
Waktu telah dilewati bersamaan dengan persiapan hari pernikahan yang sudah ditentukan. Kini antara Liyan dengan Devan hanya tinggal menunggu hari pernikahannya.
Liyan yang memang ingin kembali membina rumah tangga bersama Devan si mantan suami, berharap akan membawa kebahagiaan seperti yang pernah diharapkan dimasa lalunya bersama mantan suaminya dulu.
Saat sudah bersiap-siap untuk pergi bersama sang kakak untuk menikmati kebersamaan antara kakak dan adik sebelum hari pernikahannya, Liyan bergegas menemui sang kakak untuk segera berangkat.
Karena malas membuang buang waktu, Liyan memilih untuk mengetuk pintu kamar sang kakak agar tidak berlama-lama harus menunggu.
"Kak Zavan, udah belum? aku udah siap nih. Jangan lama-lama dong, capek nunggunya." Panggil Liyan setelah mengetuk pintu.
Zavan yang lagi menyisir rambutnya, ia memutarbalikkan badan untuk membuka pintu kamarnya.
"Sabar dikit kenapa, Kakak lagi siap-siap. Dah sana tunggu di teras rumah, nanti Kakak segera menyusul." Ucap Zavan.
"Awas loh kalau sampai kelamaan, ngambek pokoknya." Jawab Liyan dibuat cemberut.
Zavan pun tertawa kecil saat melihat ekspresi adiknya yang dibuat cemberut.
"Iya iya, bawel. Ya udah sana tunggu Kakak di teras, gak lama kok, cuma nyisir rambut doang." Kata Zavan agar adiknya tidak cemberut.
"Awas loh kalau pakai lama." Ucap Liyan sambil bekacak pinggang.
"Iya sih iya, bawel banget kamu ini. Dah sana tunggu Kakak."
Liyan mengiyakan dan segera turun.
Tidak ingin membuat adik perempuannya menunggu lama, Zavan langsung nyisir rambutnya, mengenakan jam tangan. Lalu, menyambar jaket dan segera keluar.
"Gimana, dah siap untuk jalan-jalan kah?" tanya Zavan sambil mengenakan jaketnya.
Liyan bangkit dari posisi duduknya.
__ADS_1
"Siap dong pastinya." Jawab Liyan bersemangat.
"Ya udah kalau gitu, ayo kita berangkat. Eh, Mama sama Papa udah pergi duluan 'kan?"
"Udah berangkat dari tadi. Ngomong-ngomong Kak Zavan mau ngajak aku kemana? males kalau cuma ke taman atau sejenisnya, mending juga di rumah."
"Kakak mau mengajak kamu belanja, sesuai kesukaan kamu. Selain berbelanja, Kakak mau ajak kamu ke suatu tempat. Pokoknya ini kejutan. Tempat yang entah udah berape tahun lamanya, spesial dan kejutan pokoknya. Dah lah, ayo kita berangkat. Takutnya nanti waktunya terbuang sia-sia, 'kan sayang. Dah, ayo berangkat."
"Ya iya, awas loh Kak, kalau kejutannya gak spesial." Ucap Liyan.
"Harus percaya dong, kalau Kakak gak pernah mengecewakan." Jawab Zavan.
"Ya deh percaya sama Kak Zavan." Ucap Liyan dan segera masuk kedalam mobil.
Setelah sudah siap dan tidak ada yang ketinggalan, mereka berdua berangkat ke tempat tujuannya. Meski terasa berat karena takut terjadi sesuatu pada adik perempuannya, sebisa mungkin untuk menjaganya.
'Maafkan aku, Dev. Aku terpaksa keluar mengajak Liyan buat jalan-jalan tanpa sepengetahuan kamu. Aku ingin memberi hadiah untuk adik kesayanganku sebelum Liyan menikah denganmu. Tenang saja, aku pergi juga tidak sendirian, melainkan ada orang suruhanku untuk mengawasi kami.' Batin Zavan sambil menyetir mobil.
"Woi, ngelamun aja kamu ini. Ada apa denganmu, Bro? kamu ada masalah?"
Jino tiba-tiba mengagetkan.
"Enggak tahu kenapa tiba-tiba aku kepikiran calon istriku. Entah lah, mungkin kebawa ngelamun." Jawab Devan dengan asal.
"Ya iyalah ini 'kan, hari minggu. Biasanya mingguan, ini ngejar target kamunya." Sahut Doni ikut menimpali.
"Ya biar nanti pas aku nikahan, kerjaan aku gak numpuk." Ucap Devan.
"Kamu tuh seharusnya udah libur. Waktunya kamu istirahat, biar pas nikah itu kamu gak kecapean. Gimana sih kamu ini. Dah lah, mending kamu pulang, nikmati beberapa hari ini agar kamu tidak kecapean." Timpal Tomi ikut bicara dan juga tak lupa memberi saran.
"Gak lah. Soal capek enggaknya juga sama aja bagiku. Ya udah yuk, kita lanjutkan lagi kerjaan kita, biar cepat selesai. Tuh, tugas kita masih banyak. Ayo kerjakan lagi, selesaikan kalau bisa sore ini udah ada mobil yang diambil." Ucap Devan, mereka semua hanya mengiyakan dan terasa gak ditanggapi soal saran yang diberikan.
__ADS_1
Diposisi lain, Liyan yang sudah di antar ke tempat butik ternama, hatinya berbunga-bunga. Jiwa shopingnya kembali seperti dulu, yakni masa-masa sekolah. Meski serba terpenuhi kebutuhannya, Liyan tidak kalah dengan teman lainnya yang suka berbelanja. Namun, ia tersadar, ingatannya tertuju kepada Savan yang kini telah tiada.
Sedih sudah pasti. Tapi mau gimana lagi, semua tidak akan bisa kembali untuk yang sudah pergi selama-lamanya.
'Savan, andai kamu masih ada, Mama pasti akan mengajakmu jalan-jalan dan berbelanja. Tapi, sekarang Mama hanya ditemani saudara Mama, bukan kamu maupun ayahnya Savan. Kehidupan Mama sudah berbanding terbalik dengan impian Mama, bahagia bersamamu dan ayah Vando. Kini, semua telah berlalu.' Batin Liyan sambil menatap gedung butik, air matanya pun lolos begitu saja.
"Bersabarlah. Semua sudah berlalu. Kakak tahu, kamu merindukan Savan, 'kan? kamu harus bersemangat untuk diri kamu sendiri, juga Savan. Ayo, kita masuk. Hari ini Kakak ingin menanjakan kamu sebelum suami kamu." Ucap Zavan menyemangati adiknya.
"Iya, Kak." Jawab Liyan begitu singkat.
Zavan sendiri tidak mempermasalahkannya sedikitpun. Kemudian, mengajak adik perempuannya masuk kedalam butik untuk mengajaknya berbelanja.
Di posisi lain, seseorang sedang memberi perintah kepada anak buahnya.
"Culik Liyan sekarang juga. Setelah itu, kita beraksi untuk memb_unuh Devan. Cepat kerjakan tugas kalian. Ingat, jangan sampai ketahuan, paham kalian." Ucapnya memberi perintah kepada anak buahnya.
"Siap! Tuan." Jawab beberapa orang dengan serempak.
Setelah itu, mereka segera beraksi untuk melakukan perintah dari Bosnya.
Hai Readers setia...
Ada novel baru nih... judulnya SARANG CINTA SANG MANTAN.
Jika ada yang berkenan untuk mampir, boleh banget...
Deskripsinya
Neyla yang tidak mempunyai pilihan, ia rela menukar harga dirinya dengan uang demi kesembuhan anaknya yang berusia 15 tahun menderita penyakit lupus. Sedangkan suaminya hanya mampu menghidupinya soal kebutuhannya sehari-hari. Lain lagi untuk biaya pengobatan anaknya, justru Neyla lah yang harus mencari uang untuk kesembuhan anak laki-laki satu-satunya.
Siapa sangka, jika dirinya dipertemukan kembali dengan masa lalunya. Akankah Neyla temukan kebahagiaannya? atau justru hidupnya semakin terpuruk.
__ADS_1
Yuk yang penasaran dengan alur ceritanya, boleh mampir ya... Sudah bab 24 loh.. yuk mampir..