
Di kediaman keluarga Gavindra, Liyan yang sudah bangun pagi-pagi, mendapati Savan tengah duduk dianak tangga paling bawah sambil menyangga dagunya layaknya orang dewasa.
"Savan, kok duduk dibawah?" tanya Liyan memergoki putranya.
Kemudian, Liyan ikutan duduk didekat putranya.
"Savan kangen sama Paman Aditya, Bunda. Bener gak sih, paman Adit datang ke rumah? Savan bete di rumah, libur sekolahnya kelamaan." Jawab Savan sambil cemberut.
"Ada apa ada apa? kedengarannya ada yang lagi bete nih." Timpal Vando ikut bicara saat mendapati anak dan istrinya tengah mengobrol dianak tangga.
"Ayah. Ayah tahu 'kan, rumahnya paman Aditya? kita main ke rumahnya, yuk."
Vando segera berjongkok di hadapan putranya.
"Savan, hari ini bukan hari minggu, Nak. Paman Aditya pasti lagi sibuk. Jadi, datangnya pas hari minggu aja, gimana?"
"Tapi 'kan, paman Aditya udah janji mau ke rumah. Tapi, kok belum datang ya, Yah?" tanya Savan berubah menjadi tidak bersemangat.
"Jangan begitu dong, sayang. Mungkin benar yang dikatakan Ayah, kalau paman Aditya lagi sibuk kerja. Hari ini 'kan, bukan hari libur. Pastinya harus kerja dong." Ucap Liyan mencoba untuk menasehatinya.
"Savan mau bermain aja ah, sama Bibi." Kata Savan dan memilih untuk bermain dengan asisten rumah yang berjaga dua puluh empat jam bersama Savan.
"Nanti kalau paman Aditya nelpon, dan mau datang ke rumah, pasti nanti Ayah kasih tahu ke Savan, oke."
Savan mengangguk dan bermain bersama asisten rumah.
"Sepertinya Savan memang pingin bertemu dengan Aditya. Boleh 'kan, nanti kita antar ke rumahnya." Ucap Liyan yang mengetahui kedekatan Savan dengan Aditya.
Vando yang tidak mempunyai pilihan, pun mengangguk.
"Iya, nanti aku yang akan antar Savan. Kebetulan juga, arah kantor ku melewati jalan ke rumah Aditya. Jadi, nanti Savan ikut aku. Tapi sebelumnya aku mau telepon Aditya dulu, takutnya udah berangkat." Jawab Vando merasa keberatan, tapi dirinya tidak bisa menolak permintaan istrinya.
"Kamu gak marah, 'kan? soalnya Savan- gak apa-apa, aku mau ke dapur, sekalian mau ngomong ke Mbak Lela buat bantu Savan siap-siap."
__ADS_1
"Aku tahu kok, Savan sudah seperti anak kandungnya Aditya, 'kan? ya, aku sudah tahu kedekatan Savan dengan Aditya, layaknya anak dan ayah. Berbeda denganku. Kalaupun orang tuamu tidak memberi ancaman soal kamu, sudah pasti aku menemukan mu." Ucap Vando yang mendadak sensitif dan segera kembali masuk ke kamar.
Liyan yang merasa bersalah karena meminta kepada suaminya untuk mengantarkan Savan ke rumahnya Aditya, segera mengejar suaminya untuk menjelaskan kembali.
"Van, tunggu. Aku bisa jelasin semuanya. Bukan maksud aku buat bikin kamu jengkel." Panggil Liyan sambil mengejar suaminya masuk ke kamar.
Savan langsung balik badan setelah mengambil ponselnya.
"Aku minta maaf. Yang aku ucapkan tadi itu salah. Tidak seharusnya aku memintamu untuk mengantar Savan ke rumahnya Aditya. Aku minta maaf." Ucap Liyan yang sudah ada di hadapan suaminya.
Vando yang sudah terbakar api cemburu karena mulai posesif, terasa takut jika harus kehilangan perempuan yang dicintainya kedua kalinya.
"Bagaimana aku punya kedekatan yang lebih dengan Savan, Liy? aku bertemu Savan pun baru kemarin. Ditambah lagi, aku harus kerja yang tidak bisa sepenuhnya di dalam rumah. Pulang saja sudah sore, kadang juga lewat. Tidak semudah itu untuk dekat dengan Savan. Aku butuh waktu, dan juga proses. Kalau kamu mempertemukan Savan dengan Aditya terus-menerus, mana bisa mau mengenaliku sebagai ayahnya." Jawab Vando yang sudah terbakar oleh api cemburu.
Liyan yang melihat suaminya memegangi ponselnya, meraih dan diletakkan kembali di atas meja.
"Ya udah, aku akan mencari alasan lain agar Savan tidak kepikiran Aditya. Maaf, kalau aku sudah membuatmu kesal, dan juga jengkel." Ucap Liyan.
Kemudian, Vando memeluk istrinya.
"Iya, aku sudah mengerti. Aku minta maaf soal yang tadi." Jawab Liyan yang tengah membalas pelukan suaminya.
Kemudian, mereka berdua melepaskannya.
"Ya udah ya, aku mau siap-siap berangkat kerja. Aku mau beresin kerjaan aku yang sempat tertunda."
"Aku bantu ya?"
Vando tersenyum kepada istrinya, dan mencium keningnya.
"Makasih ya, sayang. Aku janji, aku akan berusaha menjadi suami dan ayah yang terbaik untuk keluarga, terutama kamu dan Savan." Ucap Vando, Liyan tersenyum dan membalas dengan memeluk.
"Aku akan selalu mendukung mu. Asal itu untuk keluarga kecil kita, aku akan mendukung mu." Jawab Liyan.
__ADS_1
Savan melepaskannya.
"Ya udah ya, aku mau siap-siap dulu." Ucapnya.
"Aku mau siapin baju kerjanya." Jawab Liyan dan bergegas menyiapkan pakaian lengkap termasuk baju kerja.
Vando yang merasa lega, pun tidak lagi menjadi beban pikirannya. Kemudian, ia segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Liyan yang baru saja menyiapkan baju ganti untuk suaminya, ia masuk ke ruang kerjanya. Sambil membereskan berkas yang akan dibawa, ia menemukan selembaran foto yang tergeletak di dekat komputer.
"Foto siapa ini?" gumamnya bertanya-tanya.
Namun, tiba-tiba kedua bola matanya membulat dengan sempurna saat melihat foto perempuan yang tidak asing baginya.
"Astaga! ini 'kan, foto jaman dulu. Waktu aku lagi di Bis. Iseng banget dia, sampai-sampai aku yang sedang tidur pun di foto, hem."
"Ekhem. Kamu lagi ngapain? apa itu?"
Liyan langsung menyembunyikan fotonya ke belakang.
"Bukan apa-apa, serius." Jawab Liyan sambil mundur ke belakang hingga mentok pada lemari berisi buku.
Vando menatapnya begitu lekat. Pernikahan yang terhalang tanggal merah, membuatnya harus menahan has_ratnya. Namun, Vando tidak tinggal diam. Dengan lembut, ia mencium bibirnya sang istri.
Liyan membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna. Sent_uhan bibir yang tengah dilakukan oleh suaminya, sudah begitu lamanya tidak mendapatkan sens_asinya bercinta.
Vando yang begitu menikmatinya, ia langsung menggendong istrinya dan membawanya ke dalam kamar.
Liyan yang teringat jika dirinya tengah kedatangan tamu bulanan, ada rasa takut. Vando yang sudah seperti orang rakus, pun langsung membuka kencing baju istrinya.
Nahas, ketukan pintu terdengar jelas dari depan pintu kamar.
"Ayah! buka pintunya." Teriak Savan dari luar kamar.
__ADS_1
"Benerin baju kamu, sepertinya Savan yang memanggil." Ucap Vando yang merasa sedikit kesal, namun kenyataannya putranya sendiri yang mengganggunya.
Liyan sendiri segera membenarkan baju serta penampilannya agar tidak berantakan. Vando sendiri segera membuka pintunya.