." Ucap Liyan berakhir dengan bentakan.


Tanpa peduli, Liyan mendorong Devan dengan jari telunjuknya. Menatapnya penuh kekesalan.


"Karena aku mencintaimu, Liyan. Bukankah kita pernah punya mimpi untuk menikah?"


"Itu dulu, sebelum kamu asik bersama Jenny." Kata Liyan yang kini membuang muka.


"Karena kamu lebih mempercayai omongannya, ketimbang kejujuran ku. Tapi sudahlah, kamu sudah membenciku, juga sudah anak dari Vando, lelaki yang juga mencintaimu." Ucap Devan yang masih berdiri di dekatnya Liyan.


Zivan yang tidak ingin masalah semakin panjang, pun mendekati mereka berdua.


"Pilihan ada sama kamu, Liyan. Siapa yang akan kamu pilih, tidak ada lagi yang menghalangi kamu, termasuk Papa dan juga Mama, juga kakak." Ucap Zivan.


"Jangan menyebut nama Papa, aku tidak sudi mendengarnya." Jawab Liyan yang teringat atas kemarahan ayahnya sendiri.


"Papa merestui dengan lelaki siapa yang kamu pilih, Nak." Ucap Tuan Boni yang tiba-tiba sudah datang di rumah sakit.

__ADS_1


Liyan yang tidak asing dengan suara yang telah mengagetkannya, ia langsung menoleh.


__ADS_2