
Devan yang tidak ingin berlama-lama di Danau, ia beranjak dari tempat duduknya.
"Sudah siang, aku harus pulang. Ya udah ya, aku duluan. Kalau kamu ada waktu, main ke rumah. Eh tapi, enggak jadi deh. Soalnya aku mau pindah rumah. Ya udah ya, aku pulang duluan. Jangan terlalu hanyut dalam kesedihan, gak ada gunanya. Mereka sudah bahagia, giliran kita yang harus bahagia." Ucap Devan, tak lupa juga menepuk punggungnya Aditya.
Aditya tersenyum tipis pada Devan, dan juga mengangguk.
"Eh tadi kamu bilang apa, pindah rumah? memangnya kamu mau kemana, Dev?"
"Aku gak kemana-mana, hanya gak baik aja jika aku masih satu rumah dengan mantan istriku. Ya aku tahu, aku sama Vando saudara sepupu. Juga, itu rumah bukan punyaku sepenuhnya, tetapi milik orang tuanya Vando. Jadi, aku yang akan pergi." Jawab Devan yang berubah sedih diraut wajahnya.
"Kamu yang sabar ya. Kalau kamu gak keberatan, kamu bisa kok, tinggal di rumahku untuk sementara. Kebetulan juga, aku hanya tinggal dengan orang tuaku saja." Ucap Aditya memberi tawaran.
"Makasih banyak. Tapi aku sudah ada rumah. Sebelum Liyan kembali ke kota, aku sudah membeli rumah, ya walaupun gak begitu besar, setidaknya mampu untukku jadikan tempat tinggal. Kalau kamu bersedia main ke rumahku, aku akan beri alamatnya padamu, bentar." Jawab Devan, dan merogoh saku celananya.
Aditya sendiri memperhatikannya dengan seksama saat Devan tengah merogoh saku celananya seperti tengah mengambil sesuatu.
"Ini, alamat rumahku nantinya." Ucap Devan menunjukkan alamat rumahnya lewat ponselnya.
"Jalan merpati, nomor tiga ratus dua puluh. Oke, aku ingat. Tidak jauh dari rumahku. Nanti aku sempatkan datang ke rumahmu." Jawab Aditya.
"Ya udah ya, aku pulang. Sampai ketemu lagi dilain waktu." Ucap Devan berpamitan.
"Hati-hati dijalan." Jawab Aditya, Devan pun segera pulang ke rumah.
__ADS_1
Aditya yang tengah memperhatikan bayangan Devan yang semakin menjauh, sungguh tidak tega jika dirinya begitu menggebu untuk mendapatkan cinta dari Liyan.
"Ternyata aku salah mencintai seseorang. Rupanya ada lelaki yang begitu sabar dalam mencintaimu, Liyan. Andai kamu tahu sebesar apa cintanya Devan padamu, pastinya kamu akan menyesalinya. Tetapi sayangnya, hatimu telah dibutakan dengan ego mu." Gumam Aditya tertunduk malu pada diri sendiri.
Di lain sisi, acara pernikahan pun telah selesai. Semua yang hadir dalam acara resepsi pernikahan, satu persatu telah pulang, termasuk kedua pengantin yang juga bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Sebelum pulang, mereka berdua mengganti pakaiannya masing-masing.
"Ma, Savan mana?" tanya Vando yang tidak mendapati putranya.
"Savan sudah pulang dari tadi. Nama yang menyuruhnya pulang duluan, soalnya takut kecapean." Jawab ibunya.
"Aku kira kemana, ya udah kalau udah pulang. Terus, Devan dimana? perasaan dari tadi aku gak lihat. Cuma kakaknya Liyan aja yang aku lihat."
"Devan udah pulang dari tadi. Katanya sih mau istirahat, capek katanya. Ya udah yuk, kita pulang. Sudah mau sore, takutnya nanti macet di jalanan." Jawab ibunya beralasan, karena tidak mungkin juga untuk mengatakannya dengan jujur.
Vando yang sebenarnya dapat mengerti, pun pura-pura tidak tahu soal saudara sepupunya.
Ibunya yang tidak ingin jalanan macet dan pulang malam, pun mengajak anak dan menantunya pulang.
Namun sebelum pulang ke rumah, Vando bersama Liyan, mereka berdua berpamitan terlebih dulu kepada Tuan Boni, juga ibunya Liyan.
"Tuan, Nyonya, kami pamit pulang ke rumah mengajak Liyan." Ucap Vando berpamitan kepada mertuanya.
"Kamu sudah sah menjadi suaminya Liyan, dan berhak membawa kemana kamu pergi. Jangan panggil Tuan maupun Nyonya, tetapi Mama dan Papa. Kami titipkan Liyan sama kamu, juga Savan putramu. Jangan sakiti anak dan cucuku. Jika kamu bosan dan tidak cinta lagi, pulangkan dengan baik-baik. Sebagaimana aku merestui hubungan kalian dengan baik." Jawab Tuan Boni dengan pesan yang disampaikan kepada menantunya.
__ADS_1
Vando yang mendengarnya, pun harus meyakinkan ayah mertua maupun ibu mertuanya agar tidak berprasangka buruk padanya.
"Baik, Pa. Dengan segenap hati dan jiwa, Vando akan bertanggungjawab atas Liyan maupun Savan. Juga, kami akan membahagiakan mereka berdua." Ucap Vando meyakinkan.
Kemudian, mereka pulang ke rumahnya masing-masing. Nahas, Zavan menghadang adik iparnya yang hendak pergi.
"Aku titipkan Liyan sama kamu. Jangan sakiti adikku satu-satunya. Juga, keponakan ku bernama Savan, jangan berani-beraninya mengabaikannya. Jika aku mengetahui kalau kamu telah menyakiti adikku, jangan harap hidupmu akan tenang. Aku akan jamin hidupmu akan berantakan." Ucap Zavan memberi ancaman kepada adik iparnya.
Vando yang mendengar dengan suara yang cukup jelas, pun mengangguk.
"Baik. Aku akan bertanggung jawab kepada Liyan istriku. Jika aku gagal menjadi seorang suami, kamu dan yang lainnya silakan menghukum diriku." Jawab Vando yang sudah siap menanggung resikonya.
"Aku pegang omongan kamu. Ingat, jangan sakiti adikku satu-satunya." Ucap Zavan kembali mengingatkan.
Vando pun meyakinkan kakak iparnya, dan berjanji padanya. Zavan yang melihat keseriusan dari adik iparnya, pun mempercayakan Vando sebagai suami adiknya.
Setelah itu, mereka berpisah dengan tujuan pulang ke rumah masing-masing ketika sudah pamit. Kini, tinggallah keluarga Tuan Boni yang masih di depan gedung resepsi pernikahan.
"Entah kenapa, aku tidak begitu yakin jika Vando akan bertanggungjawab soal Liyan dan Savan. Enggak enggak, aku gak boleh berprasangka buruk padanya. Liyan pasti akan bahagia." Gumamnya Zavan yang begitu mengkhawatirkan rumah tangga adiknya.
"Kamu ngomong apa, Zavan. Jangan berprasangka buruk pada Vando. Papa yakin, kalau Vando lelaki baik. Kalau bukan lelaki baik, mana mungkin akan bertahan dengan statusnya. Bahkan, bertahun-tahun datang ke rumah hanya ingin meminta alamat yang menjadi tempat tinggalnya Liyan. Doakan saja, semoga rumah tangga mereka baik-baik saja." Timpal Tuan Boni yang sempat mendengar putranya berucap lirih. Namun, masih dapat ditangkap oleh indra pendengarannya.
"Yang dikatakan Papa itu ada benarnya, Nak. Kamu itu terlalu khawatir yang berlebihan, sampai-sampai kamu lupa dengan sosok Vando. Lebih baik tuh, sekarang giliran kamu kapan menikah? jangan sampai keduluan keponakan kamu nantinya." Ucap sang ibu ikut berkomentar, sekaligus mempertanyakan hal mengenai nasib putranya yang belum juga terlihat mempunyai kekasih, pikir ibunya.
__ADS_1
Zavan sendiri begitu santai saat mendapat pertanyaan dari ibunya, juga ayahnya.
"Nyari jodoh tuh gak segampang ngelamar kerjaan, Ma. Sulit, tau. Eh, ngelamar kerjaan juga rumit loh, Ma. Jadi, aku belum kepikiran untuk menikah. Aku masih memiliki banyak hal yang harus aku selesaikan." Jawabnya.