
Baru saja sampai di rumah, Vando disambut hangat oleh ibunya. Sedangkan Devan tidak ada di rumah.
"Vando, akhirnya kamu pulang, Nak. Gimana keadaan kamu? Mama dengar, kamu mengalami kecelakaan. Kamu baik-baik saja, 'kan? terus, Liyan dan cucu Mama, mana?"
"Liyan dan Savan pulangnya ke rumah keluarganya Tuan Boni. Besok aku akan jemput mereka berdua, dan akan memperkenalkannya sama Mama. Aku capek, aku mau mandi dulu, dan sekalian istirahat. Nanti aku akan ceritakan semuanya setelah badan ku terasa enakan. Ya udah ya, Ma, aku mau ke kamar dulu." Jawab Vando yang masih terasa penat memikirkannya.
Lebih lagi bayang-bayang Aditya ada di kota, tentu saja bertambah beban pikiran untuk dirinya.
"Tante, Vando udah pulang?"
Devan yang baru saja pulang dari kantor, ia mendapati ada mobil di garasi, pun langsung menanyakan perihal saudara sepupunya.
"Iya, Vando baru aja pulang. Tapi, kelihatannya dia tidak bersemangat, kamu tahu kenapa?"
"Tante gak perlu khawatir, mungkin Vando kecapean. Apa lagi menempuh perjalanan yang lumayan jauh dari kampung sampai kota. Positif thinking saja. Oh ya, tadi aku beliin cemilan, ini buat Tante. Ya udah ya, Tan, aku mau ke kamar dulu, mau mandi sekalian. Setelah itu, aku akan temani Tante."
Ibunya Vando mengiyakan, meski ada rasa curiga dengan putranya karena sikapnya. Sebisa mungkin untuk menuruti saran dari keponakannya, yaitu berprasangka baik kepada Vando.
Sedangkan Devan yang baru masuk ke kamar, ia mencoba menghubungi Vando untuk mengingatkan, yakni soal ibunya yang cemas terhadap Vando.
Vando yang mendapat panggilan dari Devan, pun tidak tahu jika Devan sudah pulang ke rumah.
"Ada apa, Dev?" tanya Vando lewat sambungan telepon.
Kemudian, ia mendengarkannya dengan serius. Dirasa sudah cukup mendapatkan saran dari Devan, Vando menutup panggilan telepon.
Sejenak ia memikirkannya, dan mengingat sikapnya saat baru saja pulang ke rumah.
"Maafkan aku, Ma. Aku benar-benar lagi pusing, dan belum punya waktu untuk menjelaskannya sama Mama. Aku takut, semua hanya akan berakhir dengan kecewa." Gumam Vando yang terasa penat untuk memikirkannya.
Tidak mau bertambah pusing, Vando segera membersihkan diri. Sedangkan Devan yang sedang mandi, cepat cepat untuk keluar dari kamar mandi dan menemani tantenya yang sedang sendirian di ruang keluarga.
__ADS_1
"Maaf, Tante. Nunggunya kelamaan ya, Tan." Ucap Devan yang tiba-tiba mengagetkan tantenya.
"Gak cuma kelamaan, tapi kek mandinya orang terburu-buru. Memangnya kamu itu gak capek? mendingan kamu istirahat, biar badan gak sakit."
"Bukankah aku sudah terbiasa dengan momen seperti ini, Tante."
Ibunya Vando justru terdiam, seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Tante, Tante kenapa?" tanya Devan penasaran.
Ibunya Vando menggelengkan kepalanya.
"Tidak kenapa-napa, cuma kepikiran sama kamu." Jawabnya.
"Kepikiran denganku, maksudnya Tante itu, apa?"
"Tante hanya kepikiran soal perasaan kamu, karena Liyan adalah perempuan yang kamu cintai dari dulu. Apa kamu gak sakit hati, jika Vando menikahi Liyan?"
Ibunya Vando meraih tangannya Devan, dan menatap lekat wajah keponakannya yang begitu tulus melepaskan perempuan yang dicintainya demi anaknya sendiri.
"Maafkan Vando ya, Dev. Tante doakan, semoga kamu segera mendapatkan penggantinya, dan bahagia bersama perempuan pilihanmu." Ucap ibunya Vando merasa tidak enak hati.
Devan berusaha untuk terlihat tenang, dan juga tersenyum demi menutupi rasa kehilangannya orang yang pernah mengisi hatinya dimasa lalu.
"Tante gak perlu meminta maaf. Aku udah gak mempermasalahkannya sama sekali. Terima kasih ya, Tante, udah do'ain aku untuk mendapatkan penggantinya. Aku doakan, semoga rumah tangganya Vando bersama Liyan, akan temukan kebahagiaan. Juga, kebahagiaan untuk Tante. Terima kasih banyak untuk kasih sayang yang pernah Tante berikan untuk ku. Sehat terus buat Tante, aku sayang Tante." Jawab Devan meyakinkan tantenya.
Sosok ibunya Vando adalah pengganti orang tuanya dari kecil, Devan sudah menganggapnya ibunya sendiri.
"Oh ya, Tante sampai lupa. Ini dimakan cemilannya, keknya enak, beli di mana kamu, Dev?"
"Tadi kebetulan mampir di restorannya teman ada acara pertemuan, dan pulangnya aku dibawain ini. Kalau Tante suka, nanti aku pesankan lagi."
__ADS_1
"Kamu ya, gak pernah berubah dari dulu. Selalu memberi perhatian kepada Tante, makasih ya, Dev. Tante sangat bahagia mempunyai keponakan seperti kamu, meski kamu harus patah hati karena Vando hadir dalam kehidupan perempuan yang kamu cintai." Ucapnya.
"Tante ngomong apa sih, dah deh lupain. Sekarang semua sudah berlalu. Lupakan, dan jalani perjalanan hidup yang baru, Tante." Jawab Devan.
"Ekhem. Lagi ngomongin apa ini? keknya serius. Wah, ada cemilan nih, coba aku mencicipi." Kata Vando yang tiba-tiba datang dan mengagetkan.
"Loh, kamu gak istirahat?" tanya Devan sambil mengunyah makanan.
"Gak ah, lagi gak pingin istirahat, gak ngantuk. Enak juga ini makanan, beli dimana ini?"
"Tadi aku ada pertemuan di restoran teman aku. Terus, pulangnya aku dibawain makanan ini, lumayan lah, gratis." Jawab Devan dan tertawa kecil di kalimat terakhirnya.
"Iya sih, gratis memang yang enak." Ucap Vando, Devan cuma terkekeh mendengarnya.
Mereka begitu asik menikmati makanannya, dan juga saling bersenda gurau. Tidak untuk Liyan, justru tengah duduk di balkon sendirian. Sedangkan Savan sudah istirahat setelah mandi dan makan.
"Liyan, kamu belum istirahat, Nak? memangnya kamu gak capek? istirahat dulu, sayang."
Liyan tidak menanggapinya, ia masih terdiam. Entah apa yang sedang ia pikirkan, membuat ibunya khawatir melihat sikap putrinya yang seperti hilang semangatnya.
"Liyan, ceritakan sama Mama. Kamu kenapa, Nak? apa kamu ada masalah? ceritakan saja sama Mama. Selama ini kamu jauh dari Mama, juga tidak pernah komunikasi. Jangan menjauhi Mama, Nak. Mama tidak ingin melihat mu bersedih."
Liyan menoleh.
"Tidak apa-apa, Ma. Mungkin karena kecapean, jadinya gak bersemangat. Mama tenang saja, aku baik-baik saja."
"Jangan bohongi Mama, Nak. Kamu sedang memikirkan pernikahan kamu kah? atau kamu akan merubah keputusan kamu? atau mungkin saja ada sesuatu hal yang ingin kamu sampaikan ke Mama, ke Papa, atau Devan. Ah ya, Mama sampai lupa, Devan sudah memproses perceraian kamu dengannya. Jadi, kamu tidak ada lagi keterikatan pernikahan dengannya."
Liyan masih diam. Bingung untuk menjelaskannya memulai dari mana. Perasaannya, kebahagiaan putranya, atau keegoisannya.
"Dari pada kamu banyak melamun, mendingan kamu istirahat. Kasihan kesehatan kamu, takutnya nanti jatuh sakit. Siapa yang rugi, kamu dan Savan." Ucap ibunya mengingatkan.
__ADS_1
Liyan mengangguk dan menuruti perintah ibunya untuk istirahat.