
Dengan kuat, Liyan memukul dada bidang miliknya Devan, lelaki yang sudah menceraikan dimalam pertama. Devan sendiri membiarkannya untuk dijadikan sasaran dari Liyan.
Kemudian, Liyan tertunduk menangis, sulit untuk meluapkan segala emosinya. Zivan yang sudah berada di sebelah Devan, langsung menggeser dan memeluk adiknya dengan perasaan sedihnya, juga penuh penyesalan.
"Maafkan kakak, Liyan. Maafkan Kakak kamu yang bodoh ini. Kenapa kamu tidak pernah menghubungi Kakak, Liy? Kakak bersama Vando selalu mencari keberadaan kamu, tapi tidak pernah ada hasilnya."
Liyan pun langsung melepaskan pelukannya, tidak tahu harus bicara apa dihadapan kakaknya. Rasa rindu seolah berubah menjadi perasaan kekecewaan, lantaran bertahun-tahun lamanya tidak ada satupun yang peduli.
"Kakak bilang apa tadi? hubungi nomor Kakak? bukankah nomor Kakak sudah tidak aktif?"
Zivan mengernyit.
"Nomor kakak sudah gak aktif katamu? kata siapa? kakak tidak pernah ganti nomor, mungkin saja kamu lupa nomor kakak."
"Coba aja si Yena suruh menghubungi nomor kakak." Kata Liyan.
Saat itu juga, Zivan memberikan nomornya kepada Yena, dan Yena sendiri langsung menghubungi nomornya Zivan. Benar saja, rupanya nomor Yena tidak bisa menghubungi nomornya Zivan.
Seketika, Zivan maupun Devan sama-sama dapat menebak kenapa nomor Zivan tidak bisa dihubungi oleh Yena.
"Berarti semua sudah di atur oleh Papa." Ucap Zivan yang sudah tahu jawabannya.
"Mungkin saja memang begitu." Jawab Liyan sambil tertunduk.
"Bunda, Bun, Paman ganteng yang beliin mainan Savan, mana?"
__ADS_1
Savan pun merengek mencari keberadaan Vando, sosok yang sudah dikenal baik oleh Savan.
Devan maupun Zivan, pun kaget saat Liyan dipanggil bunda oleh anak kecil yang wajahnya terlihat tampan.
"Anak ini siapa, Liy? kenapa memanggilmu bunda? apakah kamu di sini sudah menikah lagi?" tanya sang kakak, juga mengarahkan pandangannya ke Aditya yang tengah berdiri tidak jauh jaraknya dari Liyan.
Liyan menggelengkan kepalanya sambil menunduk.
"Namanya Savan, dia putraku, juga putranya Vando." Jawab Liyan yang sama sekali tidak berani mendongak.
GEG!
Zivan sebagai kakaknya, juga Devan lelaki yang sudah menceraikan Liyan, pun keduanya sama-sama terkejut mendengar pengakuannya. Sedangkan Aditya sendiri takut kehilangan sosok Liyan yang sudah menemani hari harinya beberapa tahun lamanya.
Terasa sakit jika harus berpisah. Namun, apa daya kalau Liyan harus kembali ke keluarganya. Meski pernah mendapat amanah dari ayahnya untuk menjaga Liyan, seolah semuanya hanya mimpi pertemuannya ketika harus berpisah.
Liyan mengangguk, yakni mengakui fakta yang ada.
"Maafkan Liyan, Kak." Ucap Liyan masih belum juga mendongak.
Saat itu juga, Zivan langsung mengangkat Savan.
"Jadi, kamu keponakannya Paman?"
Vando langsung memeluknya dalam gendongannya, dan mencium kedua pipinya secara bergantian.
__ADS_1
"Terus, ayahnya Savan, mana?" Savan pun balik bertanya.
"Nih, ayahnya Savan." Sahut Devan sambil mencubit gemas kedua pipinya Savan.
Namun, kemudian ia melihat Aditya yang pindah tempat. Penasaran? pastinya, Devan langsung menghampiri.
Sedangkan Ibu Arum, Yena, dan Zivan, kini tengah saling menyapa dan berkenalan, juga mengobrol sambil menunggu hasil penanganan pasien.
Devan yang sudah ikutan duduk di sudut tempat, mengatur napasnya.
"Apakah Liyan tinggal bersamamu?" tanya Devan yang langsung bicara pada pokok intinya.
Aditya menoleh, dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Liyan tidak tinggal di rumah saya, tetapi di rumah Ibu Arum. Namun, kita satu atap, dan tidak mempunyai hubungan apapun selain berteman. Terus, anda sendiri siapanya Liyan? sepertinya ada hubungannya dengan Tuan Vando, antara Liyan dan juga Anda."
Aditya yang sempat mendengar meminta maaf sama Liyan, dapat dipastikan ada sesuatu yang tidak diketahui.
"Saya suaminya Liyan. Juga, sudah menceraikan lewat ucapan, tapi belum ke pengadilan. Saya sempat berpikir lagi untuk mempertahankan pernikahan, tapi sepertinya tidak akan mungkin."
Aditya pun semakin bingung mendengarnya. Liyan mengakui bahwa Savan anaknya Vando, tetapi justru Devan mengakui kalau dirinya adalah suaminya Liyan.
"Tunggu tunggu. Anda bilang, kalau Anda itu suaminya Liyan. Terus, Liyan mengaku kalau Savan putranya Vando, maksudnya?"
Devan menatap lurus ke depan.
__ADS_1
"Saya menikahi Liyan karena perjodohan, sebenarnya bukan perjodohan juga sih. Saya dan Liyan sempat menjalin hubungan asmara, namun ada kesalahpahaman. Jadi, dia menolak untuk menikah dengan saya. Karena memang ada kaitannya dengan perjodohan, pernikahan pun tidak bisa dihindari. Namun, kenyataannya si Liyan sudah menjalin hubungan dengan Vando, hingga mereka berdua melakukan hubungan terlarang. Di malam pertama lah, aku murka setelah Liyan tidak mau aku sentuh. Begitu cerita sebenarnya." Jawab Devan yang akhirnya mengatakannya dengan jujur.
Aditya sangat terkejut mendengarnya, dikarenakan ada dua lelaki yang begitu menyukai Liyan, dirinya yang ketiga.