
Liyan yang masih bingung karena dari awal terlalu hanyut dengan kesedihannya, ia mencoba untuk mencerna setiap ucapan yang pernah diobrolkan dengan kakaknya maupun dengan mantan suaminya.
Saat itu juga, Liyan baru menyadari atas ucapan dari kakaknya.
'Jadi, maksudnya Kak Devan itu, dia mengharapkan aku. Astaga, kenapa aku mendadak menjadi lemot begini. Pantas aja Kak Zavan geram banget sama aku, jadi itu yang dimaksud.' Batin Liyan sambil melamun.
Zavan yang merasa aneh dengan adiknya melamun, mencoba untuk melambaikan tangannya, tentunya agar mendapatkan respon darinya.
"Kak Zavan, apa-apaan sih, aku sadar, aku sadar. Hem." Ucap Liyan yang langsung menyingkirkan tangan sang kakak.
"Kirain Kakak, kamu ngelamun lagi. Takutnya nanti gak nyambung kek tadi." Jawab Zavan meledek.
Dengan sigap, Liyan membekap mulut kakaknya, agar tidak membahas soal yang tidak mudah tanggap, pikirnya.
Devan yang mendapati mantan istrinya mulai banyak perubahan, merasa sedikit senang. Setidaknya tidak terus-menerus mengurung diri dari kamar. Melihatnya tersenyum saja sudah senang, apalagi sudah bisa diajak bersenda gurau, tentu saja membuat Devan sangat senang.
"Oh iya, sepertinya udah siang. Waktu makan, kita pergi ke restoran yuk." Ajak Devan saat melihat jam tangan.
"Boleh. Kebetulan aku juga udah lapar, ayo kita pergi ke restoran." Jawab Zavan yang mengiyakan sambil memegangi perutnya.
Karena waktu sudah siang dan waktunya untuk makan, semua meninggalkan taman anggrek tersebut. Namun, tidak cuma pulang pulang saja, Devan memesan berbagai macam jenis warna bunga anggrek. Seperti yang disukai mantan istrinya, bunga anggrek.
"Makasih ya, Kak. Udah beliin bunga anggrek. Aku akan merawatnya dengan baik." Ucap Liyan saat Devan memasukkan beberapa bunga anggrek ke bagasi mobil.
"Gak perlu bilang makasih, soalnya nanti kena omel lagi sama Mama kamu." Jawab Devan sambil bersenda gurau, mengingatkan Liyan dengan masa lalunya.
"Iya deh, iya." Ucap Liyan sambil menunggu Devan selesai memasukkan bunga anggreknya.
"Yang lagi bernostalgia, percaya aja sih akunya." Timpal Zavan yang juga ikut meledek.
Semua tertawa kecil bersama, dan saat itupun masih diperhatikan oleh Aditya yang sedari tadi memang sedang menunggu.
__ADS_1
'Sesakit inikah aku mencintaimu, Liy. Maafkan aku, jika aku yang akan merebut dirimu untuk aku jadikan istriku. Aku gak rela jika kamu menjadi miliknya Devan. Meski kalian mempunyai banyak kenangan, aku gak bakal izinkan untuk mengingat kenangan mu bersama Devan. Kalian boleh tersenyum, tapi tidak untuk kedepannya.' Batinnya penuh dengan kesal.
Malas untuk mengikuti mereka, Aditya memilih untuk bergegas pergi dan pulang ke rumahnya.
Berbeda dengan Liyan bersama sang kakak, juga mantan suami, dan juga sepupunya Aditya si Yena, mereka berempat hendak pergi ke restoran untuk makan siang.
Di sebuah restoran, kini semuanya tengah menikmati makan siangnya. Mereka makan, juga sambil mengobrol hal lumrah. Saat selesai makan, tiba-tiba Devan mendapat panggilan telepon.
"Tunggu sebentar, aku mau menerima panggilan telepon. Kalian jangan kemana-mana." Ucap Devan sambil merogoh ponselnya.
Saat membuka panggilan telepon, rupanya nomor yang masuk tidak lain miliknya saudara sepupunya sendiri, siapa lagi kalau bukan Vando.
"Ada apa Vando menelpon ku?" gumamnya bertanya-tanya.
Karena penasaran, Devan segera menerima panggilan.
"Apa kamu bilang? aku disuruh ke rumah mu?" tanya Devan penasaran.
"Baik. Aku akan datang ke rumah mu nanti." Kata Devan lewat sambungan telepon.
Setelah sambungan telepon dimatikan, Devan kembali menemui yang lainnya.
"Kok cepat banget neleponnya, tumben." Ucap Zavan yang gak biasanya.
"Tidak apa-apa, dari teman. Oh iya, setelah ini kita mau kemana lagi?" jawabnya dan balik bertanya.
"Terserah yang diajak saja sih, si Liyan maksudnya." Sahutnya.
"Aku mau pulang aja, capek. Jalan-jalannya besok lagi." Jawab Liyan yang memilih untuk pulang, lantaran fisiknya yang sudah kecapean.
"Ya udah kalau mau pulang, lanjut liburannya besok lagi kalau gitu." Ucap Devan dan mengajak mereka untuk pulang.
__ADS_1
Sebenarnya Devan masih ingi berlama-lama dengan mantan istrinya, tetapi dirinya tidak bisa berbuat apa-apa, lantaran harus menemui saudara sepupunya, yakni Vando.
Tidak ingin kena macet di jalan, Devan maupun yang lainnya segera pulang. Cukup lama memakan waktu untuk menempuh perjalanan ke rumah, akhirnya sampai juga.
Devan yang buru-buru karena takutnya Vando sudah menunggunya lama, segera pamit dan pergi.
Selama perjalanan menuju rumah saudara sepupunya, Devan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tentu saja agar tidak memakan waktu yang lama.
Dalam perjalanan , Devan kepikiran soal Vando. Apalagi yang dia pikirkan kalau bukan mengenai soal ancaman. Meski Saudara sepupunya sendiri , tetap saja Devan mencurigai akan ada sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya .
Tidak memakan waktu lama , Akhirnya sampai juga di halaman rumah keluarga kavindra . Rumah yang mempunyai banyak kenangan , kini semua tinggallah kenangan . .
Niatnya sih mau menolak , tapi karena kedengaran serius , Devan pun menyetujui perintah dari Saudara sepupunya sendiri . Mereka berdua saudara , mereka layaknya musuh.
Tidak ingin membuang waktu sia-sia , Devan segera masuk ke dalam rumah yang pernah ya tempati bersama tantenya yang bernama Safira . Sudah cukup lama Devan tidak pernah mengunjungi rumah yang pernah menjadi tempat tinggalnya , kini akhirnya masuk ke dalam rumah yang pernah ya singgahi selama bertahun-tahun lamanya .
Vando yang sedari tadi sudah menunggu, akhirnya Saudara sepupunya datang juga. Vando tersenyum sinis saat menyambut kedatangan Devan.
"Hei, Devan. Akhirnya kamu datang juga ke rumah ini." Sapa Vando dengan seringainya .
"Aku datang ke rumah ini tentu saja karena kamu yang memintaku untuk menemuimu. Jadi, ada yang salah? Begitukah maksudmu?"
"Ya ya ya. Kamu benar, aku lah yang memintamu untuk datang ke rumah ini. Tentu saja aku juga yang akan mengusirmu dari rumah ini. Bahkan, kamu tidak akan membawa uang sepeser pun. Karena apa ? Karena aku sudah mengalihkan semua akses kepemilikan menjadi milikku . Termasuk rumah yang sedang kamu tempati saat ini, serta mobil yang kamu pakai sekarang. Jadi, mulai sekarang kamu angkat kaki dari rumah ini, dan jangan menampakan wajahmu di hadapanku."
"Oh. Jadi ini yang kamu mau, oke! Baiklah, Aku akan angkat kaki dari rumah ini. Tapi ingat, hati-hati dengan jari jemarimu saat menandatangani akses kepemilikan.
"Kamu tenang saja, semua sudah aku atur dengan rapi. Jadi, kamu tidak perlu khawatir dengan apa yang aku putuskan. Bagiku kamu perlu aku singkirkan, agar kamu merasakan apa yang pernah aku rasakan dulu. Hidup tanpa kasih sayang orang tua, sedangkan orang tuaku malah membesarkan kamu dan memberi kasih sayang padamu lebih dari cukup. Jadi sekarang kamu yang harus merasakan apa yang pernah aku rasakan dulu."
Devan yang mendengar ucapan dari Vando, membuatnya tidak habis pikir , jika Vando mempunyai sifat kejam kepada saudaranya sendiri.
Vando yang mendengar ancaman dari Devan, dirinya sama sekali tidak peduli. Bagi Vando, membalaskan dendam adalah poin utama . Tidak peduli akibat perbuatannya akan menjadikan dirinya lupa diri."
__ADS_1