Usai Pernikahan

Usai Pernikahan
Nasehat


__ADS_3

Aditya masih diam.


"Makasih ya, kamu sudah menjaga Liyan. Sudah bertahun-tahun Vando, maupun kakak laki-lakinya Liyan, juga saya yang ikut membantu mencari keberadaannya, namun hasil tetaplah nihil. Sekarang ini baru pertama kalinya bertemu lagi dalam sekian lamanya." Ucap Devan.


"Mungkin memang sudah waktunya untuk bertemu. Tapi sedihnya, kenapa pertemuan kalian justru harus seperti ini? semoga pasien dapat diselamatkan. Kasihan Savan, sedari kecil dia merindukan ayahnya. Jangan sampai nasib Savan sama sepertiku, selalu di rendahkan hanya karena orang tua yang berpisah." Jawab Aditya kembali teringat masa kecilnya yang selalu dibully oleh teman-temannya.


"Tidak akan. Kami akan membawanya ke kota. Oh ya, aku tinggal dulu, aku mau menemui Zivan. Mari." Ucap Devan, sedangkan Aditya mengangguk.


Aditya kembali mengarahkan pandangannya ke arah Liyan yang tengah duduk sambil bersandar di bahu kakaknya. Cemburu ketika melihat situasi itu sudah pasti. Apalagi dirinya tidak bisa berbuat apa-apa, terasa asing.


"Kamu kenapa lagi, Dit?" tanya ibu Arum mengagetkan.

__ADS_1


Aditya langsung membeberkan posisi duduknya.


"Bude, ngagetin aja." Jawabnya seperti orang kepergok.


Ibu Arum ikut duduk dan menemaninya.


"Kamu cemburu dengan kedatangan mereka? abaikan saja. Mungkin memang sudah cukup waktunya untuk tinggal bersama Nak Liyan. Juga, waktunya untuk berpisah. Bude sudah pernah bilang sama kamu, jangan terlalu menyukai, sakit rasanya. Jadi, seimbangkan perasaan mu, dan jangan melebihkan perasaan mu." Ucap Ibu Arum mengingatkan.


"Tapi, Bude. Aku tidak bisa jika harus berpisah. Juga, aku tidak peduli dengan masa lalunya, aku tulus mencintainya. Tapi- bagaimana dengan perasaannya Liyan? haruskah aku menjadi lelaki egois?"


"Sudah dibilangin dari tadi, abaikan perasaan kamu itu. Bersedia lah jika harus berpisah. Kalau memang berjodoh, sejauh mana rintangan mu, akan menjadi milikmu di titik final harapanmu. Tapi jika tidak berjodoh, sesulit apapun kamu memperjuangkannya, tetap saja tidak akan bisa hidup bersama. Jadi intinya itu, jangan melebihkan apapun, termasuk perasaan mu." Kata ibu Arum memberi nasehat kecil untuknya.

__ADS_1


Aditya sendiri membuang napasnya pelan, berharap bahwa dirinya berusaha untuk siap dalam menerima segala kenyataan maupun keputusan.


Sedangkan Liyan yang tengah duduk bersama sang kakak, dan ada putranya bersama Yena, pikirannya mulai tidak karuan. Lebih lagi ada Devan, sosok lelaki yang entah apa status hubungannya, karena sejak berada di kampung, sama sekali tidak mendapat keterangan apapun soal perceraiannya.


Sambil menunggu penanganan yang dilakukan kepada Vando, Liyan mulai tidak karuan perasaannya. Zivan masih memberi ketenangan seperti waktu yang sudah sudah di lewatinya. Hanya Zivan lah yang selalu menjadi sandaran untuk adik perempuannya.


"Kamu yang sabar, semua akan baik-baik saja. Badan kamu masih lemah, apa gak sebaiknya kamu di rawat saja? agar fisik kamu lekas membaik. Kakak tidak ingin terjadi sesuatu pada diri kamu, juga Vando. Jadi, sehatkan dulu kesehatan kamu. Jangan sampai kesehatan kamu terabaikan." Ucap Zivan mencoba untuk membujuk adiknya.


Liyan menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana aku mau istirahat? keadaan Vando saja entah seperti apa? aku benar-benar berhutang budi dengannya. Dia sudah menyelamatkan aku, juga Savan." Jawab Liyan tidak bersemangat.

__ADS_1


"Apa iya, kamu akan mengabaikan kesehatan kamu? kalau dirawat, kondisi kamu cepat pulih, dan bisa menemani Vando." Ucap Zivan kembali membujuk agar mau menerima saran darinya.


Liyan tetap menolak, dan memilih untuk tidak dirawat.


__ADS_2