Usai Pernikahan

Usai Pernikahan
Berat untuk melupakan


__ADS_3

Vando yang tidak ingin putranya kembali bertemu dengan Aditya, ia langsung menjauhkannya.


"Ayah, Paman Adit kok ditinggal?"


"Bukan ditinggal, sayang. Tapi, Paman Adit ada kesibukan sendiri. Savan jangan sedih ya, 'kan masih ada waktu untuk bertemu. Oh iya, ini minum dulu. Tadi 'kan pas bangun, Savan belum minum. Takutnya nanti dehidrasi, Bunda gak ingin itu terjadi. Ini, minum dulu ya." Sahut Liyan yang tidak ingin anak dan ayah salah beranggapan.


"Ya, sayang. Yang dikatakan Bunda, itu benar. Paman Adit lagi ada kesibukan. Jadi, Savan sama Bunda dan Ayah. Dah, diminum dulu. Tuh lihat, kapalnya besar-besar, 'kan? nanti kalau udah di kota tinggal bareng sama ayah dan bunda, gak cuman naik kapal besar itu. Tapi, Ayah akan mengajak Savan sama Bunda naik pesawat, gimana? Savan mau, 'kan?"


"Naik pesawat. Ayah gak bohong, 'kan?"


Vando mengangguk, yakni tanda mengiyakan.


"Hore.... Asik.... Savan mau diajak naik pesawat sama Ayah. Bunda, Bunda, Bunda ikut 'kan?"


Liyan tersenyum dan mengiyakan.


Sorak sorai oleh Savan, benar-benar bahagia dengan wajah polosnya. Bagaimana tidak girang dan bahagia, Savan sendiri belum pernah naik pesawat, tentunya sangat bahagia kabar itu. Vando langsung mencium kedua pipinya Savan secara bergantian.


"Gimana kalau kita foto momen kita ini, mau ya?"


"Iya, Ayah. Kita 'kan keluarga. Ada Ayah sama Bunda." Jawab Savan dengan raut wajah yang menggemaskan.


Dengan meminta bantuan orang di sekitarnya, Vando bersama Liyan dan juga Savan, mereka berfoto bersama. Tidak disadari oleh keduanya maupun Savan, diam-diam Aditya memperhatikan keceriaan mereka. Sakit hati, cemburu, iri, itu sudah pasti tengah dirasakannya.


'Entah mau sampai kapan, aku dan perasaanku akan selalu seperti ini. Mungkinkah karena aku terlalu mengharapkannya, dan mencintainya, tanpa aku sadari jika diriku ini terlalu dalam memiliki rasa padanya. Haruskah aku menyerah? haruskah aku pergi jauh, dan tidak lagi menampakkan diriku ini di hadapan mereka. Tapi, perasaanku begitu besar, sampai aku sendiri tidak tahu bagaimana caranya menghapus rasa ini. Liyan, Savan, kalian adalah bagian dari ingatanku. Aku menemukan keluarga dari kalian, namun aku tidak tahu bagaimana caranya memiliki kalian.' Batin Aditya menahan rasa sesaknya di dadanya.


Tidak mampu jika harus melihat kebahagiaan orang lain yang diharapkan adalah kebahagiaannya, tapi ternyata semua hanyalah semu. Tidak terasa terhanyut dalam kesedihannya, kapal pun sudah menyandar di dermaga pelabuhan.

__ADS_1


Menjadi akhir perpisahan, yakni kapal besar yang menjadi saksinya. Aditya menarik napasnya dalam-dalam, dan membuangnya dengan pelan. Kemudian, ia segera menghubungi orang kepercayaan dari keluarga yang berada di kota. Setelah itu, Aditya bergegas turun dari kapal dengan berjalan kaki. Sedangkan Vando bersama Liyan dan Savan, mereka sudah siap untuk melakukan perjalanan.


Aditya yang tengah menunggu jemputan, ia duduk bersama yang lainnya. Tidak lama kemudian, seorang supir tengah menghampirinya.


"Permisi, Tuan. Maaf, apakah Tuan yang bernama Tuan Aditya Permana? kami dari Kota diminta untuk menjemput Tuan Aditya."


"Benar. Saya Aditya. Apakah kamu supir baru?"


"Iya, Tuan. Saya baru bekerja beberapa bulan ini. Nama Saya Raban, saya diminta untuk menggantikan Pak Yulsan."


"Dimana mobilnya?" tanya Aditya yang begitu cuek.


"Di sana, Tuan. Mari, silakan." Jawabnya sambil menunjukkan arah mobilnya terparkir.


Aditya tidak lagi bicara, ia memilih berjalan menuju parkiran. Sampainya di parkiran, Aditya segera masuk kedalam mobil. Kemudian, mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.


'Sayang sekali tidak ada pak Yulsan. Aku menjadi tidak mempunyai obrolan, terasa garing dan hanya membuatku jenuh.' Batin Aditya merasa tidak ada teman mengobrol.


Merasa jenuh dan tidak ada obrolan, memilih untuk menyibukkan diri dengan ponselnya. Alih-alih untuk membuang kejenuhannya. Sambil menikmati perjalan pulang ke rumah orang tuanya, Aditya membuka memory kenangan bersama Liyan selama berada di rumah Ibu Arum. Kenangan yang begitu indah dan mempunyai kesempatan untuk selalu bersama, meski pada akhirnya berpisah.


Aditya tersenyum saat melihat rekaman video kebersamaan dengan Liyan saat jalan-jalan sudah seperti pasangan suami istri yang dikaruniai sang buah hati.


"Tuan, apakah Tuan lelah? kalau Tuan kecapean, Tuan bisa tidur. Perjalanan masih cukup jauh, Tuan bisa istirahat didalam mobil." Ucap pak supir.


"Terima kasih banyak, Pak. Saya tidak mengantuk, Bapak fokus saja nyetirnya." Jawab Aditya dan langsung mematikan ponselnya.


"Baik, Tuan." Ucap pak supir, dan kembali fokus dengan setirnya.

__ADS_1


Lebih lagi ada majikannya, tentu saja harus berhati-hati dalam mengendarai mobil. Cukup. lama memakan waktu dalam perjalanan menuju rumah kediaman ayahnya, akhirnya sampai juga.


Pak supir segera turun, dan membukakan pintu mobil untuk majikannya.


"Bapak tidak perlu repot-repot melakukannya. Saya bisa melakukannya sendiri. Hanya membuka pintu mobil, ini tidak sulit." Ucap Aditya menolak ketika diperlukan begitu detail.


Aditya sudah terbiasa melakukan segala apapun itu dengan sendirinya. Cukup kuat mentalnya, yakni sudah sejak kecil mendapat didikan yang keras. Bahkan, tidak hanya didikannya saja yang keras, ia kerap sekali mendapat bullyan dari teman-teman sebayanya selama di kampung dari sejak kecil hingga sekolah menengah atas.


Sejak duduk di bangku perkuliahan, Aditya sudah tinggal di kota. Juga, sempat kuliah di luar negri. Namun, pilihannya tetap satu, tinggal di kampung halaman ibunya. Meski harus merahasiakan Identitasnya, juga menyamar sebagai karyawan biasa.


Kini, karena istri kedua ayahnya tidak mempunyai anak, ahli waris tetap jatuh ditangan Aditya. Sekarang ini, Aditya lah pengganti sang ayah.


Lain dengan yang sedang dalam perjalanan pulang juga, Savan bersama kedua orang tuanya tengah mampir di restoran, yakni untuk mengisi perutnya agar tidak sakit. Apa lagi ada anak kecil, tentunya harus teratur dengan jam makan.


Savan benar-benar takjub ketika masuk kedalam restoran. Dari dulu belum pernah merasakan masuk ke restoran, hanya di warung makan yang cukup berkelas.


Entah apa tujuan dari Tuan Boni, benar-benar memberi hukuman yang cukup pahit untuk diterima oleh putrinya. Sedikitpun, Liyan sama sekali tidak menolak. Dengan hati yang lapang, Liyan menerima konsekuensinya.


"Wah, ini tempat apa, Ayah?"


Savan pun takjub melihat disekitarnya, sungguh mewah, pikirnya. Liyan langsung menoleh ke arah putranya.


"Ini namanya Restoran. Tempat untuk mengisi perut yang lapar, bisa juga untuk bersantai, dan lainnya. Gimana, Savan suka?"


"Iya, Ayah. Savan sangat suka tempat ini. Di tempatnya Nenek Arum gak ada, jauh banget. Bunda sama Paman Adit gak pernah ngajak Savan. Soalnya kata Bunda harus hemat, tapi sekarang ada Ayah, dan Bunda pasti gak bilang boros. Soalnya yang bayar 'kan ayah."


Liyan tersenyum lebar ketika mendengar penuturan dari putranya, termasuk Vando yang juga ikutan tersenyum lebar.

__ADS_1


__ADS_2