Usai Pernikahan

Usai Pernikahan
Menolak


__ADS_3

Dikediaman keluarga Gavindra, Devan tengah duduk bersandar di ruang keluarga sambil menikmati secangkir teh hangat dan ditemani cemilan. Sampai-sampai ia tidak menyadari jika Vando bersama istrinya dan Tantenya baru saja masuk kedalam rumah. Bahkan, Devan sama sekali tidak mendengar jika ada suara langkah kaki.


Entah kemana pikirannya, Devan tidak begitu tanggap saat ada yang pulang ke rumah. Saat menoleh, Devan dikejutkan dengan Vando, ibunya Vando, dan mantan istrinya yang baru pulang dari acara resepsi pernikahan.


Dengan reflek, Devan meletakkan bungkus cemilan, lalu ia bangkit dari posisinya.


"Eh- kalian sudah pulang. Maksudnya, Tante juga." Ucap Devan yang tiba-tiba dibuatnya reflek.


"Iya, kita baru aja pulang. Aku tinggal dulu ya, Kak." Jawab Vando yang kini telah merubah panggilan dengan sebutan kakak.


Devan mengangguk. Arah pandangannya kini beralih ke Liyan mantan istrinya. Liyan yang merasa malu, Vando mengajaknya masuk kedalam kamar. Cemburu, sakit hati, kecewa, menyesal, kini telah bercampur aduk ia rasakan. Betapa sakitnya saat melihat perempuan yang dicintainya telah bersama saudara sepupunya sendiri.


Ingin memaki Vando, itu tidak mungkin. Ingin marah kepada mantan istrinya, itu juga tidak mungkin. Devan hanya memperhatikan bayang-bayang yang terlintas dalam pandangannya saja.


"Kamu cemburu, 'kan? maafkan Vando karena sudah menjadi perusak rumah tanggamu. Ini, tadi Tante bawain makanan buat kamu makan malam. Oh ya, nanti Tante ingin bicara sama kamu. Temui Tante di taman belakang, ya." Ucap ibunya Vando.


"Iya, Tante." Jawab Devan dengan lesu, juga tidak bersemangat.


Ibunya Vando yang tidak begitu tega melihat keponakannya patah hati dengan perempuan yang kini menjadi menantunya, sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Ditambah lagi ada Savan, tidak mungkin juga menyakiti perasaan seorang anak kecil yang tidak tahu menahu permasalahan orang dewasa.


Devan yang terasa sesak untuk bernapas, ia mencoba untuk memenangkan pikirannya agar tidak terhanyut dalam kesedihannya.


'Kamu pasti bisa, Devan. Lupakan Liyan, dia bukan jodohmu. Ingat, kebahagiaan kamu menciptakan, begitu juga dengan kesedihan. Lebih baik kamu fokus dengan langkah hidupmu yang selanjutnya.' Batin Devan mencoba untuk menyemangati diri sendiri.


Tidak ingin pikirannya bertambah kacau, Devan segera pergi ke dapur untuk mengambil piring dan lainnya untuk makan malam.


Di ruang makan, Devan hanya seorang diri tengah menikmati makan malam tanpa ada yang menemani. Dirinya kembali kepikiran dengan mantan istrinya yang diharapkan akan menjadi teman seumur hidupnya, kini semua bagai halusinasinya saja.


"Aaaaa!" teriak Liyan yang tersandung sesuatu yang ada didekat pintu.


Saat itu juga, Devan langsung menangkap tubuh Liyan dan menahannya agar tidak terjatuh. Nahas, justru keduanya saling pandang satu sama lain.

__ADS_1


Dengan reflek, Devan melepaskan tangannya.


"Maaf, aku hanya menahan badan kamu agar tidak jatuh. Lain kali hati-hati." Ucap Devan berusaha untuk cuek.


"Makasih. Maaf, sudah merepotkan Kak Devan. Aku mau ambil air minum, permisi." Jawab Liyan setengah grogi karena terasa asing dengan mantan suaminya.


Meski bertahun-tahun dulunya sangat dekat, kini keduanya justru seperti malu-malu bak belum saling kenal.


Liyan yang takut ketahuan suaminya, buru buru mengambil air minum dan kembali ke kamarnya. Tanpa disadari oleh keduanya, rupanya Vando sedari tadi mengawasi istrinya.


Karena tidak ingin ketahuan oleh istrinya, cepat-cepat Vando segera kembali ke kamar. Sedangkan Devan melanjutkan makannya yang sempat tertunda karena Liyan.


"Ah iya, aku sampai lupa. Tadi 'kan, Tante bilang kalau aku suruh menemui Tante di taman belakang. Untung saja masih ingat." Gumamnya sambil mengunyah makanan.


Devan yang tidak ingin membuat Tantenya menunggu lama, ia segera menghabiskan makanannya meski terasa hambar karena hati dan pikirannya tidak sinkron.


Liyan sendiri yang baru saja masuk kedalam kamar, tiba-tiba ia langsung mendapat pelukan dari suaminya yang cukup erat. Bahkan, Liyan sendiri kesulitan untuk bernapas. Juga, gelas yang berisi air minum hampir tumpah.


"Maaf. Aku terbawa suasana. Sudah mau gelap, buruan kamu mandi. Atau ... kita mandi bareng, gimana?"


Liyan yang mendapat ajakan dari suaminya, ia baru menyadari jika dirinya datang bulan. Ingatannya pun kembali saat dirinya baru saja menikah dengan Devan, teringat saat Devan meminta haknya sebagai suami, tetapi justru kalimat menyakitkan telah lolos begitu saja lewat mulutnya yang tidak terkontrol.


Wajah Liyan mendadak pucat, ia sendiri pun melamun saat suaminya menggoda dirinya. Vando yang merasa aneh dengan istrinya yang seperti memikirkan sesuatu, dirinya pun ingat jika istrinya baru saja bertemu langsung dengan Devan di dapur.


'Apa iya, Liyan sedang memikirkan mantan suaminya?' batinnya bertanya-tanya, juga menyimpan rasa penasaran.


"Sayang, sayang. Kamu kenapa melamun, sayang?"


Dengan sengaja, Vando melambaikan tangannya tepat pada wajahnya Liyan, yakni untuk membuyarkan lamunannya.


Liyan yang dikagetkan, pun tersadar.

__ADS_1


"Maaf. Aku lagi nahan nyeri, perut aku sakit. Bentar, aku letakkan dulu gelasnya." Jawab Liyan salah tingkah, juga menjadi grogi.


Entah antara gugup, takut, cemas, atau yang lainnya. Liyan benar-benar seperti orang yang baru saja bangun dari tidurnya, yaitu kebingungan saat dirinya langsung mendapat pertanyaan.


Vando yang tidak tahu pasti istrinya beralasan atau memang benar dengan ucapannya, dia mencoba untuk tidak mencurigainya terlalu berlebihan.


Setelah meletakkan gelas, Liyan kembali terdiam seperti tengah memikirkan sesuatu.


"Kamu itu kenapa, sayang? perasaan tadi gak gini. Perut kamu masih sakit? aku antar kamu berobat ya, gimana? aku takut kamu kenapa-napa."


Liyan berusaha tersenyum, dan menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja.


"Aku gak apa-apa, cuma nyeri aja di bagian perutku. Biasalah, perempuan kalau datang bulan memang begini rasanya. Bawaannya sensitif, inginnya marah, kek banyak pikiran. Padahal gak sih, karena perubahan hormon aja. Ya udah ya, aku mau mandi duluan. Soalnya biar rada mendingan kalau mandinya pakai air hangat." Jawab Liyan mencoba untuk menyakinkan suaminya.


Vando yang tidak menaruh curiga, dan percaya dengan penjelasan dari sang istri, pun tidak berpikiran yang aneh-aneh.


Liyan yang tidak terus diberondong banyak pertanyaan dari sang suami, cepat-cepat masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sedangkan di ruangan lain, Devan yang baru aja selesai makan, dirinya teringat jika diminta untuk menemui Tantenya di taman belakang. Karena tidak ingin rasa penasarannya terus menghantui pikirannya, Devan segera menemui Tantenya.


Saat sudah berada di taman belakang, Devan menghampiri Tantenya dan ikutan duduk di sebelahnya.


"Tante ada perlu apa memintaku ke sini?" tanya Devan penasaran.


"Tante hanya ingin mengobrol bareng kamu. Sudah lama kita gak seperti ini. Oh ya, Tante mau membahas soal pindah rumah. Kalau bisa, kamu jangan meninggalkan rumah ini."


"Kenapa, Tante?" tanya Devan ingin tahu alasannya.


"Vando yang akan pindah dari rumah ini." Jawab Tantenya.


Devan menggelengkan kepalanya, terlalu berat untuk bertahan di rumah yang sudah cukup menyakitkan baginya, pikir Devan.

__ADS_1


__ADS_2