
Sampainya di depan rumah ibu Arum, Aditya langsung masuk kedalam rumah untuk mengetahui soal Savan yang sudah pulang dari sekolah.
"Liyan, Bude, dimana Savan?" tanya Aditya penuh dengan kekhawatiran.
Liyan yang kondisinya masih lemah, hanya menggelengkan kepalanya dengan tubuh yang bersandar di kursi tengah ditemani ibu Arum.
"Savan dimana, mana Savan? sudah pulang?" tanya Yena yang baru masuk rumah yang juga sama halnya khawatir dengan Savan.
"Belum." Jawab mereka bertiga bersamaan.
"Aku mencari Savan. Aku gak mau terjadi sesuatu dengannya. Savan! Savan!"
Liyan susah payah untuk berdiri karena kondisi fisiknya yang lemah. Aditya yang mengetahui akan hal itu, langsung menahan tubuh Liyan agar tidak terjatuh.
Sedangkan Yena memilih untuk pergi mencari Savan, Ibu Arum di rumah untuk menemani.
"Kamu mau kemana? jangan pergi kemana mana dulu. Kamu belum sehat total. Biarin aku saja yang akan mencari Savan." Ucap Aditya menahan Liyan yang memaksa diri untuk pergi.
"Enggak, aku mau nyari Savan, Savan sangat berarti untukku, dia separuh nyawaku. Savan, Savan." Jawab Liyan sambil menangis.
Aditya langsung memeluknya.
"Kamu di rumah saja, aku dan Yena yang akan mencari Savan. Juga, nanti aku perintahkan orang orang untuk mencari Savan. Kamu tenang saja." Ucap Aditya mencoba untuk meyakinkan.
"Yang dikatakan oleh Aditya benar, Nak. Lebih baik Nak Liyan di rumah. Siapa tahu Savan lupa mampir di rumah temannya. Kita tunggu dulu ya, Nak. Kamu masih sakit, jangan memaksa untuk keluar. Nanti kalau kamu kenapa-napa, bagaimana?"
__ADS_1
"Tapi, Bu. Savan yang Liyan punya, Bu." Jawab Liyan sambil menangis.
Ibu mana yang gak khawatir ketika mendengar anaknya tidak ada, nyawa pun seolah sudah di ujung tanduk ketika mendengar kabar itu. Jangankan itu tidak ditemukan, anak sakit saja rasanya tidak karuan.
Liyan terus memanggil nama Savan, tetangga pun dibuatnya heboh. Sedangkan yang bernama Savan sendiri tengah menikmati keseruan bersama Vando. Keduanya tampak asik menyusuri jalanan sambil bergandengan tangan layaknya sudah begitu akrab.
"Savan! kamu dimana?! Savan!" Aditya berteriak memanggil nama Savan.
Vando yang dapat menangkap suara yang kedengaran memanggil nama anak yang sedang bersamanya, pun berhenti sejenak.
"Tunggu, itu suara apa? seperti memanggil nama kamu."
Savan memasang telinganya untuk memastikan suara tersebut.
"Savan!"
Savan yang dapat mengetahui suara siapa yang memanggil dirinya, langsung menarik Vando untuk berlari. Sedangkan Vando sendiri mengikutinya.
Jarak antara rumah ibu Arum dan Savan yang tengah berlari, sangat dekat, hanya jarak beberapa rumah warga saja.
"Paman! Paman Aditya." Teriak Savan memanggil namanya.
Aditya yang merasa namanya dipanggil, pun tertuju pada sumber suara. Aditya tersenyum lega ketika melihat Savan.
Kemudian, Aditya kembali berlari untuk menghampiri Savan dengan lelaki yang belum begitu jelas di kenal.
__ADS_1
"Savan." Panggil Aditya yang langsung menggendong Savan.
"Paman." Ucap Savan ikut menyebut namanya.
Vando sendiri kembali teringat dengan masa kecilnya yang juga sudah membuat khawatir orang tua asuhnya.
Setelah itu, Aditya menurunkan Savan.
"Ka-Kamu."
Aditya maupun Vando, keduanya sama-sama menunjuk satu sama lain. Kaget itu sudah pasti.
"Kok bisa bareng sama keponakan ku? dia gak diculik, 'kan?"
Vando tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Enggak lah. Tadi itu, saya gak sengaja bertemu dengan Savan. Dia berebutan hadiah sama temannya, dan saya mencoba melerai dan mengajaknya untuk membeli mainan sebagai gantinya. Maaf, jika sudah membuat khawatir." Jawab Vando dengan jujur.
"Terima kasih banyak, kalau gitu saya mau langsung pulang. Kalau gak keberatan, mari mampir. Habis jalan kaki, 'kan? mampir dulu di rumah kami." Ucap Aditya dan mengajaknya untuk mampir ke rumah.
"Iya, Paman. Sekarang gantian Paman mampir di rumah Savan. Eh, bukan, rumahnya Nenek Arum." Kata Savan yang baru sadar jika dirinya tidak punya rumah.
"Sama aja, Savan. Ya udah, ayo ikut kami." Ajak aditya.
"Baiklah. Karena permintaannya Savan, Paman akan turuti." Ucap Vando yang akhirnya mengiyakan.
__ADS_1
Setelah itu, mereka ke rumahnya Ibu Arum.