Usai Pernikahan

Usai Pernikahan
Khawatir


__ADS_3

Karena tidak tahu jalan dan tidak tahu harus beli mainan dimana, Vando berhenti sejenak.


"Kita kan, belum kenalan. Kenalin, nama Paman, Vando, nam kamu siapa, Nak?"


"Namaku Savanbian, sering dipanggil dengan nama Savan. Kata Ibundaku, namaku diambil dari nama ayahku. Tapi-"


"Tapi kenapa?"


Vando langsung berjongkok di hadapan Savan.


"Ayahku tidak pernah kembali. Ayahku sibuk. Kata Bunda, nunggu tabungannya Savan penuh. Baru deh, Bunda ngajak Savan bertemu sama ayah."


Vando yang mendengar curahan seorang anak kecil, pun teringat masa kecilnya dulu saat hidupnya bersama orang tua asuhnya. Butuh perjuangan hingga sudah besar, Vando berniat pergi ke kota untuk mencari pekerjaan serta mencari keberadaan orang tuanya. Namun, setelah dipertemukan dengan orang tuanya, justru harus berpisah dengan perempuan yang dicintainya hingga detik ini.


Sedih, menyayat hati, dan tidak bisa untuk dilupakan.


"Paman doakan, semoga keinginannya Savan dikabulkan. Sekarang lebih baik beritahu paman tempat yang jual mainan. Soalnya Paman tidak tahu jalan, nanti sekalian kita beli es krim, gimana?"


"Itu, Paman, toko mainannya. Tapi-"


"Kenapa lagi, Savan?"


"Bunda pasti marah, kalau Savan di


belikan mainan sama orang lain. Gak jadi deh, Paman. Savan mau pulang saja." Jawab Savan yang teringat pesan dan nasehat dari ibunya dan juga Aditya maupun Yena dan ibu Arum.


"Paman bukan orang jahat. Percayalah sama Paman." Kata Vando mencoba untuk meyakinkan Savan.

__ADS_1


"Benar ya, Paman."


Vando tersenyum dan mengangguk.


Setelah itu, Vando mengajak masuk ke dalam toko mainan.


"Sekarang Savan boleh pilih mainan yang Savan suka. Berapapun nanti Paman bayari." Ucap Vando, sedangkan Savan begitu girangnya saat dirinya dibebaskan untuk memilih mainan yang disukainya.


Vando sendiri hanya berdiri sambil memperhatikan keceriaan Savan yang ke sana kemari memilih mainan yang disukainya.


"Anaknya ya, Pak? mirip banget."


Vando langsung menoleh saat mendapat pertanyaan dan komentar dari seseorang yang tengah berjaga dan mengawasi toko.


"Bukan. Saya dari kota, kebetulan bertemu dengan anak itu saat jalan-jalan disekitaran sini. Tadi saya mendapati anak itu sedang berebutan hadiah, dan saya sengaja membelikannya." Jawab Vando tidak ada yang ditutupi.


Vando tersenyum mendengar pertanyaan.


"Saya tidak ada saudara. Saya hanya menepati janji untuk menghadiri acara yang ada sekitaran kampung sini."


"Oh. Ya ya ya, saya tahu. Eh! jadi Bapak ini em-"


"Paman, ini mainannya." Ucap Savan yang tiba-tiba memotong pembicaraan.


"Yakin cuma ini?" tanya Vando.


Savan mengangguk.

__ADS_1


"Nanti kalau beli banyak, uang Paman nanti habis." Jawab Savan.


"Tentu saja tidak akan habis. Uang Paman gak bakalan habis. Mau kamu borong ini toko, Paman siap." Kata Vando sambil mencubit pipi dengan gemas.


Savan tertawa riang bersama Vando.


Kemudian, Vando segera membayar totalannya. Setelah itu, Vando membeli es krim.


"Kita istirahat dulu ya, Paman capek. Kita makan es krimnya dulu, oke."


"Oke." Jawab Savan mengiyakan.


Keduanya begitu akrab layaknya sudah mengenal satu sama lain.


Sedangkan Yena yang tengah menjemput Savan, rupanya sudah tidak ada di sekolahan, panik sudah pasti.


Karena sudah panik dan takut, langsung menghubungi Liyan dan ibunya. Nihil. Savan belum juga sampai di rumah.


Karena takut ada sesuatu yang tidak diinginkan, Yena segera menghubungi Aditya. Tentu saja takut terjadi apa-apa pada Savan.


"Apa! Savan gak ada?"


Aditya yang tengah sibuk melakukan pertemuan, pun dibuatnya khawatir dengan Savan.


"Oke oke oke. Aku segera pulang. Kamu coba pulang ke rumah, takutnya sudah ada di rumah." Ucap Aditya, dan langsung memutus sambungan telepon.


Kemudian, Aditya berpamitan untuk pulang, lantaran ada sesuatu yang membuatnya cemas dan khawatir.

__ADS_1


__ADS_2