
"Savan...! Tante...! Savan...!" teriak Devan yang terus memanggilnya.
Vando yang juga sedari tadi ikut mencari Savan dan ibunya tengah ditemani Zavan karena takut melakukan hal nekad.
Devan yang juga terus berteriak bersama ayahnya Liyan, tidak menyerah begitu saja untuk memanggil Savan maupun neneknya.
Cukup ramai diarea pantai tersebut, banyak orang-orang ikut membantu mencari dua korban yang ikut terseret ombak. Tanpa disadari oleh semuanya, ternyata sudah mulai senja, dan semakin lama semakin redup itu senja di sore hari.
Waktu untuk pencarian, sama sekali tidak ditemukan titik terangnya. Vando begitu frustrasi dibuatnya saat anak dan ibunya tak juga ditemukan. Harapannya seolah pupus sudah, hancur seketika.
Vando terus memanggil anak dan ibunya bersamaan dengan tangisnya yang histeris. Bagaimana tidak, belum lama bertemu dengan anak kandungnya, kini harus menerima kenyataan pahit jika putranya telah terseret ombak, dan juga ibunya yang baru beberapa tahun lamanya bisa tinggal bersama.
Belum juga membahagiakan, semua seolah tidak diizinkan untuk di bahagiakan olehnya. Siapa sangka, jika liburannya membawa petaka untuk anak dan orang tua sendiri dan anaknya.
Liyan yang tidak berdaya atas apa yang menimpa dirinya, sungguh seperti hilang separuh nyawanya.
"Savan, Savan, Mama, Mama, dimana kalian?"
Liyan terus mengigau dengan suara yang tidak berdaya. Saat itu juga, ibunya langsung memegangi tangannya, mengusapnya. Juga, mengusap kening hingga kepalanya.
"Sayang, Savan sama Mama mertua kamu pasti baik-baik saja. Kamu bersabar ya, mereka masih mencari Savan dan Mama mertua." Jawab ibunya untuk menenangkan pikiran putrinya.
"Savan...!" teriak Liyan yang langsung bangkit dari posisi tidurnya.
Ibunya yang mendapati akan hal itu, langsung memeluknya. Liyan sendiri terus memberontak, dirinya ingin pergi dari rumah sakit.
"Liyan, jangan pergi, Nak. Kondisimu masih lemah. Kamu butuh istirahat, biar yang lain mencari Savan dan Mama mertua kamu." Ucap ibunya yang mencoba untuk menahan putrinya agar tidak kabur.
Yena yang juga ikutan menahan Liyan agar tidak pergi, susah payah karena tenaga Liyan cukup kuat. Karena kesulitan untuk menahan tenaga Liyan, Yena meminta bantuan agar Liyan tidak kabur. Dengan terpaksa untuk sementara waktu, Liyan diberi obat penenang, agar tidak terus memberontak.
Di pantai, Vando masih berteriak memanggil anak dan ibunya hingga suaranya menjadi serak.
__ADS_1
"Sudah gelap, kita belum juga menemukan titik terang. Ayo, kita pulang. Besok kita lanjutkan lagi pencariannya. Kasihan Liyan, dia butuh kamu." Ucap Devan membujuk Vando untuk pulang.
Masih terbawa dengan emosinya, Vando langsung bangkit dan menghadap Devan. Kemudian, Vando mencengkram merah bajunya Devan.
"Aku tidak butuh ajakan darimu. Kamu saja yang pulang. Aku orang tuanya Savan, sekaligus Mamaku yang juga menjadi korban, mana bisa kita pulang begitu saja. Pikir otakmu itu." Jawab Vando dengan penuh kebencian.
Zavan yang melihat Devan tengah di cengkram oleh Vando, langsung mendekati.
"Lepaskan. Jangan pakai emosi, kita dalam keadaan duka. Yang dikatakan Devan benar, cuaca juga tidak memungkinkan untuk kita tetap berada di pantai ini. Juga, tidak perlu memaksakan diri. Aku tau ini sangat berat untuk diterima, tapi kita bisa apa? kita bukan kehendak takdir, tapi kita penerima takdir. Jadi, jangan saling berdebat. Liyan sedang di rumah sakit, kondisinya juga memprihatinkan. Lebih baik kamu kembali ke rumah sakit, karena kamu suaminya. Mungkin jika mendengar perkataan mu, Liyan akan jauh lebih tenang pikirannya." Ucap Zavan yang mencoba untuk melerainya.
Vando yang mendengar ucapan dari kakak iparnya, pun mengiyakan. Kemudian, melepaskan cengkeramannya.
"Sudah sudah, kalian jangan berdebat. Sudah gelap, juga mau turun hujan deras. Yang bisa kita lakukan hanya berdoa, semoga Savan dan neneknya selamat. Ayo, kita pulang. Besok kita lanjutkan lagi pencariannya. Apapun kenyataannya, kita terima dengan lapang." Ucap Tuan Boni selaku ayah mertuanya.
Vando yang lagi-lagi diberi nasehat, pun mengiyakan. Setelah itu mereka semua meninggalkan pantai yang sudah menjadi petaka untuk anak dan ibunya.
Vando tak henti-hentinya menangis, menyesali atas ajakannya pergi berlibur.
"Kamu harus kuat. Mana tahu akan ada keajaiban. Besok kita lanjutkan lagi untuk mencari Savan dan Mama kamu. Gak cuma kamu saja yang merasa kehilangan, tetapi kami semua yang juga merasa kehilangan. Aku tahu ini berat untukmu, dan aku minta sama kamu untuk tetap tegar, meski kamu sebenarnya rapuh. Kasihan Liyan, dia membutuhkan kamu sebagai suaminya. Jangan lontarkan kalimat kasar padanya, karena musibah tidak ada yang tahu. Kalaupun tahu, Liyan gak mungkin mau pergi berlibur." Ucap Zavan berusaha untuk memberi nasehat kecil kepada adik iparnya.
Setidaknya ada kalimat yang dapat dicerna oleh adik iparnya, pikir Zavan.
Sedangkan Vando sendiri sama sekali tidak merespon, entah apa yang ada dalam benak pikirannya.
Sampainya di rumah sakit, semua turun dan bergegas untuk melihat kondisi Liyan yang sedang dirawat.
Devan bersama Aditya berjalan beriringan, Vando sendiri bersama kakak iparnya. Karena tidak mungkin seorang Aditya menemani Vando yang jelas-jelas masih kesal dengannya.
Saat masuk ke dalam ruangan rawat pasien, ibunya Liyan keluar untuk memberi waktu luang kepada anak dan menantunya.
Vando yang melihat istrinya berbaring di atas ranjang pasien, justru tatapannya bercampur emosi. Liyan langsung duduk.
__ADS_1
"Savan mana, Mama dimana, baik-baik saja, 'kan?"
"Ini semua gara-gara kamu yang mengajak mereka, iya, 'kan! gara-gara ulahmu, Savan dan Mama harus terseret ombak." Bentak Vando yang justru memarahi istrinya, bukan untuk menenangkannya.
Liyan langsung terpojok saat mendapat tuduhan dari suaminya.
"Kamu bilang apa tadi? gara-gara aku kamu bilang?" tanya Liyan sambil menangis terasa sakit ketika dirinya justru dituduh oleh suami.
"Iya! gara-gara kamu. Kalau kamu tidak mengajak Savan sama Mama, mereka pasti baik-baik saja." Jawab Vando dengan bentakan.
Devan maupun yang lainnya tengah mendengar ada perdebatan di dalam ruangan pasien, langsung masuk ke dalam.
"Vando!" bentak Devan maupun Zavan, juga Aditya dan kedua orang tuanya bersamaan saat melihat posisi tangan Vando hendak melakukan kekerasan terhadap Liyan.
Saat itu juga, Devan langsung menahan tangannya Vando yang siap menampar mantan istrinya. Sedangkan Zavan menjaga adiknya agar tidak mendapat kekerasan dari adik iparnya.
"Liyan tidak bersalah, karena semua ini adalah takdir. Seharusnya kamu tidak melakukan hal semacam ini kepada istrimu, Vando. Seharusnya kamu menjadi penenang pikirannya, bukan menambah beban pikirannya. Liyan sudah kehilangan anaknya, juga Mama mertuanya, kamu malah memarahinya. Dan ini apa? kamu mau menampar istrimu? begini kah cara menyelesaikan masalah?"
Vando yang seperti mendapat ocehan dari saudara sepupunya, pun langsung mendorong Devan hingga mentok ke tembok.
"Jangan sok jagoan di hadapan istriku. Apa kamu lupa, kalau kamu juga pernah berbuat kasar dan menyeretnya hingga sampai di hadapan orang tuanya?"
"Karena kau lah pelakunya. Kau sudah merusak hubungan orang lain, dan menyegel kehormatan perempuan yang selama ini aku jaga." Ucap Devan dengan berani.
"Sudah! hentikan. Kita sedang mendapatkan musibah, bukan begini caranya. Lebih baik kamu pulang, kalau hanya mau membuat masalah dengan putriku. Karena putriku butuh istirahat yang cukup, paham." Bentak Tuan Boni yang sudah tidak bisa menahan emosinya.
Aditya sendiri hanya bisa diam, tidak berani untuk mengganggu masalah orang lain.
Vando yang tengah bercampur emosi, memilih pulang ke rumah, daripada menemani istrinya yang membutuhkan pendamping.
Devan yang tidak ingin terjadi sesuatu pada Vando, meminta Aditya untuk ikut mengikuti kemana perginya Vando.
__ADS_1