Usai Pernikahan

Usai Pernikahan
Kembali mengobrol


__ADS_3

Karena tidak ingin melewatkan isi dalam buku diary miliknya Liyan, Vando mencoba memberanikan diri untuk melanjutkan membacanya.


"Andai waktu bisa aku putar kembali, aku akan mengiyakan apa yang menjadi permintaannya Liyan. Tapi, semua sudah terlanjur. Aku hanya bisa berharap, setelah pulang ke kota, Liyan tidak lagi bertemu dengan Aditya." Gumamnya penuh harap, dan juga takut akan hal prasangka buruknya benar-benar terjadi.


Sekian lama tidak bertemu, sekalinya bertemu, Vando dihadapkan dengan kenyataan yang cukup menguras pikirannya.


Vando membuang napasnya dengan kasar, berharap semuanya baik-baik saja.


"Aku harus fokus dengan tujuanku, yaitu membahagiakan Liyan dan juga Savan, juga fokus dengan kerjaan." Gumamnya lagi saat hati dan pikirannya tidak bisa diajak kompromi.


Dengan seksama, Vando kembali membaca isi dalam buku diary tersebut. Didalamnya tertulis namanya, juga Savan, bahwa Liyan menyebutnya soal kerinduan dan juga kata-kata yang membuat hati Vando berbunga-bunga. Senyum merekah telah menghiasi kedua sudut bibirnya ketika membaca tulisan istrinya yang telah membuatnya tersenyum bahagia.


Namun, tiba-tiba Liyan membaca kalimat soal Aditya. Lagi-lagi terbakar oleh api cemburu.


"Jadi, Aditya selalu mengungkapkan perasaannya kepada Liyan. Bahkan, tidak ada kata lelah." Gumamnya lagi dan melanjutkan bacanya hingga selesai.


Sungguh membuat Vando seolah hilang semangatnya ketika membaca buku diary miliknya Liyan.


Yang awalnya ingin istirahat dan tidur, mendadak hilang rasa kantuknya. Dengan pikirannya yang masih terus memikirkan Liyan, Vando terasa penat untuk berpikir positif. Karena gerah dan juga banyak pikiran, Vando kembali keluar dari kamar untuk mengambil air minum.

__ADS_1


'Liyan,' batinnya. Kemudahan, Vando mendekatinya.


Liyan yang tidak mengetahui jika Vando sudah berdiri di dekatnya, ia masih fokus menyangga dagunya seperti tengah memikirkan sesuatu.


"Kamu gak jadi tidur?" tanya Vando yang akhirnya ikutan duduk di sebelahnya.


Seketika, Liyan kaget dibuatnya.


"Kamu, ngapain gak tidur?"


Liyan balik bertanya.


"Aku tanya sama kamu, bukan untuk tanya balik. Kamu kenapa gak tidur? ini udah malem. Tuh lihat, udah jam berapa itu? jangan mengabaikan kesehatan, nanti kamu sakit."


"Oh. Ya udah, kamu tidur di kamar kamu sendiri, biar aku yang tidur di ruang tamu."


"Enggak perlu, nanti aku masuk lagi ke kamar. Biasanya kalau udah jam dua, suhunya tidak lagi panas. Jadi, aku pilih untuk di ruang tamu sebentar. Kamu juga, kenap gak tidur? bukan karena gerah, 'kan?"


Vando tersenyum menatap wajah Liyan. Namun, ia kepikiran kalau secara tiba-tiba si Aditya datang. Tentu saja akan mengganggu obrolannya bersama perempuan yang sangat dirindukannya.

__ADS_1


"Aku gak bisa tidur karena kepikiran kamu, Liy. Aku takut kalau kamu berubah pikiran. Maaf, mungkin karena aku takut kehilangan kamu yang kedua kalinya. Juga, aku takut kalau Aditya yang kamu pilih." Jawab Vando yang akhirnya berterus terang soal kekhawatirannya mengenai Aditya yang juga mencintai perempuan yang ia cintai.


Liyan yang mendengarnya, pun menarik napasnya panjang, dan membuangnya pelan.


Liyan menoleh.


"Aditya memang sudah berkali-kali mengungkapkan perasaannya padaku, dan aku sudah berkali-kali menolaknya. Sedangkan aku masih berharap kalau kamu masih menungguku. Aku sudah berjanji kepada Savan, kalau aku akan mempertemukannya denganmu."


Vando langsung meraih tangannya Liyan, dan memeluknya dengan erat.


"Kita harus segera pulang ke kota secepatnya, dan aku akan bertanggungjawab atas dirimu dan juga Savan. Aku akan menebus semua kesalahanku padamu selama ini. Janji, aku janji untukmu." Ucap Vando sambil memeluknya dengan erat.


Liyan yang terasa sesak untuk bernapas, langsung merenggangkan pelukannya.


"Lepaskan, aku gak bisa bernapas, sesak."


Vando langsung melepaskan pelukannya. Lalu, menatap wajahnya dengan lekat.


"Besok kita akan segera urus untuk pulang ke kota, gimana?"

__ADS_1


Liyan mengangguk, dan tersenyum tipis. Sedangkan seseorang yang tengah berdiri di sudut ruangan yang tidak jauh jaraknya, rupanya Aditya mendengarnya dengan sangat jelas obrolan dari keduanya.


'Sesakit inikah aku mencintaimu, Liyan.' Batin Aditya dengan rasa cemburunya.


__ADS_2