Usai Pernikahan

Usai Pernikahan
Menenangkan pikiran


__ADS_3

"Tenangkan pikiran kamu, Liy. Savan baik-baik saja." Ucap Devan yang berusaha untuk menenangkan pikirannya.


"Bohong!" bentak Liyan dengan sekuat tenaganya untuk memberontak.


Dengan kuat, Devan menahannya agar tidak semakin brutal untuk berlepas diri dari mantan suami.


Napasnya yang terasa tersengal karena berusaha melawan Devan agar bisa lepas darinya, Liyan terus memberontak.


"Lepaskan aku. Lepaskan!"


Liyan terus memberi perlawanan.


"Diam! Liyan. Aku tahu, bahwa kamu lagi terpuruk. Tapi, bukan begini caranya. Aku tahu kalau kamu sedang tidak baik-baik saja, tapi apa daya kita ini, Liy? kamu mau marah, kamu mau benci kepada diri kamu sendiri, tiada gunanya, Liy." Bentak Devan yang berusaha untuk menyadarkannya, dan memeluknya agar tidak kabur.


Liyan yang mendengarnya, pun langsung tertunduk sedih. Air matanya mengalir begitu deras, kedua pipinya pun basah dan wajahnya menjadi sembab.


"Jadi benar, Sa-van tidak ter-to-long?"


Pandangannya serasa kabur, dan tak mampu lagi untuk berpikir. Bicaranya pun asal.


Dengan terpaksa, Devan mengangguk. Siap tidak siap, kenyataan tetaplah kenyataan. Akan lebih sakit jika Liyan dibohongi, dan justru akan membenci keluarganya ataupun orang yang dekat dengannya.


"Aku mau mati aja, aku gak guna hidup. Aku mau menyusul Savan. Dia pasti sedang menungguku. Savan, Savan, Bunda ingin bertemu kamu, Savan." Ucapnya lirih dalam pelukannya Devan.


Pelan-pelan, Devan mengusap punggungnya untuk menguatkan hatinya agar mau menerima kenyataan dengan lapang, meski terasa berat dan sangat menyakitkan.

__ADS_1


"Kamu masih diberi kesempatan untuk hidup, jangan kamu sia-siakan. Relakan kepergian Savan, agar putramu pergi dengan tenang. Kasihan Savan kalau kamu menyerah seperti ini. Kamu gak sendirian, ada aku, orang tua kamu, ada kakak kamu, juga Yena, juga Aditya, dan ada suami kamu. Kamu yang sabar, semua akan berpulang, hanya menunggu giliran. Doakan buat Savan, semoga tenang dalam kepergiannya." Ucap Devan yang terus menyemangati Liyan, berusaha mengingatkan dan mencoba untuk menghibur dirinya.


"Aku ingin bertemu Savan diakhir hidupnya. Aku ingin memeluknya, aku ingin bertemu dengannya." Jawab Liyan yang masih berada dipelukan mantan suaminya.


"Kamu janji, kamu tidak akan membuat suasana Savan kecewa. Kamu harus janji pada diri kamu, merelakan kepergiannya. Meski sakit, hancur perasaan mu, kamu tetap berusaha kuat." Ucap Devan, Liyan mengiyakan dengan isyarat.


Sesuai yang diinginkan Liyan, yakni untuk bertemu dengan putranya, Devan pun mengizinkannya. Awalnya ibunya Liyan keberatan, tetapi Devan tetap meminta izin untuk mengajak Liyan untuk pulang ke rumah duka. Mau bagaimanapun, Liyan adalah orang tuanya Savan, tidak ada hak untuk melarangnya.


Takutnya jika tidak diizinkan, maka akan bertambah masalah, dan pikiran Liyan semakin kacau tidak karuan.


"Kamu yakin, Dev?" tanya ibunya Liyan yang masih kepikiran.


"Aku yakin, Tante. Kasihan Liyan kalau permintaannya tidak dikabulkan, takutnya akan terus kepikiran dan menyalahkan dirinya sendiri. Jadi, biarkan Liyan pulang ke rumah. Tante tidak perlu khawatir, semua akan baik-baik saja." Jawab Devan mencoba meyakinkan.


"Baiklah, jika menurutmu semua akan baik-baik saja, Tante akan menyetujui." Ucap ibunya Liyan.


Ketika sudah siap-siap untuk pulang ke rumah, mereka berempat keluar dari ruangan rawat pasien untuk meninggalkan rumah sakit.


Mobil yang sudah menunggu di depan rumah sakit, Devan membantu Liyan untuk masuk kedalam mobil. Kemudian, disusul oleh ibunya Liyan dan Yena.


Selama perjalanan pulang, suasana di dalam mobil pun hening. Tidak ada satupun yang bicara. Liyan sendiri memilih untuk bersandar di dada bidangnya Devan, lantaran tempat ternyaman untuk bersandar.


Tidak memakan waktu lama, akhirnya sampai juga di dihalaman rumah duka. Didalam area rumah, sudah dipadati banyaknya orang orang tang datang untuk berbelasungkawa.


Liyan yang sudah bergemuruh didalam dadanya, napasnya terasa sesak, begitu berat ujian yang harus diterima. Anak satu-satunya yang sangat disayangi, kini berpulang tanpa pamit. Meninggalkan banyak kenangan, serta kisah yang hanya sebentar saja.

__ADS_1


"Mau aku gendong?" tanya Devan memberi tawaran kepada Liyan.


"Apa aku bisa menatap wajah Savan untuk berpisah? enggak, aku gak mau berpisah dengannya. Aku mau ikut Savan, aku mau menemani Savan. Aku takut kalau Savan tidak berani pergi sendirian." Jawab Liyan yang bicara kemana-mana.


Devan berusaha memenangkan pikirannya.


"Kamu harus berlapang dada, jangan biarkan hatimu menghalangi kepergiannya. Biarkan Savan dengan tenang, dan pergi bersama doa-doa dari kita semua. Kamu jangan mencemaskan Savan, dia sudah berpulang dengan tenang. Ayo, aku temani kamu. Lepaskan bebanmu, agar kamu tidak terhanyut dalam kesedihan mu." Ucap Devan memberi nasehat kecil untuk Liyan.


Liyan yang sudah tidak berdaya untuk turun dari mobil, Devan menuntunnya dan mengajaknya masuk kedalam rumah. Sebenarnya ingin menggendong Liyan, tetapi Devan menyadari jika Liyan sudah bersuami, dan suaminya super posesif. Mau tidak mau, Devan memilih untuk menuntunnya.


Saat sudah berada didalam rumah, dan sudah berada di dekat dua jenazah. Tubuh Liyan mendadak kesulitan untuk menopang berat badannya.


Arah pandangannya kosong saat menatap wajah jenazah putranya yang sudah pucat tidak berdaya. Liyan yang melihatnya, napasnya terasa sesak. Kuat tidak kuat ketika menghadapi kenyataan pahit, Liyan berusaha untuk tetap tegar.


Dihapusnya air mata yang membasahi kedua pipinya, kemudian Liyan mencium putranya untuk yang terakhir kalinya. Sungguh perpisahan yang sangat berat untuk diterima. Kenangan yang terlintas dalam ingatannya, menusuk hingga ke ulu hatinya, sangat menyakitkan.


Semakin lama memandangi wajah jenazah putranya, arah pandangannya tertuju pada jenazah ibu mertuanya. Baru saja kemarin tinggal bersama, kini harus terjadi perpisahan. Lebih lagi pergi untuk selama-lamanya bersama putra kesayangannya. Liyan benar-benar sangat terpukul menerima kenyataan pahit yang jauh dari bayangannya.


Vando yang mengetahui istrinya tengah berdiri didekat kedua jenazah ibunya maupun putranya, sama sekali tidak mendekatinya. Vando tetap mengabaikan kehadiran istrinya yang butuh penyemangat dari suaminya. Namun, justru si Vando acuh padanya. Bahkan, sedikitpun sama sekali tidak peduli.


Devan yang tidak ingin ada masalah, memilih meminta tolong kepada Yena untuk menemaninya. Sedangkan Devan sendiri hanya memantau dan mengawasi Liyan dari jarak jauh.


"Liyan, sudah. Ayo kita duduk di sana, kita tunggu keberangkatan untuk mengantarkan jenazahnya Savan dan ibu mertua kamu. Kita duduk di sana sebentar, nanti kita lanjut lagi jika kamu mau ikut." Ajak Yena sambil memberi pengertian kepada Liyan.


Karena kedua jenazah segera diurus untuk keberangkatan ke makam, Yena dan Liyan mencari tempat duduk untuk menunggu jam berangkat.

__ADS_1


Devan sendiri masih tetap memantau Liyan, takutnya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


__ADS_2