
Selesai menemani Savan bermain, satu persatu kembali ke kamarnya masing-masing. Liyan bersama Savan tidur dikamarnya Yena. Sedangkan Aditya tetap tidur di kamarnya, kalau untuk Vando tidur di kamarnya Liyan.
Karena sedang mengalami perubahan cuaca, tiba-tiba mendadak terasa gerah dan juga panas. Sudah menyalakan kipas angin, tetap saja rasanya tidak karuan.
"Yen, kamu panas gak sih? badan aku gerah banget, tau. Aku keluar bentar ya, mau ambil air minum dulu. Sekalian nyari angin, di ruang tamu keknya adem." Ucap Liyan yang sudah gak tahan.
"Ya, sana. Aku juga panas sih, tapi gimana lagi. Memangnya lagi perubahan cuaca keknya. Ya udah kalau mau keluar." Jawab Yena yang suka tengah kegerahan.
Liyan yang juga haus, segera pergi ke dapur untuk mengambil air minum didalam kulkas. Setelah itu, ia minum dan tenggorokan terasa dingin.
Karena masih saja badan terasa gerah, Liyan duduk di ruang tamu sambil mendapat udara dari luar lewat ventilasi jendela.
Tidak hanya Liyan saja, Vando dan Aditya sama halnya merasa gerah dan ingin minum yang dingin. Namun, Aditya memilih dengan kipas dan baju yang dilepaskan.
Berbeda dengan Vando, dirinya memilih untuk keluar dan mengambil air dingin dikulkas. Saat baru keluar, rupanya mendapati Liyan tengah duduk sendirian di ruang tamu.
"Liyan, kamu belum tidur?" tanya Vando berjalan mendekati.
Liyan kaget dan gelagapan.
__ADS_1
"Em- udah sih, kebangun aja tadi. Itu, gerah banget di dalam kamar soalnya. Jadi aku keluar dan ambil air dingin, lalu duduk sambil nyari angin di ruang tamu. Kamu belum tidur juga?"
Vando langsung ikutan duduk di sebelahnya. Kemudian, ia meraih gelas yang ada di hadapan Liyan.
"Eh, kamu mau ngapain?" tanya Liyan dengan reflek hendak meraih gelas, namun sudah keduluan Vando.
"Ini, minum. Panas, juga gerah." Jawab Vando sambil menuangkan air dinginnya ke dalam gelas. Kemudian, Vando meminumnya.
"Udah malam ini loh, memangnya gak ngantuk?" tanya Vando membuka obrolan.
Liyan yang terkadang masih gugup ketika berduaan dengan Vando, sebisa mungkin untuk tetap bersikap tenang.
Vando meraih tangan miliknya Liyan, tentunya membuat detak jantungnya berdegup tidak karuan.
"Liy, kapan kita pulang ke kota?" tanya Vando sambil bersandar di kursi.
Liyan diam, bingung harus menjawabnya apa. Serasa canggung untuk mengobrol.
"Aku gak tahu, soalnya aku belum selesai mengurus surat pindahnya Savan. Mungkin nunggu semuanya selesai, baru pulang. Kalau kamu sudah gak sabar, pulang duluan aja juga gak apa-apa kok. Nanti aku sama Savan pulangnya belakangan. Soalnya gak mudah juga buat ngurus surat pindah. Jadi, harus bersabar." Jawab Liyan.
__ADS_1
"Aku akan selalu sabar, Liy. Aku hanya takut kalau kamu diambil laki-laki lain. Makanya aku ingin cepat-cepat membawamu pulang ke kota bersama Savan." Ucap Vando yang takut jika perempuan yang dicintainya akan jatuh ke tangan Aditya pikirnya.
Lebih lagi gerak gerik dari Aditya masih terus diawasi oleh Vando, pastinya semakin takut dan cemburu yang berlebihan.
"Ekhem. Ganggu ya, maaf. Aku gak bisa tidur, gerah di kamar. Gimana dengan kalian, gerah juga kah?"
Seketika, Vando maupun Liyan langsung kaget dan melepaskan tangannya karena malu.
"Iya, di kamar gerah. Mungkin karena perubahan cuaca." Jawab Vando, sedangkan Liyan memilih diam.
Kemudian, Aditya meraih gelas bekas Liyan dan juga Vando. Lalu, menuangkan air dingin dari kulkas ke dalam gelas.
"Eh! jangan, jangan. Itu bekas ku." Ucap Vando dan Liyan bersamaan.
Aditya tidak menanggapinya, ia langsung meminumnya hingga tandas dan tidak tersisa.
"Bekas kalian, 'kan? memangnya kenapa kalau bekas kalian? sudah biasa buatku minum dan makan bekasnya Liyan. Enggak, tadi aku cuma bercanda." Kata Aditya.
Sedangkan Liyan justru kembali diam. Juga, Vando kembali terbakar api cemburu. Bayang bayang dalam pikirannya justru kepikiran Liyan selama tinggal bersama Aditya tanpa adanya dirinya.
__ADS_1