Usai Pernikahan

Usai Pernikahan
Bertemu lagi di taman


__ADS_3

Liyan yang baru saja keluar dari mobil, ia memandangi di sekelilingnya. Dilihat banyaknya bunga anggrek yang bermekaran, membuatnya teringat kenangan bersama mantan suaminya.


Masa masa indah yang pernah dilewati bersama sejak dirinya masih duduk di bangku sekolah. Sikap manjanya masih diingat, seolah kini diingatkan kembali masa-masa itu. Devan yang sudah berdiri di sebelahnya, menunggu reaksi dari Liyan.


Sedangkan sang kakak dan Yena, memilih untuk mencari tempat lain. Yakni, agar tidak mengganggunya.


"Bagaimana, masih ingat dengan tempat ini kah? tempat yang menjadi favorit kamu, pulang dengan membawa bunga anggrek hingga memenuhi bagasi mobilku."


Devan sengaja mengingatkan keseruan bersama di masa lalunya.


Liyan menoleh, dan tersenyum tipis.


"Kak Devan masih ingat juga rupanya. Dulu aku benar-benar konyol ya, beli bunga anggrek sebanyak itu. Bikin malu aja gak sih, Kak, dulu itu. Sumpah deh, bikin malu pokoknya." Jawab Liyan yang sedikit mulai tertawa saat mengingat kenangan bersama.


"Iya, sampai rumah kita kena marah tuh sama Mama kamu."


Liyan kembali tertawa kecil saat mendapat marah dari ibunya.


"Ke sana, yuk. Siapa tahu kamu pingin ngulang lagi masa-masa dulu, bolos sekolah, malah pergi ke kampus, minta jalan-jalan pula. Mana kakak kamu galak banget tuh orang. Untung aja aku sabar, sampai akhirnya aku bisa dapetin ka-kamu." Ucap Devan semakin lirih pada kalimat yang terakhir.


Liyan sendiri justru seperti terhipnotis.


"Em- lupakan yang tadi. Ayo kita ke sana. Siapa tahu ada bunga jenis lain, nanti aku beliin buat kamu." Sambungnya.


Liyan mengangguk dan mengikuti langkah kakinya sedikit canggung.


"Kak," panggil Liyan yang berhenti ditengah-tengah taman.

__ADS_1


Devan langsung menoleh ke belakang.


"Ada apa?" tanya Devan penasaran.


Liyan melangkah mendekatinya, dan berhenti tepat di sebelahnya Devan.


"Gak ada apa-apa. Aku mau minta maaf, dulu yang pernah mengecewakan Kak Devan." Ucapnya setengah menunduk karena merasa malu. Devan menggandeng tangannya, dangan mengajaknya mengelilingi taman anggrek.


"Kamu gak perlu minta maaf, aku sudah memaafkan kamu dari dulu. Sudah lah, kenapa kamu masih membahasnya lagi? bukankah kamu sudah pernah membahasnya dan meminta maaf. Terus, ngapain kamu ulangi lagi? sudahlah, lupakan. Lebih baik kita ulangi dari pertemanan, seperti awal kita bertemu di taman anggrek ini." Jawab Devan sambil menjulurkan jari kelingkingnya sebagai tanda pertemanan.


Liyan menerimanya, tanpa sadari ada seseorang yang tengah memperhatikan keakraban mereka berdua, siapa lagi kalau bukan Aditya yang kebetulan berada di taman anggrek menemani ayahnya untuk membeli bunga tersebut yang sering dibeli sebagai mengingat mendiang ibunya Aditya.


"Ternyata mereka sudah akrab dari dulu. Pantas saja, Liyan mudah terhibur oleh Devan. Juga, selalu nurut dengan nasehatnya. Apalagi Devan terlihat sangat mencintai, sepertinya aku yang akan kalah dalam merebutkan cinta dari Liyan. Ditambah lagi sudah tidak ada Savan, pasti terasa asing buat Liyan." Gumamnya sambil memperhatikan dua insan yang terlihat begitu akrab.


"Kamu cemburu? Papa bisa atur semuanya, jika kamu ingin menikah dengan perempuan yang kamu sukai. Dia putrinya Tuan Boni Aritama, 'kan? gampang kalau kamu ingin memilikinya."


"Papa bilang apa tadi? Papa bisa atur semuanya? maksudnya Papa itu, apa?"


Sang ayah pun tersenyum.


"Keluarga Aritama pernah meminjam modal untuk menutupi hutangnya kepada Papa, juga pernah Papa bantu soal perusahaannya yang hampir saja mengalami kebocoran keuangan. Jadi, sangat mudah untuk menjodohkan kamu dengan perempuan yang kamu sukai itu. Apalagi lelaki yang ada disebelahnya, jauh lebih berkelas kamu ketimbang mantan suaminya. Jadi, Tuan Boni pasti akan mempertimbangkan lagi untuk memberinya restu." Jawab ayahnya Aditya.


"Enggak, Pa. Aku gak mau bermain curang. Aku tidak mau egois. Juga, aku gak mau menyakiti perasaannya Liyan. Jika Devan lelaki pilihannya, biarkan mereka berjodoh. Cukup sudah penderitaannya, aku gak ingin membuatnya terpuruk. Asalkan Liyan bahagia, aku ikut bahagia." Ucap Aditya yang tidak ingin mengulang kesalahan seperti Vando.


"Bohong. Mana mungkin kamu bahagia melihat Liyan bahagia dengan lelaki lain. Pikirkan lagi, nanti Papa akan membantumu." Kata sang ayah.


Aditya yang tidak ingin otaknya diracuni dengan bujukan orang tuanya, memilih pergi dari hadapan ayahnya.

__ADS_1


Zavan dan Yena yang sempat mendengarnya, pun shock dengan ucapan dari ayahnya Aditya yang memberi solusi tidak benar kepada putranya.


Yena sama Zavan sama-sama menatap satu sama lain. Keduanya benar-benar tidak menyangka dan merasa heran. Yena justru terasa malu, lantaran masih bersaudara dengan Aditya.


"Tidak aku sangka, ternyata ayahnya Aditya punya cara yang licik. Kasihan Aditya kalau sampai termakan oleh ucapan ayahnya. Apalagi kalau Aditya mencintai Liyan, aku takutnya akan berbuat nekad karena kecemburuannya." Ucapnya lirih di depan Yena.


"Aku juga tidak menyangka, jika ayahnya Aditya seperti itu pemikirannya. Semoga saja, Aditya tidak kemakan omongan orang tuanya. Kalau sampai itu terjadi, kasihan dia. Lebih lagi kasihan Liyan kalau sampai dijodohkan. Iya kalau Liyan juga menyukai Aditya, kalau enggak? malah akan bertambah sakit nantinya si Aditya." Jawab Yena yang juga khawatir jika sampai terjadi.


"Semoga saja tidak. Kalau Liyan menyukai Aditya sih gak masalah, tidak ada beban. Untuk soal Devan, mungkin dia bisa mengerti, meski hatinya hancur yang kedua kalinya, karena harapannya yang tidak tersampaikan." Ucap Zavan.


Yena sendiri merasa khawatir jika akan terjadi permasalahan seperti yang sudah-sudah, pikirnya.


Sedangkan Liyan yang tengah ditemani Devan, mereka berdua menikmati suasana di dalam taman anggrek sambil duduk bersantai. Keduanya saling berbagi cerita, meski cerita yang disampaikan adalah cerita yang pernah dilewati bersama di masa lalu. Liyan sama Devan seperti tengah membuka kenangan bersama.


Senyum merekah terlihat jelas di kedua sudut bibirnya. Aditya yang memang terbakar oleh api cemburu. Dengan nekad, akhirnya ikut nimbrung dan duduk di dekat mereka.


"Aditya." Panggil Devan dan juga Liyan secara bersamaan karena benar-benar dibuatnya kaget dengan kehadirannya.


"Kalian berdua ada disini rupanya, kebetulan sekali, macam jodoh aja." Ucap Aditya sekilas melirik ke arah Devan.


Liyan yang bingung menghadapi dua cowok yang di hadapannya sama-sama menaruh hati pada dirinya, pun bingung untuk menanggapinya.


"Rame juga ternyata, aku pikir tadi cuma Liyan doang. Gak tahunya udah ada dua cowok yang menemani. Ikutan nimbrung ya? soalnys capek dari tadi lihat-lihat bunga anggrek." Ucap Zavan, Aditya sendiri merasa risih.


Berbeda dengan Devan, justru dirinya susah payah untuk menahan tawanya, lantaran melihat aksi Zavan yang tiba-tiba muncul bak Jailangkung.


Yena yang masih berdiri, langsung ditarik paksa oleh Zavan agar segera duduk. Untung saja tidak kepeleset, Yena masih bisa menahan tubuhnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2