
Ibu Arum masih menatap kepada Liyan, yang benar-benar terlihat pucat wajahnya.
"Kalau bukan Aditya, lantas siapa orangnya?" tanya ibu Arum kembali menanyakan perihal siapa ayah dari janin yang berada di dalam kandungan.
"Vando, Bu. Lelaki yang tinggal di kota. Ceritanya sangat panjang, apakah Ibu Arum mau mendengarkannya? tapi Liyan malu, Bu."
Ibu Arum langit memeluk Liyan, yakni memberi perhatian kepadanya. Sambil mengusap punggungnya, ibu Arum menarik napasnya dalam-dalam, dan membuangnya dengan pelan, berharap semua ada jalan keluarnya.
"Ceritakan sama Ibu, apa yang menjadi beban hidupmu, Nak. Ibu siap menjadi pengganti orang tuamu, dan membantumu untuk keluar dari masalah yang sedang kamu hadapi sekarang ini. Jangan takut, Ibu akan melindungi kamu. Bagi Ibu, kamu sudah menjadi bagian keluarga Ibu." Ucap Ibu Arum dengan penuh kasih sayang, bicaranya juga sangat bijak untuk didengar.
Liyan bertambah nyaman ketika berada dalam pelukan Ibu Arum. Meski jauh dari ibunya, Liyan mendapat penggantinya.
Setelah sedikit tenang, Liyan mengubah posisi duduknya agar lebih enakan ketika bercerita kepada ibu Arum.
Dari awal bertemu dengan Vando, Liyan tidak ada yang tertinggal untuk menceritakan semuanya kepada ibu Arum. Bahkan, saat menolak perjodohan pun diceritakan, hingga pada akhirnya masalah besar pun menimpa dirinya disaat malam bahagia bagi mengharapkan pernikahan.
Ibu Arum benar-benar sangat terkejut mendengarkan cerita dari awal hingga akhir, sungguh teramat sakit untuk didengar. Ibu Arum langsung memeluknya kembali, mengerti seperti apa perasaannya saat ini. Hancur, kecewa, sakit hati, tidak bersemangat hidup, itu sudah pasti, pikir ibu Arum.
"Kamu yang sabar ya, Nak. Percayalah sama Ibu, semua akan baik-baik saja. Sekarang terpenting, kamu harus menjaga kesehatan kamu. Terutama untuk si jabang bayi, pikiran tenang sangat dibutuhkan. Buanglah pikiran buruk mu itu, kalau hanya akan menyakiti diri kamu sendiri. Kamu sekarang tidak sendirian, ada calon bayi yang sedang membutuhkan perhatian darimu. Jadi, fokus lah dengan tujuan kamu. Juga, kamu tidak perlu menghiraukan omongan orang, fokus saja pada diri kamu dan calon anakmu." Ucap Ibu Arum memberi nasehat nasehat kecil pada Liyan.
Ada rasa sedikit lega ketika beban sudah tercurahkan, Liyan ada penyemangat hidup, meski sosok ibu Arum. Tidak terasa waktunya pun telah sore, Ibu Arum harus melakukan aktivitasnya di dapur, yakni untuk menyiapkan makan malam. Jadi, ketika Yena dan Aditya pulang dari kerja, semua bahan makanan sudah siap untuk dimasak.
"Sudah sore, Ibu mau masak. Nanti kita lanjut lagi ngobrolnya. Pesan ibu, jaga diri kamu baik-baik, pola makan yang baik, jangan dibuat beban. Kamu tidak perlu takut ataupun khawatir, ada Ibu, Yena, dan Aditya. Ya udah ya, kamu istirahat saja, biar ibu yang ada di dapur. Kondisi kamu masih lemah, jangan melakukan pekerjaan. Istirahat saja, itu sudah lebih baik." Ucap ibu Arum mengingatkan.
Liyan sendiri merasa tidak enak hati ketika harus beristirahat, pikirnya. Namun memang benar, bahwa Kondisi fisiknya sedang drop.
"Makasih banyak ya, Bu. Maafkan Liyan yang sudah banyak merepotkan. Padahal Liyan baru saja kerja mau satu bulan, tapi sudah ada cobaan." Jawab Liyan dengan lesu.
__ADS_1
"Jangan bicara seperti itu, tidak baik. Namanya masalah, musibah, atau kesibukan, kita tidak bisa menebaknya. Jadi, jalani saja sebagaimana air itu mengalir. Jangan egois, tapi berpikirlah yang positif." Ucap ibu Arum memberi nasehat kecil untuk Liyan, yakni agar tidak pesimis saat menghadapi masalah, pikirnya.
Liyan yang sedari tadi mendapat nasehat dari ibu Arum, rasanya pun lega. Benar yang dikatakan ibu Arum, pikir Liyan setelah mencerna di setiap kalimat yang ia tangkap dari Ibu Arum sendiri.
Karena tidak diizinkan membantu pekerjaan dapur, Liyan memilih istirahat, yakni agar badannya sedikit terasa enakan.
Berbeda dengan Aditya dan Yena, keduanya tengah bersiap-siap untuk pulang ke rumah.
Di perjalanan saat mau menuju parkiran, tiba-tiba Yena teringat dengan Liyan yang pingsan dan dilarikan ke puskesmas terdekat.
"Dit, tadi 'kan, kamu belum cerita. Kalau boleh tahu, Liyan sakit apa? kok tadi panggil suami. Memangnya sakit serius kah?"
Akhirnya Yena yang tengah menyimpan rasa penasaran, ia langsung bertanya kepada Aditya.
Adit sendiri yang mendapat pertanyaan, pun diam. Bingung untuk menceritakannya itu sudah pasti, lebih lagi soal kepribadian, tentu saja takut menjadi bahan pembicaraan.
"Kok diam sih. Tadi ibu Bidan ngomong apa, Dit? malah bengong gitu kamunya. Awas loh ya, kalau sampai terjadi sesuatu pada Liyan, dan kamu gak mau jujur, aku gak mau punya saudara seperti mu."
"Hem. Kek sama siapa saja. Memangnya selama ini kamu gak percaya sama aku, gitu kah?"
"Bukan begitu maksudnya, tapi ini ke hal yang lebih privasi. Jadi, aku minta sama kamu untuk tidak jadi ember. Ya minimal jadi lakban."
"Ya deh ya, buruan."
"Tidak di sini, ntar kalau udah dapet setengah perjalanan, kita berhenti ditengah-tengah sawah, gimana?"
"Ya deh, nurut aja sama kamu. Tapi janji, jangan bohong."
__ADS_1
"Iya, cerewet. Sudah lah, ayo kita pulang." Ajak Aditya untuk pulang.
Setelah itu, keduanya pulang dengan mengendarai motornya masing-masing. Sampai ditengah perjalanan, Aditya dan Yena berhenti sesuai janji.
"Duduk di mana kitanya?" tanya Yena sambil celingukan mencari tempat yang kiranya tidak menjadi pusat perhatian.
"Itu, di bawah pohon." Jawab Aditya sambil menunjuk ke arah yang dimaksudkan.
Yena mengangguk. Kemudian, keduanya duduk dibawah pohon.
"Buruan cerita, jangan pakai lama, soalnya aku harus bantuin ibu masak. Kasihan Liyan, soalnya dia lagi sakit. Mana orangnya gak enakan lagi, buruan ceritain." Ucap Yena yang sudah tidak sabar.
Aditya yang sudah janji untuk menceritakannya kepada Yena, pun akhirnya menceritakan kebenarannya.
Dengan fokus, Yena siap mendengarkannya.
"Liyan hamil." Ucap Aditya dengan serius.
Yena langsung melotot, kaget sudah pasti.
"Apa! Liyan hamil? sama kamu?"
CTAK!
"Aw! sakit, tau." Pekik Yena saat keningnya mendapat sentil dari Aditya.
"Enak aja sama aku. Otakku masih waras, paham. Hanya itu yang aku tahu dari pemeriksaan ibu Bidan. Jadi, jangan berprasangka buruk terhadap ku. Usia kehamilannya saja sudah lima minggu. Sedangkan dia aja di tempat kita baru berapa minggu, belum ada lima minggu jugaan, iya, 'kan?"
__ADS_1
"Apa mungkin di asingkan oleh keluarganya karena sudah itu, a-nu."
"Bisa jadi, mungkin memang benar prasangka kamu itu. Makanya, dia diasingkan oleh keluarganya. Tapi ya kejam juga kalau sampai orang tuanya memperlakukannya seperti itu. Entah lah, semoga ada cerita lain, yang pasti tidak menyudutkan dirinya." Ucap Aditya yang sebenarnya menyimpan tanda tanya dengan sosok Yena, mana dirinya menyimpan rasa, tentu saja hatinya begitu sakit ketika mendapati kebenaran.