Usai Pernikahan

Usai Pernikahan
Tidak mau kalah


__ADS_3

Sesuai yang diucapkan waktu masih didalam kapal, Aditya tidak lagi bersama Vando dan Liyan, yakni memilih pulang sendirian. Sedangkan Savan yang baru saja terbangun dari tidurnya, pun celingukan.


Sambil mengucek kedua matanya, dan mencoba mengamati isi didalam ruang kapal, Savan seperti kebingungan. Tentu saja kaget saat dirinya tidur dipangkuan ayahnya.


"Bunda, kita belum sampai ya? kita ada dimana?" tanya Savan yang tersadar dari tidurnya.


"Kita lagi didalam kapal, sayang. Sebentar lagi kapalnya menyandar."


"Kapal? Savan naik kapal, Bunda? Bunda gak bohong, 'kan?" tanya Savan seperti mimpi.


Liyan mengangguk dan tersenyum.


"Benar, sayang. Kita naik kapal laut, yang gede itu loh, yang Savan inginkan. Pergi ke kota, terus naik kapal. Gimana, Savan suka?"


"Hore.... Savan naik kapal. Bunda gak bohong, 'kan?"


Liyan kembali tersenyum kepada Savan.


"Iya enggak dong, Savan. Bunda gak bohong, Savan beneran naik kapal yang besar. Gimana kalau Ayah temani Savan naik ke atas, nanti Savan lihat pelabuhan, juga laut yang luas, mau 'kan?"


Vando pun mengajak putranya untuk naik kebagian atas, yakni untuk menyenangkan Savan, apa lagi kalau bukan untuk melihat pemandangan.


"Hore.... Asik... Tapi, Ayah."


Tiba-tiba Savan berhenti bersorak.


"Paman Aditya ada dimana, Ayah? kok gak bareng kita."


Vando langsung memegangi lengannya Savan. Tentunya untuk meyakinkan jika semuanya baik-baik saja, meski sebenarnya ada konflik diantara dirinya dengan Aditya.


Seketika, Vando mengusap wajahnya dengan kasar.


"Dengarkan kata Ayah. Apakah Savan bersedia mendengarkan ucapannya Ayah?"


Savan mengangguk.


"Iya, Ayah. Memangnya Paman Aditya kemana? padahal Savan pingin lihat laut bareng Paman juga. Tapi, kenapa Paman Aditya gak ada?"


"Paman Aditya lagi sibuk dengan pekerjaannya. Jadi, gak bisa menemani Savan pulang. Tapi tenang saja, Savan gak sendirian, ada Ayah sama Bunda yang akan menemani Savan." Jawab Vando beralasan, karena tidak mungkin juga untuk mengatakan dengan jujur begitu saja di hadapan putranya yang masih sangat polos, juga masih kecil.

__ADS_1


"Yeah, gak bisa bareng Paman Aditya, dong. Padahal Savan masih pingin ditemani Paman Aditya, tapi udah pergi." Ucap Savan terlihat lesu dan tidak bersemangat.


Bagaimana tidak lesu, dan juga cemberut, Savan gagal untuk menikmati kebersamaan, pikir Savan dengan jalan pikirnya yang terkadang masih sangat polos.


"Savan gak perlu bersedih. Ada Ayah yang siap menemani Savan, juga ada Bunda. Jadi, Savan jangan takut, oke."


Savan mengangguk yang hanya bisa nurut.


"Ya udah kalau begitu. Sekarang kita pindah ke atas, kita melihat laut yang begitu luasnya. Juga, kita akan melihat banyaknya kapal di lautan yang sedang menyeberang. Gimana menurut Savan, mau 'kan ya?"


Wajah Savan tampak murung, lantaran Aditya pergi tanpa berpamitan. Sedih rasanya.


"Savan kenapa?" tanya ibunya ikut menimpali. Savan sendiri menggelengkan kepalanya.


"Ya udah, ayo ikut Ayah. Nanti Savan bisa lihat laut yang sangat luas, juga pemandangannya sangat indah. Pokoknya Savan tidak akan pernah menyesal, ayo."


Savan akhirnya mengiyakan dan ikut Vando naik ke atas, yakni untuk melihat pemandangan yang begitu luas.


"Paman Adit! tunggu." Teriak Savan saat melihat sosok Aditya. Savan berlari dan mengejarnya.


Saat itu juga, Savan langsung memeluk erat lewat kedua kakinya karena tinggi badan yang tidak bisa dijangkau oleh Savan. Aditya yang mengetahui jika anak kecil itu adalah Savan, Langsung berjongkok dihadapannya. Lalu memegangi kedua lengannya.


"Paman jahat! kenapa Paman perginya gak pamit dulu?"


Aditya langsung memeluk Savan dengan erat.


"Maafkan Paman ya, Savan. Bukanya Paman gak mau berpamitan dengan Savan. Tapi, Paman hanya tidak ingin melihat jagoannya Paman bersedih. Tenang saja, nanti kalau sudah di kota, Paman akan menemui Savan." Jawab Aditya dan melepaskan pelukannya.


Savan masih menangis sesenggukan, tidak ingin untuk berpisah. Meski mempunyai harapan untuk bertemu dengan ayahnya. Namun, ketika harus berpisah dengan Aditya, rasanya begitu berat. Dari masih sejak dalam kandungan, Aditya sudah memberi perhatian kepada Liyan, bahkan hingga sampai saat ini.


Namun, perhatiannya seolah kini tertolak sejak Ayah biologisnya. Aditya yang tidak mempunyai hak apapun meski sudah menjadi sosok ayah pengganti, dirinya tidak bisa apa-apa. Juga, Liyan yang sering menolak cintanya. Lalu mau bagaimana lagi kalau bukan menerima kenyataan pahit.


"Savan jangan menangis lagi ya, nanti ayah dan bundanya Savan sedih. Paman gak pergi jauh kok, nanti kalau ada waktu, Paman akan menemui Savan, dan mengajak Savan jalan-jalan." Ucap Aditya mencoba untuk meyakinkan Savan.


"Janji ya, Paman jangan bohongi Savan." Jawab Savan sambil menunduk sedih.


Kemudian, Aditya mengangkat dagunya Savan, dan kini saling menatap. Dengan lembut, Aditya mengusap air matanya, dan mencium kedua pipinya secara bergantian.


"Meski Savan sudah berkumpul dengan ayah dan bunda, Savan tetap menjadi jagoannya Paman. Ayo, kita tos dulu. Ayo dong, senyum, senyum yang lebar." Ucap Aditya berusaha untuk menyemangati Savan.

__ADS_1


Vando yang tengah memperhatikan kedekatan Savan dengan Aditya, hati kecilnya begitu cemburu. Bahkan, Aditya begitu spesial di hatinya Savan.


Liyan langsung menghalangi Vando yang hendak pergi.


"Mau kemana?" tanya Liyan penasaran.


"Mau ke toilet. Kamu temani Savan dulu, nanti aku kesini lagi." Jawab Vando tidak bersemangat.


Liyan mengangguk.


"Jangan lama-lama, soalnya bentar lagi kapalnya bersandar." Ucap Liyan.


"Iya, tenang saja. Aku hanya sebentar, setelah itu juga ke sini lagi. Ya udah, sekarang kamu temani Savan." Jawab Vando dan berpesan.


Liyan mengiyakan dan menghampiri Savan dan Aditya yang seperti tengah mengabadikan momen terakhirnya bertemu.


"Ekhem." Liyan berdeham.


Savan maupun Aditya langsung menoleh ke sumber suara.


"Bunda, Ayah dimana? kok gak bareng bunda."


"Ayah lagi ke toilet, nanti ke sini. Turun dong, Savan. Kasihan Paman suruh gendong kamu, berat tau."


"Tidak apa-apa, bukankah aku sering melakukannya? Savan sudah aku anggap anakku sendiri. Jadi, biarkan aku memanjakan Savan untuk yang terakhir kalinya." Jawab Aditya dan berbisik didekat telinganya Liyan pada kalimat terakhir.


"Bunda, Bunda, lihat kapal itu, Bunda. Wow.... Kapalnya gede banget. Savan mau ah, naik kapal itu."


"Ya. Nanti Paman kabulkan naik kapal besar itu. Savan tenang saja, Paman akan mengabulkannya untuk Savan." Jawab Aditya yang langsung menyambar sebelum Liyan menjawabnya.


"Hore.... Savan akan naik kapal besar itu." Ucap Savan sambil bersorak karena girang.


"Karena sebentar lagi kita berpisah, gimana kalau kita bertiga foto bareng? mau 'kan, Savan?"


Savan mengangguk. Kemudian, Aditya meminta tolong sama seseorang yang ada disekelilingnya untuk dimintai tolong.


Vando yang melihatnya, pun geram dibuatnya. Liyan sendiri tidak bisa menolak, lantaran tidak ingin mengecewakan putranya. Karena kecemburuan pada diri Vando, langsung menyambar Savan yang masih berada dalam gendongan Aditya.


"Savan, ayo ikut Ayah. Nanti Ayah tunjukkan sesuatu yang lebih bagus lagi, ayo." Ajak Vando yang tidak mau kalah dari Aditya.

__ADS_1


Liyan hanya mengikutinya dari belakang, dan tidak berkata apapun. Aditya sendiri hanya bisa diam dan juga tidak ingin berdebat. Setidaknya dirinya sudah mengambil momen untuk dijadikan kenangan ketika merindukan orang yang dicintainya dan ia sayangi. Siapa lagi kalau bukan Liyan dan Savan.


__ADS_2