
Berusaha tegar meski hancur hatinya, Devan beranjak naik ke pelaminan untuk memberi ucapan selamat kepada kedua mempelai pengantin.
"Selamat ya, atas pernikahan kalian. Bahagia selalu untuk kalian berdua." Ucap Devan memberi ucapan selamat kepada Vando dan Liyan.
"Terima kasih atas ucapan serta doanya, semoga segera menyusul." Jawab Vando sedikit ada rasa tidak enak hati, lantaran perbuatannya dimasa lalu.
Liyan sendiri terdiam, bingung harus menjawabnya apa dihadapan mantan suaminya.
"Semoga. Ya udah ya, aku pamit. Sampai bertemu dilain waktu." Ucap Devan yang sekaligus pamit.
"Iya, makasih sudah menyempatkan hadir di acara pernikahan kami." Jawab Vando.
"Sama-sama." Ucap Devan dan segera meninggalkan acara tersebut, ia sekilas menoleh ke Liyan mantan istrinya.
Liyan yang tidak bisa berkata apa apa lagi, tetap diam sambil memperhatikan Devan hingga tidak lagi terlihat orangnya.
Devan yang dibayangi dengan rasa kekecewaannya, segera pergi. Yakni, agar dirinya tidak terus-menerus memikirkan seseorang yang sudah menjadi miliknya lelaki lain.
"Devan, kamu mau kemana?" tanya ibunya Vando memergoki keponakannya.
"Aku mau pulang, Tante." Jawab Devan tidak bersemangat.
"Kenapa gak nanti aja bareng Tante. Disini kamu bisa temani Tante." Ucap ibunya Vando membujuk.
"Maaf, Tante, aku gak bisa. Hari ini aku mau siap-siap pindah, Tante. Ya udah ya, Tante, aku pulang duluan." Jawab Devan, ibunya Vando langsung menyambar lengannya.
"Tante mohon, kamu jangan pergi dulu dari rumah. Kamu bisa pergi besoknya lagi, ya. Tante mohon sama kamu, jangan pergi dulu. Setidaknya kamu pamit sama Vando, ya." Ucap ibunya Vando memohon.
Devan yang sebenarnya tidak ingin berpisah dengan Tantenya, dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. Sekarang tidak ada yang menjadi miliknya, termasuk Tantenya sendiri.
__ADS_1
"Iya, Tante. Aku cuma mau beres beres saja. Nanti kalau udah ada waktu yang pas, aku pamit. Ya udah ya, Tante, aku pulang duluan." Jawab Devan tidak bersemangat.
"Hati-hati dijalan. Kalau kamu gak bisa konsentrasi, biar Zavan yang akan mengantarkan kamu pulang." Ucap ibunya Vando yang khawatir dan takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Lebih lagi Devan tengah patah hati karena perempuan yang dicintainya itu telah menikah dengan putranya sendiri.
"Aku bisa pulang kok, Tante. Tenang aja, aku gak kenapa-napa. Ya udah ya, Tante, aku pamit pulang." Jawab Devan berusaha untuk tetap tegar, meski perasaannya hancur.
"Ya udah kalau itu maunya kamu. Hati-hati dijalan." Ucap tantenya, Devan berusaha bersikap tenang, dan bergegas pulang.
Di tempat lain, tepatnya di Danau yang baru saja didatangi Aditya, kini dirinya tengah menikmati pemandangan yang begitu indah. Sambil menikmati minuman dingin, Aditya membuang kerikil kerikil kecil di Danau tersebut untuk menghilang kejenuhannya, dan agar tidak terus-menerus memikirkan perempuan yang dicintainya itu.
Devan yang terasa malas untuk pulang ke rumah, ia memilih mampir ke Danau yang sering didatangi bersama Liyan, kini tinggallah kenangan semata.
Sambil duduk dan juga memandangi pemandangan di sekitar Danau tersebut, ia menoleh ke sebelahnya.
Dengan seksama dan begitu detail, Devan memperhatikan seseorang yang menurutnya tidak begitu asing.
Karena merasa namanya dipanggil, juga menoleh ke samping.
"Kamu."
Aditya yang menyadari jika disebelahnya ada Devan, pun dibuatnya kaget. Saat itu juga, Devan ikutan duduk di sebelahnya.
"Rupanya kamu ada disini. Aku pikir kamu udah pulang. Kamu gak lagi patah hati, 'kan?"
Dengan sengaja, Devan meledek Aditya yang memang diketahui sama-sama mencintai mantan istrinya.
"Hem. Kata siapa aku patah hati. Aku disini tuh, lagi nungguin orang tuaku yang sedang ada pertemuan dengan rekan kerjanya dulu. Kamu sendiri, ngapain ke Danau ini? gak lagi patah hati, 'kan?"
__ADS_1
Aditya sendiri juga ikutan meledek.
"Sialan. Siapa juga yang patah hati. Aku ke sini juga karena di rumah gak ada orang. Jadi, daripada di rumah sendirian, 'kan mending juga mampir di Danau, cuci mata. Ya... siapa tahu aja ada yang ijo ijo." Jawab Devan beralasan.
Meski sebenarnya dapat diketahui jika dirinya tengah patah hati, sama halnya seperti Aditya sendiri. Namun, keduanya justru sama-sama menutupi patah hatinya masing-masing.
"Jangan bohong, aku tahu posisi kamu saat ini. Apalagi Liyan itu mantan istri kamu, mustahil kalau kamu gak patah hati saat melihat mantan istri kamu menikah dengan lelaki lain. Liyan sudah bercerita semuanya padaku soal hubungan kamu dengannya." Ucap Aditya yang akhirnya membuka obrolan yang cukup serius.
"Memangnya cerita apa dia?" tanya Devan penasaran.
"Tidak cerita banyak, hanya soal pernikahan kamu yang bermasalah karena Liyan sudah berhubungan dengan Vando. Liyan sebenarnya menyesalinya, tapi semua sudah terlanjur karena dirinya merasa bersalah. Semua karena rasa sakit hatinya padamu yang telah berselingkuh dengan perempuan lain." Jawab Aditya menjelaskan.
Devan yang mendengarnya, pun menarik napasnya panjang. Tentunya kembali teringat saat Liyan cemburu dan membesarkan masalah karena tidak ingin mendengar penjelasan darinya. Dadanya terasa sesak jika kesalahpahaman kembali di ungkit.
"Aku tidak pernah berselingkuh dengan perempuan lain. Liyan hanya salah paham saja dengan situasi saat itu. Juga, dia tidak mau mendengar penjelasan dariku sama sekali. Bahkan, saat hari pernikahan mau ditentukan, Liyan kabur dari rumahnya. Tidak tahunya, Liyan dipertemukan dengan Vando di kampung. Karena tidak mungkin pernikahan dibatalkan, kami pun menikah. Tapi, saat malamnya, saat aku hendak ingin menyentuhnya, Liyan melakukan penolakan, bahkan berkata jujur atas semuanya. Sakit hatiku tidak terkontrol, dan pada akhirnya aku mengembalikan Liyan kepada orang tuanya. Kemudian, Liyan dilarikan ke kampung demi menghindari malu, dan juga menghindari Vando." Ucap Devan yang begitu berat untuk menjelaskan soal kebenarannya.
Aditya yang tengah mendengar penjelasan dari Devan, begitu sakit ketika membayangkan jika dirinya berada di posisinya.
'Ternyata kamu lebih sakit dari pada aku, Devan. Cintamu rupanya dibalas dengan pengkhianatan. Sungguh jika aku menjadi dirimu akan melakukan hal yang sama, meski rasa cinta itu sulit dihilangkan. Aku sadar, ternyata cinta yang aku miliki tidak seberapa dengan rasa sakit hatimu pada Liyan. Aku doakan, semoga rasa sakit hatimu terobati.' Batin Aditya yang merasa tidak sebanding dengan Devan, yakni soal perasaan cintanya dalam mencintai perempuan yang dicintainya.
"Hei! malah ngelamun kamu ini. Minta air minumnya."
"Maaf, aku terbawa suasana dengan ceritamu. Perjuangan kamu dalam mencintai seseorang, rupanya tidak mudah, meski harus mengalah. Ini, air minumnya." Jawab Aditya, dan menyodorkan satu botol air mineral.
"Gak usah simpati, urus saja perasaan kamu sendiri yang juga lagi patah hati." Ucap Devan sambil membuka botol minumannya.
Bukannya menjawab, justru Aditya tertawa kecil mendengarnya.
"Kamu itu ngomong apa, Dev. Aku malu jika aku patah hati. Sedangkan kamu yang lebih sakit ketika harus mengetahui kenyataan. Kamu yang sabar ya, aku doakan, semoga semua segera berlalu, dan kamu temukan kebahagiaan mu." Jawab Aditya sambil menepuk punggungnya pelan.
__ADS_1
Kemudian, Devan merangkul Aditya layaknya persahabatan.