
Saat baru saja membantu ibu Arum, Aditya dikagetkan dengan suara dering di ponselnya.
Dengan serius, Aditya mendengar lewat sambungan telepon.
"Baik. Sekarang juga, saya akan segera datang. Pastikan, semuanya tidak ada yang kurang. Sambut para tamu undangan dari luar daerah ataupun dari kota sebrang dengan sebaik mungkin." Ucap Aditya tak lupa memberi perintah.
Karena memang diminta untuk datang, Aditya menyempatkan diri untuk datang ke tempat kerja.
"Bude, aku mau ke tempat kerja. Soalnya ada hal yang penting. Nanti kalau ada sesuatu soal Liyan, hubungi nomor saya ya, Bude. Ponselnya ada meja kamar. Soalnya ini ada pertemuan penting, jadi gak bisa ditinggalkan. Tidak apa-apa 'kan, Bude? cuma bentar kok. Nanti akan aku usahakan secepatnya pulang."
"Ya. Semoga berhasil, dan sukses buat kamu. Ingat, tetap rendah hati dan jadilah orang yang bijaksana. Banyak diam itu jauh lebih baik, berbicaralah seperlunya. Kawan bisa menjadi lawan, apa lagi orang yang tidak dikenal. Semoga berhasil acara pertemuannya." Jawab Ibu Arum yang tidak lepas memberi nasehat kecil kepada Aditya.
Aditya mengangguk dan mengiyakan, dan segera bersiap-siap untuk berangkat kerja.
Sedangkan ibu Arum hanya memberinya semangat, serta doa untuknya.
Karena jarak rumah dengan tempat kerjaan tidak terlalu jauh, cukup dengan motor bisa di jangkau.
"Kirain gak berangkat kerja kamu, Bro. Sibuk ya sama janda muda." Ucap salah seorang temannya yang sedari dulu selalu mengejek.
"Ya, Liyan jatuh sakit, tentu saja aku menemaninya, kenapa?"
"Iya lah, percaya. Saudaranya pak RT sih, eh pak lurah, aman aman saja pastinya." Timpal teman satunya.
__ADS_1
"Udah selesai ngomongnya. Kerjaan banyak tuh, selesaikan kerjaan kalian." Jawab Aditya yang kini mulai berani membalas ucapan dari orang-orang yang suka mem-bully dirinya.
Namun, kini sosok Aditya merasa sudah cukup untuk terus-terusan di bully. Membela diri dan memberi sesuatu yang membuat orang jera dan tidak berkutik itu jauh lebih penting dari pada harus menunjukkan kelebihannya dari dulu.
"Soal kerjaan, gampang. Hari ini 'kan, ada pertemuan penting antara bos besar kita sama para tamu undangan dari luar daerah maupun dari kota sebrang. Jadi, suka-suka kami orang dong. Kalau kamu takut kita-kita kena marah, kerjakan aja sendiri." Ucapnya dengan berani.
"Oh, gitu ya. Ya udah, biar aku yang akan mengerjakan semuanya. Minggir." Jawab Aditya dan langsung mencari seseorang untuk diperintahkan mengerjakan tugas yang masih mangkrak.
Setelah itu, dirinya segera masuk ke ruang ganti. Semua karyawan yang sudah hadir di acara spesial dalam beberapa tahun lamanya tidak ada pertemuan dengan orang luar daerah, kini sangat dinanti-nantikan acara tersebut. Tentunya, acara apa lagi kalau rasa penasarannya tentang soal siapa sosok bos besar ditempat kerjanya.
Setiap pekerja dibuatnya rasa penasaran, tentunya ingin sekali melihat sosok bosnya. Bahkan, semua bertanya tanya dan tengah membicarakan.
Yena yang sebenarnya sudah mengetahui kebenarannya, pun ikutan heboh seperti yang lain.
CETAK!
"Kurang heboh kamunya. Sudah sana kamu urus semuanya. Ingat, jangan sampai kamu melakukan kesalahan. Kamu mengerti? sudah sana selesaikan kerjaan kamu."
"Ya, ya ya ya." Jawab Yena dengan malas.
Setelah itu, Yena segera bergegas pergi dan menjalankan perintah dari Aditya. Sedangkan Liyan yang di rumah, baru saja bangun dari tidurnya karena efek obat yang ia minum.
"Sudah bangun kamu, Nak? tadi ibu buatkan bubur kacang ijo. Bentar ya, ibu ambilkan dulu."
__ADS_1
"Enggak usah repot-repot, Bu. Liyan bisa ambil sendiri kok. Dibuatkan bubur saja sudah sangat senang, makasih banyak ya, Bu. Maaf, lagi-lagi merepotkan ibu lagi." Jawab Liyan merasa tidak enak hati.
"Jangan mengulangi kalimat yang sama. Kamu harus sembuh, juga harus sehat. Bentar ya, ibu mau ambilkan dulu buburnya." Ucap Ibu Arum.
Liyan sendiri justru terasa tidak enak hati jika dirinya selalu menjadi beban, dan ingin rasanya membalas budi, tapi tidak tahu harus bagaimana, pikirnya. Keluarganya sudah mengabaikan, pikir Liyan yang sudah kehilangan cara.
Di tempat lain, Aditya yang sudah mengganti pakaiannya yang jauh dari kata wah, tersenyum bangga saat berdiri di depan cermin. Harapannya cuma satu, yakni menikahi Liyan, perempuan yang sangat dicintainya. Meski sudah berkali-kali ditolak cintanya, tidak membuat sosok Aditya menyerah.
Tidak peduli juga jika pada akhirnya Liyan akan memilih ayah biologis Savan, yang terpenting usaha dan terus berharap agar semua sesuai yang diinginkannya.
"Liyan. Sudah saatnya aku menunjukkan siapa aku di hadapan mu. Aku akan terima sebuah keputusan kamu. Setelah ini, aku akan mengantarkan kamu ke orang tua kamu. Juga, akan mempertemukan kamu dengan ayah biologis Savan. Aku tidak akan menyerah, aku akan melakukan apa saja demi mendapatkan jawaban dari mu. Mungkin dengan cara kamu bertemu dengan masa lalu kamu, akan ada jawaban untukku." Ucapnya lirih di depan cermin dengan yakin.
Karena sudah ditunggu-tunggu oleh semua pekerja dan para tamu undangan, mereka dihebohkan dengan kehadiran tiga laki-laki yang sama tampannya, dan menjadi pusat perhatian.
Juga, tidak hanya itu saja. Justru mereka para pekerja masih menyimpan rasa penasaran dengan sosok bosnya yang terbilang sangat misterius itu. Kabar yang beredar, bosnya masih muda, dan belum menikah, itulah yang menyimpan rasa penasaran yang cukup berat.
Sedangkan beberapa orang yang menjadi tamu undangan, kini tengah duduk ditempat yang sudah disediakan.
"Kamu kenapa melamun? apa yang sedang kamu pikirkan, Van?" tanya Devan yang rupanya menjadi ketiga tamu undangan dari ibu kota.
"Aku kepikiran Liyan, dimana dia? sekarang sudah ada di kampung, apakah mungkin ada di kampung ini?"
"Aku sendiri tidak tahu, Van. Kalaupun aku tahu, pasti sudah memberitahukan mu." Timpal Zivan selaku kakak dari Liyan.
__ADS_1
"Ngobrolnya nanti lagi. Kita fokus dulu dengan tujuan kita." Ucap Devan mengingatkan.
Vando mengiyakan. Mencari alasan pun percuma, pikirnya.