Usai Pernikahan

Usai Pernikahan
Diterima


__ADS_3

Sampainya di restoran, Liyan dan Devan turun dari mobil. Kemudian, keduanya segera masuk kedalam bersama keluarganya dan menuju tempat yang dipesan sebelum berangkat.


Tidak menunggu lama saat baru saja duduk, pesanan sudah datang dan siap untuk dihidangkan.


"Nak Devan, jangan malu-malu. Sebentar lagi kamu akan menikah dengan Liyan, gak usah canggung. Kek sama siapa saja, ayo kita makan bersama." Ucap ibunya Liyan.


"Iya Bro, jangan malu. Juga gak usah canggung. Macam sama siapa aja, kita keluarga." Sambung Zavan selaku teman dekat, juga calon kakak ipar.


Devan tersenyum.


"Makasih banyak atas jamuannya. Maaf, sudah merepotkan." Jawab Devan ada rasa malu.


"Kamu jangan malu, apa kata Mamanya Liyan, juga Zavan itu mewakili Papanya Liyan. Sebentar lagi kamu akan menjadi bagian keluarga Aritama, gak usah canggung maupun merasa malu. Kita semua tahu, kamu sedang dimasa sulit. Juga, kamu gak perlu khawatir, semua akan baik-baik saja. Ayo kita nikmati makanannya, nanti keburu dingin dan hambar rasanya." Ucap Tuan Boni ikut menimpali.


"Terima kasih banyak, Tuan. Saya janji, saya akan berusaha untuk melakukan sesuatu yang terbaik untuk Liyan." Jawab Devan.


"Saya percaya jika kamu bisa. Ya udah, kita makan dulu, ngobrolnya kita lanjutkan lagi nanti." Ucap Tuan Boni.

__ADS_1


Devan mengiyakan dan menikmati makan malamnya bersama keluarga calon istrinya.


Di lain tempat, kini tengah ada seseorang yang sedang melakukan pertemuan penting. Tentunya untuk melakukan rencana yang sudah disepakati.


"Ini, ada uang yang lumayan cukup banyak untuk memb_unuh Devan. Kerjakan sesuai yang aku perintahkan. Ingat. Jangan sampai salah membunuh, paham." Ucapnya kepada seseorang yang menjadi kaki tangannya.


"Baik, Tuan. Saya akan melakukan perintah Tuan sesuai yang sudah disepakati." Jawabnya.


"Bagus. Bila perlu ku_bur hidup hidup orangnya. Kalau sampai gagal, awas saja kamu." Ucapnya yang tidak lupa memberi ancaman kepada orang yang menjadi kaki tangannya.


Setelah memberi perintah, tertawa puas ketika membayangkan Devan telah terbu_nuh. Kemudian setelah melakukan pertemuan, kembali ke rumah.


"Tuan," panggil Devan dengan suara yang rendah.


Tuan Boni mendongak, dan arah pandangannya ke Devan.


"Iya, kenapa?" tanya Tuan Boni kepada Devan.

__ADS_1


"Saya berniat untuk menikahi Nona Liyan, Tuan. Jika berkenan untuk merestui hubungan kami, saya akan segera menikahinya. Namun, saya hanya bisa menikahi Nona Liyan dengan semampunya. Saya sadar diri karena saya bukan lagi sosok Devan yang dulu, yakni yang Tuan kenal. Sosok Devan yang sekarang hanya seorang pekerja biasa, jauh dari kata tajir." Jawab Devan yang akhirnya mengutarakan niatnya untuk melamar Liyan, perempuan yang sudah lama dicintainya.


Tuan Boni yang mendengar ucapannya, dan juga melihat kesungguhan dari Devan, tidak ada keraguan apapun padanya. Justru Tuan Boni begitu senang ketika Devan masih mencintai putrinya, cinta yang tidak berubah, meski putrinya sudah melakukan kesalahan besar padanya. Namun, rupanya tidak membuat Devan membencinya, tetapi masih tetap mencintainya.


"Kami sekeluarga sudah merestui mu dari dulu, hanya saja karena kesalahan dari Liyan, kamu harus mengulang pernikahan kalian. Pernikahan kalian akan segera dipercepat, agar tidak menimbulkan fitnah atau masalah yang berkepanjangan. Jadi, kalian bersiap-siap saja hingga jadwal pernikahan kalian ditentukan." Ucap Tuan Boni.


"Benar, Nak Devan. Kami sekeluarga sudah merestui hubungan kamu dengan Liyan. Justru itu, kami sangat senang karena kalian dipertemukan kembali dalam hubungan pernikahan. Semoga semua berjalan dengan lancar hingga sampai di hari pernikahan kalian." Timpal ibunya Liyan.


"Terima kasih banyak, Tuan, Nyonya, karena sudah mau menerima lamaran dari saya. Juga, merestui hubungan kami berdua." Jawab Devan dengan perasaan lega, lantaran sudah diterima.


"Selamat ya, buat kalian. Semoga acaranya berjalan dengan lancar. Satu hal lagi, jaga diri kalian baik-baik." Ucap Zavan.


"Buat Devan, kamu gak perlu mikirin biaya pernikahan, semua akan ditanggung oleh pihak keluarga perempuan. Kamu seorang diri, persiapkan diri kamu sudah cukup."


"Tapi, Tuan."


"Tidak perlu tapi tapian. Jangan menolak, lebih baik mengiyakan." Ucap Tuan Boni.

__ADS_1


Devan yang tidak bisa menolak dan takut menyinggung, akhirnya mengiyakan. Meski ada rasa malu, namun diabaikan.


__ADS_2