
Pagi harinya Devan segera bersiap-siap untuk pulang ke rumah kos-kosannya. Karena waktu yang sudah mepet, Devan tidak sempat untuk berpamitan pada Lian.
Setelah sudah bersiap-siap, Devan segera berpamitan dengan Tuan Boni.
"Permisi, Tuan, Pa. Maaf, saya belum terbiasa." Ucap Devan dengan sedikit canggung.
"Tidak apa-apa, terserah kamu enaknya mau panggil apa. Nanti kalau sudah menjadi suaminya Liyan, dilarang memanggil Tuan. Ngomong-ngomong ada perlu apa kamu kemari?"
"Saya mau pamit pulang, Tuan. Hari ini saya mau beberes rumah kosan, sekaligus mau nyari pekerjaan." Jawab Devan.
"Oh. Memangnya Zavan gak menawarkan pekerjaan sama kamu?" tanya Tuan Boni.
"Sudah, Tuan. Tapi, saya belum siap. Bukannya saya menolak. Saya ingin menenangkan pikiran saya terlebih dulu. Agar nantinya tidak kacau. Sebelumnya saya minta maaf, karena tidak bisa memenuhi permintaan dari Tuan." Jawab Devan beralasan.
"Ya udah gak apa-apa, jika itu maunya kamu. Kamu gak ikut sarapan dulu? dah jam segini loh, bentar lagi juga sudah mau sarapan. Lebih baik kamu mandi dulu aja, nanti biar Bibi yang menyiapkan pakaian buat kamu. Gak perlu sungkan, tetaplah seperti dulu." Ucap Tuan Boni.
Devan tersenyum. Merasa begitu beruntung ketika dipertemukan dengan keluarga yang begitu baik. Tidak peduli dengan statusnya yang sekarang ini, keluarga Aritama tidak memandangnya rendah.
"Iya, Tuan. Terimakasih sebelumnya, atas semuanya."
"Ya udah sana kalau mau mandi, nanti ditunggu di ruang makan." Ucap Tuan Boni.
"Baik, Tuan." Jawab Devan dan bergegas kembali ke kamar tamu.
Liyan yang baru saja mandi dan mengenakan baju, juga dengan riasan yang sederhana, dirinya segera keluar dari kamar.
Saat menapaki anak tangga, Liyan mendapati asisten rumah terlihat membawa pakaian ganti.
"Buat siapa, Bi?" tanya Liyan penasaran.
"Oh ini baju. Ini buat Tuan Devan, tadi Tuan Boni meminta Bibi buat nyiapin baju untuk Tuan Devan." Jawab asisten rumah.
"Oh. Eh Bi, Kak Devan belum pulang ya?"
"Belum kok, Non. Tuan Devan masih di rumah." Jawabnya.
"Ya udah ya, Bi, biar aku aja yang nganter bajunya." Ucap Liyan yang langsung mengambil alih.
"Iya, Non. Ini, ambil saja." Kata asisten rumah.
Liyan tersenyum dan mengambil alih itu baju ganti untuk mantan suaminya.
"Ya udah ya, Bi. Sekarang Bibi boleh ke dapur." Ucap Liyan yang langsung membawa bajunya untuk mantan suaminya.
"Coba aja kalau Nona dulu gak kabur dari perjodohan, mungkin sudah hidup bahagia dengan Tuan Devan. Udah cakep, pengertian, sayang sama Nona Liyan. Bahkan, sayangnya gak nanggung nanggung. Tapi, Nona mudah dihasut waktu itu. Semoga mereka beneran berjodoh. Jadi gak sabar lihat mereka bahagia." Gumamnya saat memperhatikan anak majikannya yang sudah terlihat ceria.
Liyan yang tengah membawa baju ganti untuk mantan suaminya itu, seperti gak percaya, secara semalam pamit mau pulang cepat, tapi ternyata masih ada di rumahnya.
Pintu yang tidak dikunci dari dalam, membuat Liyan dengan mudahnya untuk membuka. Dengan hati-hati, Liyan mendorong pintunya.
"Selamat, gak ada orang. Mungkin orangnya lagi di kamar mandi." Ucapnya sambil mengatur napasnya.
Seketika, Liyan melotot saat Devan baru keluar dari kamar mandi. Gimana gak shock, ternyata Devan hanya mengenakan handuk yang dililitkan di pinggangnya.
Saat itu juga, Liyan segera menutup matanya dengan telapak tangannya, namun jari-jarinya dibuka sedikit, agar ada celah buat melihat.
"Hem. Buka aja itu tangan kamu. Ngapain masih ditutup gitu. Udah lihat juga, 'kan? apa ini, baju ganti untukku?"
Devan langsung menyambar semua yang ada ditangannya Liyan.
__ADS_1
"Eh, jatuh."
Devan segera berjongkok dan mengambilnya, tentu saja barang berharga miliknya.
"Sudah sana keluar. Kita belum menikah. Nanti kalau kita udah nikah, bisa kamu puas-puasin." Ledek Devan, Liyan sendiri susah payah menelan salivanya.
Namun, penyesalan lah yang Liyan ingat, yakni kabur saat dijodohkan. Padahal yang dijodohkan tidak pacarnya sendiri, tapi lebih percaya dengan hasutan. Jadi, membuat Liyan kehilangan segalanya.
"Aku tunggu di ruang makan."
"Iya, nanti aku nyusul." Kata Devan, Liyan sendiri segera keluar.
Devan yang tidak ingin membuat yang lain menunggu, cepat-cepat untuk mengenakan bajunya. Setelah penampilannya sudah rapi, Devan keluar dari kamar.
Liyan yang tengah menunggu mantan suaminya selesai mengganti baju, alih-alih menonton televisi untuk menghindari kejenuhan.
"Cie ... yang sedang jatuh cinta, lagi berbunga-bunga nih hatinya. Cie cie... tumben tumbenan nih, dah wangi juga."
"Dih! Kak Devan apa-apaan sih, gangguin aja. Gak ada kaitannya sama udah mandi ataupun belum. Tuh lihat, Mama sama Papa aja udah mandi juga. Terus, apanya yang cie cie cie.. hem." Jawab Liyan dibuat ketus.
"Nah, gini kan, ada manis-manisnya. Gak kek kemarin kemarin itu, sampai capek tuh si Devan bujuk kamu biar mau mandi lah, makan lah, ini udah gercep." Ledek Zavan kepada adik perempuannya.
"Kata Kak Zavan, suruh buat hilangin keluh kesah, sekarang udah berubah juga, dikomentari lagi."
"Bukan begitu, adikku sayang. Kakak seneng kok, lihat kamu ceria lagi seperti dulu. Bukan yang seperti kemarin-kemarin. Kakak tahu, kamu sangat terpukul menerima ujian yang begitu berat. Siapa orangnya yang gak trauma, ketika kehilangan seorang anak yang sangat disayangi. Apalagi anak satu-satunya yang dimiliki, rasanya pasti sangat sakit. Mulai sekarang kamu bukalah lembaran baru, jadikan sosok Savan adalah semangat hidup kamu. Meski Savan sudah pergi untuk selama-lamanya, tapi di hatimu dia akan tetap hidup." Ucap Zavan sambil merangkul adik perempuan kesayangannya.
Kemudian, ibunya pun ikutan duduk disebelahnya, juga ikutan merangkul.
"Ada Mama, ada Papa, kamu gak sendirian. Apalagi ada seseorang yang dari dulu memberi perhatian sama kamu, juga tidak merasa bosan untuk mendengar celotehan mu. Siapa lagi kalau bukan Devan, mantan suami kamu yang setia menunggu." Timpal ibunya ikut bicara.
"Sebenernya Devan waktu itu terasa berat buat mengajukan perceraian sama kamu. Karena kamu harus menikah, dengan terpaksa si Devan melakukan itu semua untuk kamu dan Savan. Tapi, rasa sakitnya itu sekarang sudah dibayar dengan lunas, karena kamu masih mau menerimanya." Ucap Zavan kepada adiknya.
"Aku sangat menyesalinya. Andai saja dulu itu aku lebih percaya dengan Kak Devan, mungkin gak akan seperti ini jadinya. Semua harus terluka karena aku. Gak cuma Kak Devan saja, tapi juga kalian. Aku minta maaf ya, Kak, Ma. Aku janji, aku gak akan mengecewakan kalian, aku akan memperbaiki diri." Jawab Liyan sambil mengatur napasnya yang terasa sesak.
Zavan, Liyan, dan ibunya segera menoleh kebelakang. Terkejut itu sudah pasti, lebih lagi untuk Liyan yang melihat Devan sudah berdiri dibelakangnya.
Liyan hanya bisa nyengir kuda saat mendapati ayah dan mantan suaminya yang sudah mendengar ucapannya barusan.
"Oh iya, sampai lupa. Sudah waktunya untuk sarapan, ayo kita sarapan dulu." Ucap ibunya untuk mencairkan suasana.
Semua mengiyakan ajakan ibunya. Setelah sudah berada di ruang makan, mereka berlima tengah menikmati sarapan pagi bersama. Setelah itu, Devan pamit untuk pulang ke rumah kosannya.
"Dev, pulang nanti aku antar, sekalian juga aku mau ke kantor. Bentar ya, aku mau ambil tas kerja aku dulu." Ucapnya dan bergegas untuk mengambil tasnya di ruang kerjanya.
Sedangkan Devan memilih untuk menunggu di teras rumah ditemani Liyan.
"Jaga diri kamu baik-baik. Kalau mau pergi, jangan sendirian, apalagi cuma modal supir atau orang suruhan, tetapi juga dengan Zavan kakakmu. Aku takut, kamu jadi incaran di luaran sana. Bukan niat untuk nakutin kamu, karena aku gak ingin terjadi sesuatu pada diri kamu. Jadi, jangan bebal ketika aku mengingatkan kamu, kamu mengerti? bersabarlah, secepatnya aku akan menikahi kamu." Ucap Devan mengingatkan Liyan.
"Iya, tenang saja. Aku gak akan keluar rumah kalau bukan sama Kak Devan, atau Kak Zavan. Makasih ya, Kak, udah perhatian sama aku. Aku nyesel, kenapa aku begitu egois dulunya."
"Karena kamu masih labil. Tapi kalau sekarang, kamu sudah condong keibuan. Ya udah ya, aku pamit pulang. Jaga diri kamu baik-baik." Ucap Devan sekaligus berpamitan.
Liyan yang tidak mungkin untuk menahan Devan, pun mengiyakan untuk pulang ke rumah kesannya.
"Udah gih kangen kangenannya. Besok juga masih bisa ketemu lagi, jangan lebay." Ucap Zavan lewat dari dalam mobil.
Bukannya membuat Liyan kesal, justru malah menjulurkan lidahnya.
"Makanya buruan nyari calon istri dong, Kak. Masa' mau jomblo terus, huuuu." Ejek Liyan ganti membalas.
__ADS_1
"Awas ya, nanti kalau Kakak udah pulang. Hem." Sahut Zavan sambil menunjukkan kegeramannya.
"Sudah, jalankan mobilnya. Jangan mentang-mentang jadi Bos, datang ke kantor semaunya. Cepat, jalankan mobilnya." Perintah Devan, yang justru ngerjain Zavan dengan menyalakan mesin mobilnya dan langsung dioperasikan oleh dirinyw.
Seketika, Zavan serasa jantungan ketika dikerjain oleh Devan.
"Resek, Lu. Gak tahu kalau aku tuh lagi seneng banget ngerjain itu anak."
"Hem. Kamu ini, udah aktif lagi berantemnya. Oh iya, kamu gak pingin cepet nikah gitu? usiamu loh, dah kematangan."
"Aw! resek, Lu. Kira-kira dong, kau ini."
"Lah kamu aja belum nikah, pakai ngeledek segala, huh!"
"Belum nikah dari mananya? aku udah duda merana."
"Kasian, duda merana."
"Resek Lu, diam lah. Gak lama lagi juga bakal nikah lagi akunya sama orang yang sama, terlalu sempit duniaku ternyata." Ucap Devan sambil menatap lurus ke depan.
"Gak cuma sempit, kesempitan mah iya. Oh iya, kamu beneran gak mau kerja langsung di kantorku?"
"Keknya enggak dulu deh, Zav. Aku lagi males mikir, aku mau fokus dulu dengan urusanku sama Vando. Aku mau mencari tahu, sebenarnya apa tujuan dia menjadikan aku miskin. Juga, aku ada amanah dari ibunya Vando, tapi aku belum berani membuka kotak rahasia itu."
"Kamu bilang apa tadi? kamu ada kotak rahasia dari ibunya Vando? kotak apaan memangnya, Dev?"
"Aku gak tahu pasti sih, karena aku juga belum pernah membukanya. Penasaran sih, ya udah pasti. Aku belum siap membukanya, takut aja sih."
"Takut kenapa, Dev?"
"Ya takut salah menduga aja sih. Tapi aku sendiri belum ada dugaan, hanya penasaran."
"Terus, kenapa gak kamu buka aja itu kotak rahasia."
"Kuncinya aja gak sama aku, gimana mau bisa buka, Zav? hem."
"Lah, kamunya aja gak bilang kalau itu kotak gak ada kuncinya. Eh, tapi itu kuncinya kemana? masa iya, ada kotak gak ada kuncinya."
"Ada, kuncinya sama seseorang. Aku sudah diberi alamatnya, cuma aku lagi males buat nyari alamat rumahnya."
"Ya seharusnya kamu cari dulu alamat rumahnya, terus kamu minta kuncinya, beres." Kata Zavan dengan cara berpikirnya.
"Hem. Gak semudah itu, Zav. Aku butuh Papa kamu, tapi bukan sekarang. Mungkin kalau situasi sudah sangat mendesak, aku akan membuka kotak itu. Untuk sekarang ini aku masih pingin nenangin pikiran aku dulu, Zav. Juga, aku pingin fokus dulu sama Liyan. Setelah aku menikah, mungkin aku baru mau menguak isi dalam kotak rahasia itu." Ucap Devan dengan keputusan yang ia ambil.
"Terserah kamu aja, aku hanya bisa mendukung mu. Oh iya, ngomong-ngomong
rumah kosan kamu, mana? masih jauh atau udah dekat nih?"
"Bentar lagi juga sampai. Kamu tinggal lurus terus aja dulu. Nanti kalau nemu lampu merah, kita lurus lagi. Nah, bertemu dengan perempatan, kita belok kiri. Habis itu, jalan aja terus, saat nemu perempatan lagi, maju dikit. Nah, disitu ada lorong yang sebelah kiri, nah di situ ada gang masuk, nah di situ. Mobil kamu gak bakalan bisa masuk. Jadi, kamu langsung berangkat ke kantor, gak usah mampir, soalnya aku gak ada akses jalan untuk masuk ke kosanku." Kata Devan yang begitu rumit saat memberikan arah petunjuk kepada Zavan, rumit sudah pasti.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya sampai juga di lokasi yang diberikan oleh Devan. Zavan yang melihat lorong yang begitu sempit, seolah napasnya sulit untuk bernapas.
"Makasih ya, udah mau anterin aku sampai disini. Ya beginilah kehidupan aku yang sekarang, jauh dari kata mewah, dan juga beruntung. Sudah sana kalau mau berangkat kerja. Kamu gak perlu shock gitu. Ini sudah menjadi jalan cerita hidupku. Jadi, gak ada yang perlu di sesali." Ucap Devan berusaha untuk tetap tegar.
"Aku bangga sama kamu, Dev. Pantas saja Papa aku begitu ngotot untuk menikahkan kamu dengan Liyan, ternyata ini jawabannya. Ya udah ya, aku berangkat dulu. Nanti kalau pulang cepat, aku datang ke kosan kamu bareng Liyan. Tenang aja, nanti aku minta anter supir, biar gak bingung mau parkir mobil." Kata Zavan begitu kagum dengan sosok Devan.
"Hati-hati di jalan. Jangan lupa, kalau nemu cewek dijalan, ambil aja, nanti bawa pulang." Ucap Devan sambil meledek.
"Si_alan! resek Lu. Ya udah ya, aku berangkat dulu." Jawab Zavan dan bergegas berangkat ke kantor.
__ADS_1
Devan yang masih banyak urusan, segera pulang ke kosannya. Sedangkan Zavan yang merasa geram atas perbuatan Vando yang sudah semena-mena, pun terasa dongkol.
Ingin rasanya memberi peringatan dan pelajaran kepada Vando, Zavan hanya bisa menahan kekesalannya.