
Sudah beberapa hari lamanya berada di rumah sakit, Liyan dengan setia menemani Vando. Sedangkan Devan bersama Zivan dan Tuan Boni bersama istrinya sudah pamit pulang ke kota.
Setelah membuat keputusan, akhirnya Devan dengan berat hati segera menceraikan Liyan secara hukum. Meski ada rasa sakit hati dan kekecewaan karena dibohongi oleh Liyan, rasa cintanya berusaha untuk dilupakan. Kini, dengan tekadnya yang sudah bulat, Devan segera mengurus perceraiannya dengan Liyan.
"Kamu yakin dengan keputusan yang sudah kamu pilih?" tanya Zivan yang kini tengah bersama Devan.
Dengan berat hati, Devan mengangguk.
"Iya. Aku yakin dengan keputusan yang aku ambil. Lagi pula sudah ada Vando yang siap untuk menikahinya, dan bertanggung jawab atas putranya." Jawab Devan dengan napas yang terasa sedikit berat.
Zivan menepuk punggungnya.
"Mungkin Liyan bukan jodohmu. Sudah lah, kamu gak sendirian, kita nikmati kejombloan kita." Ucap Zivan menyemangati.
"Resek Lu. Sok nasehat kamunya." Kata Devan balas menepuk punggungnya mantan kakak iparnya.
__ADS_1
"Dah lah, aku mau pulang duluan. Jangan lupa besok ada pertemuan dengan rekan bisnis, jangan sampai telat, oke."
Devan cuma mengangguk, dan mengibaskan tangannya seraya mengusir Zivan.
Di lain tempat, Liyan tengah sibuk menyiapkan makan malam yang dibantu oleh Yena. Sedangkan ibu Arum tengah menemani Savan bermain.
Vando dan Aditya tengah mengobrol dan bertukar cerita. Namun, tidak ada yang menyebut Liyan, semua berbicara hal yang lumrah soal pekerjaan dan perkembangan usaha masing-masing.
Bahkan, Vando sendiri tidak menyangka akan sosok Aditya yang rupanya jauh dari prasangkanya.
Berpenampilan sederhana, namun justru orang yang sukses.
Akhirnya kalimat yang membuatnya penasaran, pun terlontar juga olehnya.
Aditya yang mendapat pertanyaan dari Vando, tersenyum demi menutupi rasa kecewanya karena gagal mendapatkan Liyan.
__ADS_1
"Belum nemu yang pas. Doakan saja, semoga segera menyusul." Jawab Aditya tetap bersikap biasa-biasa saja, dan tidak menunjukkan sikap cemburunya.
"Aku doakan, semoga kamu segera menyusul. Aku sendiri sempat menyerah, karena aku tidak juga menemukan keberadaannya Liyan. Bahkan, berkali-kali aku diusir, aku harus menerima segala resiko dari ayahnya Liyan. Aku tidak pernah bosan untuk mendatangi rumahnya Tuan Boni, meski cacian, hinaan yang harus aku dapati. Namun, siapa sangka jika aku dipertemukan lewat putraku. Bahkan, aku gak nyangka kalau aku punya anak. Kesalahan memang ada padaku, hingga Liyan harus menerima segala resikonya. Andai saja Tuan Boni merestui kami, tidak akan ada cerita yang begitu haru buatku." Ucap Vando yang tengah bercerita panjang lebar.
Aditya merasa lebih cemburu, karena Vando cukup sabar dalam menghadapi ayahnya Liyan. Begitu juga dengan Vando, dirinya pun sama halnya merasa cemburu karena Liyan yang pastinya tengah mendapatkan perhatian, dan juga putranya sendiri.
Namun, dirinya bisa apa? hanya bertahan demi putranya. Sedangkan hati dan pikiran Liyan entah tertuju pada siapanya. Mungkinkah Devan yang lebih dulu dicintai Liyan? atau Aditya yang pernah memberi perhatian penuh pada Liyan? sedangkan Vando sendiri tidak ada kesempatan untuk memberi perhatian. Awal bertemu saja sudah layaknya seperti tomi dan jerry.
Aditya yang mendengar curhatan dari Vando, pun tetap berusaha untuk tenang.
"Beruntunglah karena kamu masih diberi kesempatan untuk bertemu, juga sudah mendapatkan restu dari kedua orang tuanya."
Vando tersenyum tipis menanggapinya.
"Semoga saja memang benar, kalau pertemuanku dengan Liyan adalah memang jodoh." Kata Vando yang tiba-tiba tidak bersemangat, dan terasa dilema.
__ADS_1
"Kok lesu gitu, harusnya kamu itu yang bersemangat. Apa lagi sudah ada Savan, sudah lengkap kebahagiaan kamu. Aku lihat, Savan terlihat bahagia ketika mengetahui kalau kamu adalah ayah kandungnya." Ucap Aditya.
Vando menanggapinya dengan senyum yang tipis, dan menyimpan rasa kecurigaan jika Aditya juga seperti orang yang tengah patah hati.